Pesona Bromo

ImagePergantian tahun 2011-2012 ingin saya habiskan di tempat yang istimewa. Pilihan perjalanan kali ini  jatuh pada kawasan Jawa Timur. Saya dan keempat teman yang lain berkumpul di stasiun kereta Bandung. Kami duduk manis di kereta api Malabar jurusan Bandung-Malang, selama hampir 16 jam. Kelas eksekutif yang dipesan membuat nyaman saya beristirahat. Dinginnya AC terbungkam oleh hangatnya selimut hijau milik PT.KA sebanding dengan harga Rp 300.000,00 yang kami bayar per kursi di hari libur ini.

 Hujan menyambut kami pukul 8 pagi ketika kami menginjakkan kaki di kota Apel. Kami menyantap nasi rawon yang hangat sambil menunggu supir angkot carteran menuju Sendang Biru. Pak Teguh menyapa kami dengan ramah setelah terlambat satu jam. Angkot meluncur ke arah selatan Malang selama hampir dua jam. Setibanya di Sendang Biru, kami mendaftarkan diri kami untuk berkemah di Pulau Sempu. Pulau Sempu hanya berjarak 15 menit menggunakan kapal nelayan.

Image

Tiba di Pulau Sempu, remaja lokal memperingatkan saya agar tidak hiking di sana karna medan yang licin dan berkarang sedangkan saya tidak menggunakan alas kaki. Sepatu kanvas yang terlalu licin juga sendal karet yang saya bawa tidak cocok dengan medan Pulau Sempu yang becek karna hujan. Tiga jam hiking menguras tenaga serta menyayat telapak kaki di bawah air hujan di hutan tropis itu terbayar saat kami sampai di Segara Anak. Lokasi perkemahan yang sudah kami nantikan untuk beristirahat.

Dengan cekatan karena berlomba dengan sisa cahaya sore itu, kami mendirikan tenda dan membersihkan diri di pantai. Hujan turun dengan lebat, membuat pemilik tenda kawatir akan kekuatan tendanya. Malam itu, kami makan perbekalan mie instan dan roti serta  baso. Sekitar jam 2 subuh, hujan reda dan bintang-bintang berjejer menghiasi langit yang mendung. Remaja lokal yang juga menginap mempergunakan waktu-waktu itu dengan bermain bola di pantai. Sekitar jam tiga subuh, suara guruh terdengar, ombak bergulung-gulung, hujan semakin deras, angin sangat kencang hampir menerbangkan tenda kami. Tak ada pilihan lain kecuali berdiam di dalam tenda hingga pagi menjelang. Pulau tak berpenghuni ini merupakan konservasi alam didiami oleh ular sanca,macan,monyet serta hewan liar lainnya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Image

Saat matahari terbit,  kami menikmati alam di sana  dan membereskan tenda sebelum bersiap hiking pulang. Di perjalanan pulang membuat kami jatuh bangun, beberapa barang yang tidak perlu harus ditinggal untuk memudahkan hiking. Sesampainya di Sendang Biru kami membersihkan diri dan minum dawet dilanjutkan ke penginapan di kota Malang.

Selepas membersihkan diri, kami pun berangkat mengunjungi toko Oen yang melegenda. Harga yang relatif mahal tidak sebanding dengan rasa dan porsi yang kami dapat. Kami menyusuri jalan itu dan masuk ke salah satu pusat perbelanjaan dan mencari sepatu untuk dipakai ke Bromo. Dengan menenteng sepatu baru dan kaki yang berbalut plester, kami memutari kota Malang dengan menggunakan len (angkot) seharga Rp 2.500,00.

Mobil trooper pinjaman menjemput kami pukul 1 subuh, untuk menuju Bromo. Demi mencari sunrise dan sudut foto terbaik, kami rela tidur di mobil. Setibanya di sana, ami dihentikan oleh warga lokal yang memaksa kami memakai jeepnya. Rasa dingin menyambut kedatangan kami, tiada sesal walau tidak melihat sunrise. Pemandangan yang selama ini hanya dapat dinikmati di layar televisi atau selembar kalender sekarang ada di depan mata.

ImagePara pedagang berlomba mencari untung dari turis yang sedang menyeruput  segelas teh manis panas cap Naga rasa vanilla. Kami pun  bergegas ke area padang pasir, setelah membeli oleh-oleh bunga edelweiss. joki-joki kuda menghampiri kami dan menawarkan jasanya. Saya dan kawan yang hobi naik gunung memutuskan untuk berjalan kaki sampai kawah Bromo. Joki kuda yang semula menawarkan jasanya seharga Rp100.000,00 getir melihat semangat kami berjalan. Potongan setengah harga diberikan saat kami sudah setengah berjalan. Lalu dia memelas dengan menawarkan harga Rp 25.000,00 pulang pergi… Dengan berat hati kami tolak, karna kami ingin menapakkan jejak kaki kami di sana.

Teringat cerita masyarakat Tengger yang memberi korban pada gunung Bromo, sepenggal cerita nusantara yang diberitahu oleh guru di sekolah dasar. Kawah yang masih aktif ini terlihat indah juga menyeramkan dari dekat karena sangat landai dan ketiadaan pagar pengaman. Di samping hamparan padang pasir,Bromo pun punya savana padang rumput yang sangat indah dan memanjakan mata. Matahari yang terik tidak menghalangi kami menikmati keindahan alam yang ada, sampai akhirnya saya menyadari bagian dahi saya panas terbakar matahari. Puas dengan Bromo, kami melancong ke coban (air terjun) Pelangi  setinggi 50 meter juga mengunjungi Candi Jago yang merupakan pemakaman Raja Singosari ke 4. Untuk mengisi tenaga, kami pun memulai pencarian kuliner. Nasi soto, kupang lontong (lontong dengan kerang kecil berkuah gurih) serta seafood favorit. Perut penuh, hati senang, kaki pegal membuat malam ini kami tertidur pulas. Image

Keesokan harinya, dimulai dari mencicipi durian depan penginapan, kami menyambangi Candi Singosari dan arca Dwaparala serta pemandian Ken Dedes. Di jam makan siang kami meluncur ke Warung Inggil, warung jadul ini menyuguhkan masakan  Indonesia tempo dulu bukan hanya interior ruangannya tapi juga menyediakan mini museum di sana. Musik gamelan mengiringi makan siang kami kali ini. Rasa yang enak, harga yang pas membuat kami puas.

Tak lupa kami menengok toko suvenir di depan warung inggil, kami membeli topi blacu yang cocok saat kami gunakan di Museum Brawijaya yang akan kami datangi. Museum bertarif Rp 2.500,00 ini menyimpan koleksi sejarah militer. Panglima Besara Soedirman berdiri tegak dan berkata “lanjutkan perjuanganmu” membuat kami bersyukur hidup di era kemerdekaan ini. Image

Hari terakhir di tahun 2011 ini,  kami habiskan di rumah sanak saudara teman memasak barbeque dan menonton kembang api. Hari pertama di tahun 2012, bermodalkan sarapan pecel, kami menaiki motor dan menyusuri Malang sampai ke Batu. Banyak tempat menarik yang ditawarkan di kota wisata ini. Secret Zoo, Batu Night, Jatim Park dipadati pengunjung. Kami melewati Senggoriti dan berhenti di Payung. Banyak kafe pinggir jalan di sana seperti di kawasan Puncak, Jakarta atau Lembang,Bandung. Kami disuguhi pemandangan kota Malang dari atas bukit ditemani roti bakar dan jus apel.

Hujan kembali membasahi bumi, kami berteduh di Batu Town Square mall yang baru diresmikan. Di sana kami mencicipi keripik buah seperti apel, buah naga dan nangka. Petualangan yang penuh tantangan ini ditutup dengan kedinginan di motor dan tersesat sebelum sampai ke stasiun Malang.  Perjalanan akhir tahun yang menyenangkan dan tak terlupakan akan selalu terkenang dalam memori.

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s