Lombok Island as Another Paradise

Penyebrangan 4 jam di kapal feri dari Pelabuhan Padangbay, Bali mendaratkanku ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Feri yang kami pakai, merupakan feri terbaik yang pernah saya tumpangi. Fasilitas pendingin ruangan dan kamar mandi yang bersih serta bangku yang empuk cukup membuat saya nyaman selama menyebrangi selat Lombok. Setibanya di sana, aku menginap di rumah teman di Mataram. Ujan mengguyur Mataram membuat udara semakin segar. Rasa lapar sehabis perjalanan jauh, membuatku berjalan sekeliling jalan Kartini. Tanpa peta dan panduan yang jelas, aku dan kawanku berjalan menuju kantor gubernur dan bertanya pada polisi setempat.

Restoran 2 Em disarankan sebagai tempat makan ayam taliwang. Ayam kampung yang berasal dari Taliwang ini digemari seluruh masyarakat Lombok. Konon hampir 1500 ekor ayam dipotong setiap harinya. Hidangan ayam taliwang disajikan dengan beberuk (sambal terong) dan kangkung pelecing.

Keesokan harinya kami pergi ke Tanjung An, sebuah lokasi pantai yang sangat menawan. Airnya jernih, lautnya tenang, pemandangan yang menakjubkan memanjakan mata. Tak jauh dari sana, Pantai Kuta menanti kami. Pantai terlihat sepi oleh turis, walaupun air laut terlihat sangat cantik dari 3 warna degradasi biru. Sebaliknya banyak pedagang oleh-oleh dari kaos, gelang, kain tenun, makanan memadati pantai.

Image

Keadaan yang tidak terurus dengan banyaknya pedagang asongan yang memaksa kami membeli barang dagangannya membuat kami tidak nyaman. Selesai makan siang, kami pergi ke Narmada, tempat bersejarah bekas kerajaan Mataram yang sekarang dijadikan tempat wisata kolam renang. Narmada ini juga dijadikan nama merk dagang air mineral di kawasan Lombok, konon di sini juga terdapat mata air.

Dari Narmada, kami pergi ke Pura Suranadi, pura Hindu yang terletak di sebelah taman nasional yang dipenuhi monyet bergelantungan. Di sini terdapat penjual sate bulayak yang terkenal. Kuliner ini hampir sama dengan sate lainnya tapi disajikan dengan lontong yang dibungkus daun nira yang disebut bulayak. Harga yang dipatok Rp 15.000,00 membuat sore kami lebih bertenaga.

Kami melintasi Senggigi, kawasan pantai terkenal di Lombok. Pantainya tenang membuat pengunjung dapat bermain canoe. Peminjaman canoe diberi tarif Rp 10.000,00 (dengan catatan harus menawar) durasi waktu seharian. Mengemudikan canoe sangatlah mudah, Anda duduk di tempat yang disediakan dan meluruskan kaki, sebagai penyeimbang. Dayung ke kiri mengarahkan canoe ke kanan, demikian sebaliknya. Bila ingin lurus, dayunglah kiri kanan.

Kegiatan canoeing ini sangat cocok sambil menunggu sunset. Pedagang jagung bakar dan kelapa muda berjajar menunggu pengunjung membeli dagangannya. Di Senggigi terdapat banyak cafe dan fasilitas toilet, sehingga tidak perlu khawatir kelaparan.

Untuk mengetahui kehidupan perkotaan Mataram, kami menyempatkan diri ke Mataram Mall. Tempat perbelanjaan ini tidak begitu ramai dikunjungi. Teater mini tempat menonton film pun sudah tutup sebulan yang lalu. Sepertinya hiburan masyarakat ini hanyalah pantai.

Keesokan harinya, kami pergi ke Sekotong, daerah pelabuhan dekat Lembar. Dari sini kami menyewa kapal untuk pergi ke Gili (pulau kecil-bahasa Sasak) Nanggu. Penyewaan kapal dikelola oleh koperasi daerah setempat. Tentu saja penawaran dimulai dengan harga yang sangat tinggi yaitu Rp 400.000,00/ kapal yang berisi maksimal 6 orang.

Kami yang hanya berdua, mencoba mendapatkan harga yang paling masuk akal. Butuh sepuluh menit untuk menawar harga, kami Imagemembayar Rp 200.000,00 tanpa asuransi; karna kami pikir asuransi hanyalah ‘formalitas’ untuk mendapat uang lebih dari wisatawan.

Ada dua orang wisatawan yang datang setelah kami, mereka dilarang untuk sharing kapal bersama kami oleh ‘preman’ lokal. Wajarlah tanpa sistem administrasi yang jelas, mereka dapat memberlakukan harga dan aturan semau mereka.

Di kapal saya mendapat pelatihan mengemudikan kapal motor. Belokan ke arah kiri bila Anda ingin mengarahkan kapal ke arah kanan, juga sebaliknya. Bila ingin lurus, Anda harus memastikan kemudi ada dalam keadaan lurus juga.

Dibutuhkan hanya 30 menit untuk menyebrang dari Sekotong ke Gili Nanggu. Masuk ke gili yang luar biasa cantik ini, kami diharuskan untuk membayar uang retribusi sebesar Rp 5.000,00/orang. Pulau ini juga menyediakan fasilitas hotel seharga Rp 250.000,00/kamar. Kegiatan yang diminati di pulau ini adalah snorkeling dan memberi makan ikan dengan roti yang dimasukkan ke botol air mineral bekas, dijual seharga Rp 5.000,00. Belakangan aku tahu, bahwa ikan bisa mengidap kanker bila memakan makanan manusia, jadi aku memilih untuk melihat ikan berenang saja.

Fasilitas pulau ini sangat terbatas, restoran pun hanya ada satu. Mereka tidak memiliki banyak pilihan makanan karena alasan belum pergi ke pasar. Kami pun hanya memilih makanan yang disarankan oleh pramusaji karna hanya dia yang tahu persediaan bahan makanan di dapurnya.

Gili Nanggu yang berpasir empuk ini semakin ramai pengunjung setelah jam makan siang. Kami beranjak dari pulau yang indah ini ke Pulau Kedis. Pulau kosong yang namanya berarti burung dalam bahasa Sasak. Pulau ini dulu merupakan tempat burung-burung singgah, tapi sekarang tidak lagi. Snorkeling di tempat ini lebih memanjakan mata. Sayangnya beberapa wisatawan meninggalkan sampah mereka di pulau ini.

Gili Sudak merupakan destinasi hoping islands kami hari itu. Harga makanan yang ditawarkan lebih murah daripada di Gili Nanggu. Mereka juga menawarkan air tawar untuk dipakai bilas setelah mandi di laut. Air tawar dengan ember kecil diberi harga Rp 2.000,00 sedangkan yang besar diberi harga Rp 3.000,00. Lebih baik mandi dengan air tawar di sini, karna airnya sudah hangat disinari matahari sejak pagi hari.

Ada satu gili lagi yang berada di kawasan ini, bernama Gili Tangkong, karna saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, kami pun kembali ke Sekotong. Menurut warga sekitar, Gili Tangkong hanya ditinggali oleh 2 kepala keluarga saja.

Image
Sesampainya di darat, beberapa pemuda desa sedang bermain bola. Rupanya euforia Euro 2012 sampai ke Sekotong. Tentu saja aku tidak melewatkan bermain bola dengan mereka. Makan malam kali ini, kami mencicip masakan hasil laut yang ada di Pondok Selera. Walaupun tempatnya di pinggir jalan dan murah harganya, rasa sup Tom Yamnya hampir sama dengan sup asli Bangkok di negara asalnya.

Hari ketiga di Lombok, kami pergi melihat Museum Nusa Tenggara Barat yang ada di Mataram. Berbekal Rp 2.000,00 kami dapat menambah pengetahuan tentang sejarah dan hidup keseharian masyarakat yang didominasi oleh suku Sasak ini. Perjalanan lama kami tempuh menuju lembah kaki gunung Rinjani. Kali ini kami melewati Pusu, kawasan yang dipenuhi oleh hutan dan monyet yang dapat kami beri makan di pinggir jalan.

Hampir tengah hari barulah kami sampai di Senaru. Kami memarkirkan kendaraan di depan kantor tur wisata. Di tempat itu, mereka menawarkan paket menuju air terjun Sendang Gile sebesar Rp 100.000,00 per 2 orang. Kami harus menambah Rp 100.000,00 lagi untuk menuju air terjun kedua, Tiu Kelep.

ImageSelesai makan siang, kami check in di Pondok Senaru. Penginapan bertarif Rp 250.000-Rp 600.000,00/malam yang menawarkan pemandangan air terjun Sendang Gile dan Pelabuhan Carik. Loket pembelian tiket air terjun hanya berjarak 2 menit berjalan kaki dari lobby pondok ini. Harga tiket masuk air terjun Rp 5.000,00 tentu saja ada lokal guide yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke air terjun. Dia mematok harga Rp 60.000,00, harga pas, karna sesuai standard. Tapi bukan standardku, jadi kuputuskan untuk tetap berjalan menyusuri anak tangga semen yang telah dibuat oleh pemerintah daerah.

Perjalanan menuruni anak tangga selama 15 menit menyampaikan kami ke Sendang Gile, yang biasa disebut air terjun pertama. Banyak anak sekolah yang sedang berakhir pekan di sini, mandi di air terjun menggunakan seragam sekolah. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka karena hari itu hari kelulusan mereka.

Seorang anak SMA menghampiriku. Langsung kubertanya apakah dia tahu jalan ke air terjun kedua, yaitu Tiu Kelep. Air terjun ini berada tidak jauh dari lokasi air terjun yang pertama, tapi jalan menuju kesana tidaklah semudah yang pertama. Hutan dan sungai harus dilewati sehingga kumemerlukan bantuan guide.

Anak ini langsung mengangguk dan bergegas pamit pada teman-temannya. Bakrie namanya, anak kelas 3 SMA yang suka lintas alam ini mengenal hutan seperti halaman belakang rumahnya sendiri. Dengan cekatan dia berjalan melalui rintangan-rintangan di hutan. Lalu kita tiba di sungai penuh dengan batu, langsung terlintas pengalaman ‘river trekking’ pertamaku. Temanku mundur saat melihat air sungai.

Aku dan Bakrie melanjutkan perjalanan hingga 30 menit ke depan. Akhirnya air terjun yang kami tuju terlihat juga. Sebaiknya datang ke sini di musim kemarau, sehingga tanahnya tidak licin. Perjalanan pulang bisa ditempuh melalui gorong-gorong atau berjalan mengulang jalan pertama. Jumlah anak tangga yang cukup banyak membuatku memilih gorong-gorong sebagai jalan keluar. Gorong-gorong yang dulu dipakai sebagai persembunyian dari penjajah Jepang ini dialiri air deras setinggi pinggang.

Lorong yang gelap membuatku harus tetap memegang setiap senti dari tembok di kiri kanan lorong itu. Terkadang turunan mengagetkanku karna tiba-tiba sepatuku terperosok ke bawah. Setiap beberapa meter, ada lubang cahaya yang membuat semangat kembali muncul. Akhirnya perjalanan lorong gelap berakhir di sebuah tangga sebelum pintu air.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku berjalan melalui hutan yang dipenuhi monyet yang langsung kabur melihat manusia. Temanku yang kelelahan mampir di salah satu warung di ujung jalan. Bu Marwah, namanya. Dia mengenal setiap anak muda yang berhutang rokok padanya.

IMG-20120621-02952
Melihat penampilan kami yang bukan berasal dari Lombok, salah satu pemuda desa bernama Dika menawarkan kami tiket pertunjukkan. Dia adalah seorang petarung peserean (tarung tradisional menggunakan tameng dan senjata dari kayu) yang akan bertarung malam ini. Para peserean muda ini akan bertarung mencari siapa yang terkuat dari antara mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan tari tradisional. Tiket ini dijual ratusan ribu dan tempat yang kami tidak tahu alamatnya. Dia berjanji mengantar kami dengan motor juga kawannya yang berprofesi sebagai tukang ojek.

Menyangsikan kebenaran acara itu, kami pun memutuskan untuk tidak ikut bersamanya. Dika meninggalkan warung dan giliran Bu Marwah serta beberapa pemuda desa lain menceritakan kisah hidupnya. Lucu melihat salah satu pemuda desa yang berusaha mencari rupiah dengan menawarkan jasa transportasi kepada wisatawan asing dengan bahasa inggris seadanya. Dia hanya memberanikan diri berkata-kata walau dia sendiri tidak tahu apakah bahasa inggrisnya benar/tidak. Pemuda yang biasa dipanggil Injuk ini mengaku mempunyai pacar orang Sunda yang suka nongkrong di Pantai Senggigi. Dia juga tidak lupa memamerkan kemampuan bahasa Sundanya kepada kami. Kami tertawa lepas saat dia mengucapkan “Abdi mah goreng patut” (saya tidak tampan-Sunda).

Sementara temanku memilih untuk berdiam di kamar pondok yang dihias seperti kamar putri raja dengan ranjang tinggi dan kelambu, aku memilih berjalan-jalan sekitar Senaru. Ditemani seorang lokal, aku menemukan sebuah mesjid kuno yang tidak berbentuk seperti mesjid tapi lebih seperti rumah tradisional beratapkan alang-alang. Di lokasi ini juga terdapat dua makam penghulu pertama mesjid ini.

Anak kecil yang menjadi ‘tour guide’ kami menawarkan kunjungan ke desa sebelah tapi kami harus mengenakan busana tradisional yang disewakan di sebrang jalan. Toko sebrang jalan ternyata hanya menjual kain tradisional, pemilik toko pun sedang keluar melayat tetangga yang meninggal. Jadi kami mengurungkan niat kami dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Carik.

Dari pelabuhan ini, kami dapat melihat pemandangan Gunung Rinjani yang sangat cantik. Sayang kami tidak dapat menikmatinya dengan jagung bakar/kelapa muda karena tidak ada yang berjualan makanan di sekitar sana. Kami pun meneruskan misi mencari makan malam ke Tanjung. Di sini terkenal sate tanjung, sate ikan yang sudah diblender dengan rempah-rempah sehingga tidak menggunakan bumbu saat disajikan.

Matahari hampir meninggalkan singgasananya, saat kami bertemu dengan ibu penjual sate tanjung. Sate yang dijual seharga Rp 1.000,00 per tusuk ini, ternyata sangat lezat. Tak heran orang Mataram pun mencarinya sampai ke sini. Ibu yang berjualan dari siang hingga magrib ini juga menawarkan pepes ikan berisi sisa bahan sate yang juga membuat saya tidak dapat menolak tawarannya untuk mencicip pepes seharga Rp 1.250,00 ini. Pepes lebih gurih tapi lebih banyak tulang karna daging ikan sudah habis dipakai untuk membuat sate tanjung.

Bermalam di Senaru mengingatkanku akan Bandung, tempat dimana ku tinggal, karna udaranya yang dingin. Berasa di kampung halaman, aku pun tertidur pulas hingga jam 5 subuh. Aku bergegas ke taman berundak yang dipasang berugak (saung) untuk melihat sang surya.

Menyaksikan kedatangan matahari untuk menandai awal hari sangat menakjubkan bagiku. Langit yang gelap perlahan-lahan berubah menjadi sangat terang. Gradasi perubahan warna dari balik bukit sungguh mempesona tidak dapat ditulis dengan kata-kata. Seorang wisatawan asal Belanda, menemaniku sepanjang pagi hingga matahari menyilaukan mata kami dan petugas hotel menanyakan menu sarapan kami.

Berbagai topik keseharian kami bandingkan antara kehidupan Indonesia dengan Belanda. Dia takjub akan kesemerawutan administrasi dan hukum di negara republik ini, tapi di sisi lain dia sangat mengagumi keindahan alamnya. Dia bercerita di negaranya yang sangat tertib dan punya standard hidup yang tinggi serta jaminan kesehatan serta hari tua dari pemerintah membuat dia betah tinggal di sana. Dia mempromosikan gaya hidup sehat untuk dapat tetap travelling di hari tua. Percakapan yang menyenangkan itu ditutup dengan pancake dan secangkir teh dan kopi.

Aku dan temanku meninggalkan Senaru dan menuju Bangsal, pelabuhan menuju Gili Trawangan, Meno dan Air. Kami harus tiba di Bangsal pukul 10 sehingga kami dapat menggunakan kapal publik bertarif Rp 10.000,00, bila kehabisan kapal, kami harus mencarter kapal seharga Rp 400.000,00. Kami melewatkan desa Segenter, desa lokal yang menawakan arsitektur kuno demi mengejar kapal menuju Trawangan.

Sesampainya di parkiran Bangsal, calo cidomo (delman) menghampiri kami, mereka menawarkan harga Rp 20.000,00-Rp 30.000,00 untuk satu cidomo yang berkapasitas 5 orang ini. Kami menawar separuh harga dan naiklah kami di cidomo, ternyata perjalanan dari pelataran parkir ke pelabuhan hanyalah 3 menit dari cidomo. Setelah kubayar dengan harga yang pertama kami sepakati, kusir cidomo meminta uang tambahan lagi. Dengan kesal aku meninggalkan cidomo karna dia tidak menepati perjanjian awal.

Di Bangsal, lebih banyak calo lagi. Aku masuk ke tiket lokasi dengan waswas membeli tiket dan meyakinkan diriku bahwa aku berurusan dengan petugas yang benar dan bukan calo. Tiket menuju Trawangan seharga Rp 10.000,00 karna lokasinya yang paling ujung. Gili Meno yang berada di tengah diberi tarif Rp 9.000,00 sedangkan Gili Air hanya Rp 8.000,00. Untuk menuju tiga gili wisatawan harus mencarter kapal, kali ini kami hanya penasaran menuju Gili Trawangan, jadi kami melewatkan Gili Meno dan Air.

Penyebrangan selama 30 menit ini membuatku berkenalan dengan orang lokal yang memiliki homestay di Trawangan. Homestaynya Imagemenawarkan penginapan tanpa/dengan AC juga peralatan snorkel dan sepeda untuk berkeliling pulau. Setibanya di Trawangan, petugas berseragam memberhentikan kami dengan alasan pendataan. Mereka meminta kartu identitas, ku mulai curiga apakah mereka akan meminta uang. Tepat dugaanku setelah temanku menulis nama dan nomer ktp nya dia meminta uang retribusi, padahal petugas pelabuhan Bangsal berjanji tidak akan ada lagi pungutan di Gili Trawangan.

Rasa jengkel memenuhiku kuputuskan berjalan-jalan dan meninggalkan bapa berseragam yang sudah mencak-mencak dan mengancam kalo terjadi apa-apa tidaklah mungkin petugas pelabuhan datang untuk membantu. Temanku sebenarnya hanya dimintai uang Rp 1.000,00 (tentu saja aku tidak tahu, dan terlampau kesal dengan banyaknya calo yang ketemui yang meminta rupiah kepada wisatawan). Memerah mukaku karna malu setelah temanku menyampaikan kebingungannya bertanya kenapa aku marah untuk uang seribu rupiah.

Seandainya tidak ada banyak calo semakin menyenangkan perjalanan ini, karena tidak harus otot-ototan menawar dengan harga yang masuk akal. Lepas dari semua itu, Gili Trawangan merupakan surga! Airnya yang jernih, gradasi warna yang luar biasa, cafe-cafe nan cantik, udara yang segar membuyarkan kepenatan. Fasilitas jalan tanah yang belum beraspal tidak mempengaruhi hotel-hotel butik berdiri tegak. Hampir di setiap hotel sepanjang pantai mempunyai kolam renang untuk para wisatawan belajar menyelam. Pilihan yang sangat menggoda, tapi waktuku hanyalah sampai jam3 sore untuk pulang menggunakan kapal publik.

Sengatan matahari tengah hari membuat kami menghampiri penjual gelato. Pemandangan pantai yang memanjakan mata serta semilir angin pantai juga kenyamanan kursi kayu membuat kami tidak ingin beranjak. Cidomo berlalu-lalang mengantar wisatawan menuju hotel ataupun berjalan-jalan mengelilingi pulau. Awalnya kami ingin menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau, tapi jalan yang penuh lubang serta ancaman cidomo yang sudah memakan seluruh jalan yang ada membuat kami membuang ide bersepeda.

Seorang ibu beranak tiga menawarkan berbagi kapal untuk mengelilingi ketiga gili. Dengan antusias kami terima undangan itu, walau harus kami rela menolaknya saat mengetahui bahwa kapal itu baru akan menjemput kami jam 3 sore. Kami pun kembali bertemu dengan bule Prancis yang kami temui di hari pertama di Lombok. Mereka terlihat sangat senang menyelam di setiap gili, mereka mengambil paket menyelam setiap harinya.

ImageAku pun tertantang melakukannya di kemudian hari. Setelah menemukan restoran tepi pantai dekat penampungan kura-kura, kami menyantap pasta makan siang hari itu. Saung kecil depan restoran menghadap pantai membuat temanku senang berdiam diri di sana saat aku menjelajah dunia ikan dengan peralatan snorkel. Banyak ikan yang kutemui dan bahkan ular laut yang berjalan menyembunyikan dirinya diantara karang. Arus air yang cukup deras membuatku sedikit pusing dan menyudahi aktivitas air hari itu.

Restoran yang kami pilih, menyediakan shower itu ternyata menyewakan kamar. Sungguh lengkap fasilitasnya dengan harga makanan yang terjangkau. Tepat dengan nama restorannya ‘Genius’, satu tempat untuk segala kebutuhan. Kami pun berjalan menuju pelabuhan dan membeli tiket pulang. Kali ini kami memilih 5 menit berjalan kaki menuju pelataran parkir. Mobil sewaan menuju Mataram, sementara aku tertidur. Sebelum sampai di ibukota Nusa Tenggara Barat, kami mampir di Malimbu, spot nongkrong pinggir jalan yang menawarkan pemandangan Gili Trawangan, Meno dan Air juga Pantai Senggigi ditemani dengan jagung bakar, kelapa muda dan ikan bakar.

Sampai Mataram kami mengunjungi Pura Taman Meruya, ada kolam besar di tengah taman, pepohonan rindang menyambut kami masuk ke pelataran pura. Sekelompok umat Hindu sedang menjalankan ibadahnya di sore yang cerah. Harum bunga dan dupa menyapa kami saat kami berjalan berkeliling. Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Meru di seberang jalan, tidak ada orang selain kami berdua. Petugas pura tua memberikan kami sepotong kain tanda suci memasuki pura. Pura yang eksotis ini tidak banyak dikunjungi wisatawan, jadi petugas pura meminta sumbangan wajib saat kami datang.

Selesai melihat-lihat pura, kami berkeliling Mataram melihat tempat nongkrong anak lokal di Udayana dan taman kota. Kami menuju Ampenan, kota tua untuk makan malam. Temanku yang sudah bosan dengan makanan lokal pelecing serta ayam taliwang memilih mie jakarta sebagai hidangan penutup di Lombok. Aku sendiri berjalan-jalan sekitar Ampenan dan menemukan penjual kebab Libanon dan menghadiahi diriku kebab dan roti maryam serta teh tarik sebagai makan malam. Penjualnya bercerita dia baru saja pulang dari liburan Jawa Bali setelah menebak kota asalku.

Malam terakhir di Lombok membuat kami sadar betapa waktu sangat cepat berlalu. Kami memasukkan semua barang ke tas dan bergegas tidur walau akhirnya kami terjaga hingga tengah malam mendiskusikan perjalanan kami. Keesokan harinya, ibu dan kakak teman yang kami tumpangi rumahnya, mengantarkan aku ke Teluk Kodek tempat kapal cepat menjemput kami dan menyebrangkan kami ke Bali.

Sebelum ke Teluk Kodek, kakak temanku memberikan nasi campur untuk sarapan kami. Dia menunjukkan lokasi-lokasi wisata yang kami lewati dan berjanji mengantar kami ke sana, bila kami mengunjungi pulau ini lagi. Kami melewati Ampenan, pelabuhan tua yang sekarang sedang dibangun menjadi pelabuhan internasional bernama Ampenan Harbour yang direncanakan rampung dalam 2 tahun.Sesampainya di teluk, kami berpisah dan melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.

Menurutku, Lombok merupakan destinasi yang juga menarik untuk dikunjungi. Tempatnya yang masih sepi dan juga asri mengalahkan Bali yang sudah dipadati pengunjung. Lain kali aku akan mengunjungi Gili Lawang dan Sulat di Utara Lombok yang konon sangat cantik seperti keindahan Maldives… Juga menaiki Rinjani dan melihat Danau Segara Anak, setelah mengunjungi desa Segenter dan bersosialisasi dengan masyarakat Sembalun.

Duh lupa…. Cerita tentang desa sade, desa tradisional yang ada di arah kita mau pergi ke tanjung An. Diisi sama 80 kepala keluarga, mata pencahariannya nenun. Pas di sana hampir tiap 3 rumah ada yang jual kain tenun, juga gantungan kunci/kalung dari tanduk kerbau. Kerbau bekas persembahan atau pesta, tanduknya diambil dipotong-potong, direndem dan diukir/dibentuk jadi kalung. Bentuk yang paling sering ditemui bentuk tokek yang menyimbolkan keberuntungan.

Sepuh yang tinggal di desa ini masih mengunyah sirih supaya gigi mereka kuat. Bercak merah di tanah menandakan sepuh yang habis mengkonsumsi sirih.

Kami sempat masuk ke rumah tradisionalnya. Atapnya sangat rendah untuk menghangatkan udara di dalam ruangan. Rumah tersebut dibagi menjadi 3 bagian undakan. Pertama halaman, kedua tempat tidur ayah dan ibu, yang terakhir dapur sekaligus kamar gadis, juga tempat melahirkan. Kamar mandi ada di luar diperuntukkan beberapa keluarga yang telah membuat sumur. Ada juga beberapa rumah telah mempunyai ruang MCK sendiri.

Rumah ini menjadi menarik karena lantainya dibuat dari campuran kotoran sapi/kerbau dengan sekam padi, agar menghindari lalat. Lantai dipel menggunakan ramuan yang sama pula.

Nenun adalah pekerjaan dan syarat untuk para gadis dapat menikah. Bila mereka tidak dapat menenun, mereka tidak akan diberi ijin menikah. Ada satu nenek yang sedang memintal kapas menjadi benang menggunakan alat tradisional, seperti yang ada di dongeng putri tidur. Saya sempat mencoba memintal benang, tentu saja tidak bisa. Setelah kapas dipintal menjadi benang, benang dicelup ke cat warna lalu ditenun. Cara menenun hampir sama dengan yang saya pelajari di NTT, hanya coraknya berbeda. Kain tenun dipergunakan untuk upacara adat, mas kawin, keperluan sehari-hari dan oleh-oleh dari NTB.

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s