Bali, Never Ending Story

Pergi ke Bali, merupakan hal yang sangat menyenangkan. Walaupun ini bukan kali pertama, tapi sensasi pergi ke Pulau Dewata ini tetap mengesankan. Penerbangan siang dari Bandung ke Bali tidak terasa. Sejam di udara tidak begitu membosankan, awan-awan berkilauan memantulkan sinar matahari. Udara Bali menyapa kami di Ngurah Rai. Berbagai rombongan berseragam warna kaos tertentu bergerombol di sudut-sudut bandara.

Sebuah keluarga kecil kompak dengan kaus pelangi mereka. Berpuluh-puluh maskapai masuk keluar bandara internasional ini. Wisatawan dari mancanegara berdatangan ke pulau yang kadang tidak dianggap berada di Indonesia. Mereka tahu Bali, tapi tidak tahu Indonesia. Penduduknya yang ramah kepada turis serta tradisinya yang kental membuatku nyaman berkunjung kemari.

Kali ini, aku dan rombongan teman kerja pergi ke sini. Kami dijemput oleh bus travel yang akan mengantar kami selama di Bali. Bus berkapasitas 35 orang ini mengantar kami ke hotel Aroma’s Legian. Salah satu tempat favorit turis asing, yang juga tempat pemboman oleh teroris. Hotel yang juga merangkap apartemen ini dilengkapi oleh kolam renang yang panjang. Tak sabar rasanya berenang di sana.

Segelas air jeruk meredakan dahaga dan sebuah kunci dibagikan ke masing-masing peserta. Kami pun beranjak dari lobby menuju kamar masing-masing. Acara bebas dimulai, sebelum 2 hari ke depan kami harus tetap ada dalam kelompok. Ada yang langsung menyewa motor seharga 50.000, ada yang mencari makan, ada yang bersantai di hotel, sedangkan aku sibuk menghubungi teman.

Image

Senangnya punya teman yang bekerja di Bali, dia dengan antusias menjemputku di hotel dan mengantarku ke Denpasar. Di sana kami mencicip nasi campur babi panggang. Harga Rp 15.000,00 ditukar dengan nasi serta pelecing, sate lilit, daging babi serta jeroan. Kami pun beranjak ke Lembah Pujian. Di sini kami mengunjungi Gereja Bethel Indonesia Rocks. Gedungnya lebih seperti resort daripada gedung gereja kebanyakan. Di depan lobby mereka menyediakan kolam untuk baptisan.

Sesampainya di dalam, interior modern tertata rapi diiringi lagu Hillsongs. Kami pun ikut masuk ke dalam perjamuan kudus. Sebelum pulang, ku sempatkan diri masuk ke toilet yang ternyata bertuliskan prince dan princess sangat spesial. Saat ku masuk mobil temanku, baru kusadar aku telah menghilangkan satu dari sepasang sendalku saat menggantinya dengan sepatu. Sekarang aku seperti Cinderella hanya punya sebelah sendal.

Kami tiba di restoran ayam betutu Gilimanuk, temanku ingin sekali mencicipi ayam ini. Setelah kulihat logo restorannya, ternyata sama seperti yang ada di Bandung. Tidak perlu ke Bali untuk merasakan ayam betutu. Aku memesan es campur yang tidak seperti dalam bayanganku, karna mereka menaruh es batu bukan es serut.

Seusai makan, kami memisahkan diri ke hotel bertemu teman lama yang sedang bekerja di Ubud. Juga teman lainnya yang menginap di Kuta. Sementara temanku meluncur ke Hard Rock Cafe.

Saat jam 12 berdentang, kami masuk kamar dan mengisi tenaga untuk esok hari. Pagi-pagi aku mencoba berenang di kolam panjang nan biru. Kandungan kaporit yang terlalu banyak membuat mataku perih. Aku bergegas sarapan dan masuk bus. Bus kami meluncur ke Tanjung Benoa.

Tempat wisata air, dimana kami menyewa glass bottom boat menuju pulau penangkaran penyu. Tidak terlalu banyak terumbu karang yang dapat kami lihat. Ikan berbondong-bondong mendekati perahu saat temanku mulai melemparkan serpihan roti. Kami pun melihat beberapa paraisailing warna warni menghiasi udara.

Sesampainya kami di pulau ini, kami disambut dengan segerombolan anak SMA Jawa Timur yang berebut ingin berfoto dengan teman ekspariatku. Temanku merasa jengah dengan keadaan itu, memaksa diri untuk tersenyum agar terlihat bagus di kamera. Bukan satwa yang dilihat, ternyata temanku yang Kaukasian ini lebih menarik untuk difoto.

IMG_0172

Semakin banyak yang meminta foto, aku pun mengajaknya ke tempat yang lebih sepi. Salah satu pojok pulau yang tidak dipadati pengunjung. Temanku memilih berjemur dan membaca buku. Aku kembali ke dalam pulau, melihat-lihat burung elang, toucan, kelelawar, penyu dan berfoto bersama teman yang lain.

Kunjungan singkat ini membawa kami kembali ke Tanjung Benoa. Kami memiliki waktu bebas, untuk dipergunakan naik banana boat, parasailing, snorkeling atau kegiatan air lainnya. Awalnya aku dan temanku ingin snorkeling tapi setelah melihat air keruh dari kapal yang kami sewa, kami urungan niat ini.

Aku memilih minum air kelapa plus jeruk yang kemudian diikuti semua teman-teman setelah tahu harganya hanya Rp 3.000,00.  Teman yang lain membeli rujak untuk menambah kesegaran di hari yang panas. Kulihat beberapa penduduk lokal sedang membuat kerajinan dari daun pisang. Aku pun tertarik untuk bergabung. Mereka membuatnya untuk keperluan upacara dan persembahan sehari-hari. Aku menawarkan bantuan dan mereka dengan senang hati mengajarkanku. Tak terasa waktuku habis dan kami harus pergi ke tujuan berikutnya.

Garuda Wisnu Kencana, patung mahakarya Nyoman Nuarte menjadi salah satu objek wisata yang harus dikunjungi di Bali. Patung yang terdiri dari burung garuda yang sedang dinaiki dewa Wisnu ini rencananya akan rampung tahun 2017. Patung ini kelak menjadi patung tertinggi di Indonesia.

Setelah makan di salah satu restoran di sana, kami pun berjalan berkeliling taman luas ini. Kacamata hitam, topi dan tabir surya menjadi perlengkapan wajib memasuki kawasan yang langsung terkena sinar matahari ini. Perjalanan dilanjutkan ke museum dimana Pak Nyoman menampilkan beberapa hasil karyanya. Juga pemutaran video cara pembuatan patung. Museum Pak Nyoman juga ada di Bandung, tepatnya di perumahan Setra Duta.

Di museum, Pak Nyoman berbagi tempat dengan seniman lokal. Ada yang menawarkan jasa lukis wajah, tattoo temporary, kepang rambut dan nail art. Semuanya dibayar secara sukarela. Aku tentu saja ingin mencoba semuanya. Pertama aku mendatangi Mba Sri yang akan mengepang rambutku dan mencat kukuku. Aku memilih warna pink muda sebagai dasar dan dia mulai menggambar jepun (bunga kamboja khas Bali) di jari-jariku. Setelah kuku tanganku cantik, giliran rambutku yang dikepang. Aku dijadikan tontonan orang-orang yang keluar masuk museum yang ingin tahu harga kepangan rambutku. Ingin rasanya kupasang papan “BIAYA SUKARELA”.

IMG_0204Rambutku tampak cantik dikepang lima. Sayang seniman tattoo temporary sedang berlibur, bila tidak aku akan mencobanya juga. Waktu yang terbatas membuatku tidak dapat mencoba lukisan wajah yang selalu ramai dipadati pengunjung. Bus kami meluncur ke Pura Uluwatu.

Sebenarnya aku ingin berjalan kaki menuju pantai-pantai tersembunyi nan eksotis daerah Uluwatu. Tapi karna aku bersama rombongan, aku harus puas berjalan bersama mereka dengan menjaga anak temanku dari gangguan monyet-monyet nakal di pura ini. Temanku yang menggunakan kacamata merasa tidak nyaman dan sedikit takut saat monyet-monyet itu merebut kacamatanya.

Kami berkeliling pura, di tingkat teratas, kami melihat bentangan laut biru, ombak berderu-deru di bawah kaki kami. Sepintas IMG_0222kulihat jalan berpagar menuju ujung tebing Uluwatu yang terlihat sangat indah. Kuajak salah satu teman untuk berjalan bersamaku, sementara yang lain menolak untuk ikut. Kami berjalan dan bertemu beberapa wisatawan asing yang kemudian meninggalkan tempat setibanya kami disana.

Tempat lapang yang ditumbuhi pepohonan juga rumah bagi monyet ini terlihat lebih indah, dimana kami bisa melihat bibir pantai juga keindahan tebing menjulang menopang pura. Matahari menyinari punggung kami, laut biru berkilauan. Ombak yang terhempas menyisakan buih putih yang lembut. Tak ingin rasanya meninggalkan tempat ini, tapi apa daya daripada dicari-cari oleh anggota rombongan yang lain, kami mencari jalan keluar.

Jalan yang kami pilih menghantarkan kami ke gerbang masuk. Aku mengajak temanku melihat toko cenderamata sebelum kami menonton pertunjukkan kecak. Aku membeli sepasang sendal biru payet lengkap dengan bunga kamboja seharga Rp 15.000,00 pengganti sendalku yang hilang tadi malam. Kami juga membeli jepit jepun warna warni seharga Rp 5.000,00. Setelah puas menawar dan berbelanja kami membaurkan diri dengan rombongan kami.

Mereka telah lama menunggu sambil waswas barang mereka akan diambil oleh monyet-monyet. Kami pun bergegas menuju lokasi pertunjukkan. Ku tak sabar menonton tari kecak, tari tradisional tanpa menggunakan instrumen musik. Alunan musik keluar dari nyanyian penari kecak yang berbunyi cak,cak,cak.

IMG_0245

Sekelompok laki-laki bercelana kotak hitam putih memamerkan punggung mereka yang terbakar matahari. Mereka duduk melingkar dan mulai bernyanyi cak,cak,cak. Sesekali mereka mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menggelengkan kepala juga menggerakkan tangan. Lalu datanglah penari lain yang bertindak sebagai Rama, Sinta.

Diceritakan Rama dan Sinta sedang memadu kasih, lalu diganggu oleh Rahwana. Sinta diculik Rahwana, singkat cerita Hanoman, sang monyet putih membantu Rama untuk menolong Sinta. Hanoman yang sempat tertangkap oleh Rahwana dan kawan-kawan dan hampir dibakar hidup-hidup, tapi karna kesaktiannya, dia dapat meloloskan diri. Sinta dan Rama kembali bersama.

Pertunjukkan yang diadakan di luar ruangan ini dipenuhi ratusan wisatawan asing dan lokal yang mengitari ‘pagung’. Para penari menyuguhkan tarian yang cantik diiringi dengan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan.

Kami menutup malam kami di salah satu restoran Jimbaran. Kami disambut oleh penari Bali yang memberikan jepun pada setiap pengunjung. Mereka menjamu kami dengan hasil laut segar seperti ikan, udang dan kerang. Setelah kenyang, kami pun bermain ke pantai yang hanya 4 meter jaraknya dari meja makan kami. Kami berlarian mengejar ombak, sungguh menyenangkan.

Keesokan harinya, matahari menyapa dengan sinar hangatnya. Aku pun menceburkan diri ke kolam untuk meregangkan otot-otot sebelum mandi dan sarapan. Perjalanan yang akan kami tempuh cukup jauh, maka kupastikan kuisi perutku dengan cukup karbohidrat dan protein.

Bus kami meluncur ke kawasan Kintamani, dataran tinggi yang menawarkan pemandangan Gunung dan Danau Batur. Rasa lelah di perjalanan pun terbayar lunas saat kami duduk di beranda restoran menghadap keindahan alam itu. Konon kami dapat menyebrangi danau dan mengunjungi desa Trunyan. Desa itu mempunyai cerita yang sangat memikatku, mereka biasanya mempunyai tradisi membakar jenazah yang diselenggarakan dalam upacara keagamaan, ngaben. Aku penasaran ingin melihat acara itu dan berkunjung ke Trunyan.

IMG_0312

Bli Wayan, tour leader kami membelalakan matanya saat tahu aku ingin pergi ke sana. Dia tidak dapat menjamin keselamatanku bila aku memisahkan diri dari kelompok. Sayang sekali, padahal aku kira aku dapat berkunjung ke sana karna dia punya kenalan di Trunyan. Beliau menjelaskan betapa berbahayanya tempat itu, apalagi aku adalah seorang gadis. Mungkin mereka akan memberhentikan kapal di tengah danau. Atau aku tersesat di hutan dan lainnya.

Perjalanan dilanjutkan ke Pura Besakih, di jalan kami melihat patung bayi besar. Itu dibangun sebagai tanda agar setiap pasangan muda bertanggungjawab akan apa yang mereka lakukan dan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Di kawasan tersebut (konon) angka kehamilan di luar pernikahan sangatlah tinggi.

Hujan rintik-rintik menyambut kami saat kami berada di pelataran parkir pura. Pura terbesar di Bali itu mempunyai daya tarik sendiri karena kami harus mendaki ratusan anak tangga untuk sampai ke puncak. Bila wisatawan tidak mau lelah, tentu jasa ojek dapat dipilih untuk sampai ke pelataran pura. Seperti aturan di pura lainnya, pengunjung wanita yang datang bulan tidak diperkenankan masuk, karna dianggap tidak suci. Selain itu mereka yang bercelana pendek harus mengenakan kain lilit.

Tidak perlu khawatir bosan menunggu kawan yang sedang melihat keindahan Pura Besakih, karena wisata belanja di sekitarnya pun sangat menggoda. Penjual kain, baju, asesoris asal Bali ini sangat ramah. Mereka juga fasih berbicara dengan bahasa asing. Inggris sudah pasti, Mandarin bahkan Perancis pun dikuasai. Dengan iseng aku menawar dengan bahasa Perancis, penjual tersenyum dan semakin terlihat bersahabat. Aku pun berhasil membawa pulang sarung Bali bermotifkan Spongebob kesukaan adikku.

Sepulangnya dari pura, hari sudah sore, beberapa kawan memilih pergi ke pantai. Aku mencari makan malam dan pergi ke mall Discovery, di sana pengunjung mall dapat melihat bentangan pantai dan laut yang luas. Aku berjalan di pertokoan Kuta dan keluar menenteng tas belanja yang besar. Diskon besar-besaran selalu digelar. Kali ini potongan harga bertajuk “mid year sale”, di penghujung tahun mereka akan menggantung spanduk “end year sale”.

Banyak pertokoan di daerah Kuta dan Legian karena merekalah pusat turis berada. Ada beberapa toko yang menulis “garage sale” dan menulis seakan-akan hari itu adalah hari terakhir mereka berjualan. Nyatanya keesokan harinya bahkan seminggu setelahnya mereka tetap berdagang. Bar dan restoran segala macam negara juga ada di sini. Salon dan spa juga memadati wilayah ini.

Hari terakhirku di Bali aku menyusuri kawasan Seminyak. Kutapaki pantai Seminyak, Legian sampai Kuta. Aku yang ingin dikepang dan merasakan pijat Bali berjalan dari jam 7. Banyak wisatawan asing yang memanfaatkan pantai kosong untuk jogging dan berlari. Ada yang hanya ingin menikmati keindahan alam. Aku sendiri, menanti ibu pengepang rambut.

Ibu pengepang rambut ternyata datang jam 9, ujar seorang balawista. Bli Ngurah menguraikan kisahnya menjadi seorang penjaga pantai. Dia yang jatuh cinta akan pantai ini, rela meninggalkan kampung halamannya menuju Kuta untuk menjadi balawista. Tujuh tahun sudah dia mengabiskan hari-hari mengawasi pengunjung pantai dan memastikan tidak ada kecelakaan. Di kala air laut pasang dan ombak tinggi, dia harus berkali-kali memperingatkan peselancar agar lebih berhati-hati. Kesiapan fisik dan pengetahuan tentang pertolongan pertama yang menjadi syarat utama menjadi seorang balawista.

Obrolan dengan Bli Ngurah membuatku ingin mengunjungi kampung halamannya. Pantai Nusa Lembongan yang bersih dan air yang jernih itu ada di sebrang Nusa Penida.
Selesai obrolan pagi, aku merasa lapar
karena belum sarapan. Sang penjaga pantai pun menyarankan aku membeli nasi bungkus Ibu Jawa di sebelah kantornya. Nasi bungkus seharga Rp 5.000,00 ini terdiri dari nasi hangat, mie goreng, lauk (pilihan daging ayam/sapi/ikan) juga sayur tempe lodeh.

Setelah kenyang, aku berjalan lagi dan berpamitan dengan Bli Ngurah. Tak lama kemudian aku ditawari kursi berjemur seharga Rp 50.000,00 per dua jam. Ada juga yang menawarkan jasa pelajaran surfing yang tentu saja kutolak karna dalam 3 jam aku harus berada di airport.

Akhirnya aku bertemu tiga ibu tengah baya yang sedang mengobrol saat kutanya apakah mereka mau mengepang rambutku, mereka bersorak kegirangan. Salah satu ibu langsung membuka harga untuk jasa mengepang rambut. Setelah terjadi kesepakatan, dia pun mulai menjajah kepalaku. Ibu yang lain mulai menyodorkan semua asesoris yang dia punya dan menyuruhku membelinya. Ibu lainnya pergi ke tamu lain saat tahu aku tidak mau dipijat saat dikepang.

Setengah kepangan, hujan rintik-rintik datang. Ibu yang sedang mengepangku panik dia langsung menutupi lapak jualannya dengan terpal. Saat heboh mengemasi kaos dan celana Bali, ada pengunjung lain yang berniat berbelanja. Dia pun kesenangan dan meninggalkanku dengan rambut setengah berkepang setengah lurus. Aku pun protes, “Bu, bagaimana dengan rambutku?”IMG_0188

Ibu penjual gelang yang senang telah dibeli barangnya olehku, mulai mengepang rambutku. Hasilnya agak kacau😦 Rambutku akhirnya rampung dikepang, aku pun ingin mencoba pijatan ala Bali. Aku dipijat oleh ibu lainnya yang baru datang. Memang hasilnya tidak sebagus dari salon, tapi melihat kebersamaan dan keikhlasan membagi rejeki, priceless.

Membuatku ingin berkampanye.Bila berkunjung ke Bali, belilah suvenir dari pedagang lokal di tempat wisata. Bila Anda dapat menawar, mereka akan memberi harga yang sangat terjangkau. Dahulu Pasar Sukowati adalah tempat favorit wisatawan untuk memborong oleh-oleh. Sekarang ini tidak lagi, dikarenakan jarak yang jauh dari pusat keramaian Kuta dan Legian. Di sisi lain, banyak pusat perbelanjaan oleh-oleh di sepanjang jalan menuju bandara yang mematikan perekonomian rakyat kecil. Sama halnya toko waralaba yang buka 24 jam bersaing dengan warung kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s