0 BAHT

Mencari baht di Jakarta di hari libur tidaklah gampang. Aku dan temanku mencari baht ke money changer dekat apartemen, lalu Sarinah terakhir kawasan Jalan Sabang. Dari sekian banyak money changer akhirnya aku menemukan kedai penukar uang mungil yang memenuhi permintaanku. Setelah makan siang di restoran pizza, aku diantar temanku ke bandara Soekarno Hatta terminal 3. Bandara yang baru dibangun itu, sangat mewah dilengkapi pertokoan dan ruang tunggu yang nyaman. Semoga semakin banyak wisatawan yang datang ke tanah air.

Perjalanan kali ini aku dan teman-teman akan mengunjungi negeri Gajah, Thailand. Penerbangan 3,5 jam membuatku lapar dan mencicipi kebab serta teh hangat di atas awan. Setibanya di Suvanarbhumi airport Thailand, aku dijemput kakakku yang sedang berlatih kick boxing di sana. Kakakku yang tinggal di Rangsit, menjemputku di bandara untuk mengantar ke penginapan. Kami memilih Khao San road, tempat backpacker menginap dari seluruh penjuru dunia.

Image

Khao San road hampir mirip dengan Malioboro Yogyakarta, selalu ramai dengan wisatawan dan pedagang baju, makanan, souvenir, cafe dan lainnya. Walau kami tiba di sana jam 9 malam, kakakku dengan antusias mengajak kami berkeliling dan mengenalkan kami dengan kawan-kawannya. Dia lumayan mengenal kawasan ini karna pernah berlatih di sasana kick boxing di daerah ini.

Dia juga mengenal baik pedagang baju yang dia jadikan langganan untuk barangnya dijual lagi di tanah air. Thai boxing sedang menjamur di Jakarta, kakakku salah satu orang yang meraup rupiah dari trend ini. Kios yang menarik adalah kios kepang rambut. Tidak hanya kepang, rasta, juga ada dreadlocks (gimbal). Bila tak punya rambut yang panjang, mereka menyediakan jasa extention menggunakan rambut palsu. Kupilin rambutku dengan benang ungu, seharga 35 baht.

Temanku yang lain mencoba panganan pad thai (mie Thailand) seharga 40 baht. Kios 24 jam berdiri di sela-sela kafe yang juga buka sampai subuh. Wisatawan mancanegara memenuhi jalanan ini, dengan rambut berkepang warna warni berkaoskan gajah, mereka menenteng botol-botol minuman keras. “Negara ini bebas,” ujar kakakku. “Di sini harga minuman keras sangat murah, bahkan obat terlarang pun mudah didapatkan.”

Tattoo artist sangat banyak di tempat ini, mereka menjual keeksotisan huruf Thailand juga mantra-mantra untuk kehidupan. Kerap kali tattoo dijadikan kenangan seumur hidup oleh para wisatawan asing. Menurut kakakku, harga pemasangan tattoo di Bangkok jauh lebih murah daripada di Jakarta.

Saat teman-temanku sudah lelah dan kembali ke hotel. Aku dan kakakku sibuk memilih baju-baju seharga 200 baht. Di tengah kelelahanku menaham kantuk jam 1 subuh, aku mengemil buah segar seharga 20 baht. Melon berwarna kuning keoranyean menyegarkan tenggorokanku. Kakakku menawar barang dan sesekali mengemil gorengan yang dijajakan seharga 10 baht. Dia memperlihatkan serangga yang telah digoreng. Awalnya kuingin mencoba, tapi di saat pedagangnya menyuruhku membeli dalam jumlah yang banyak, aku mengurungkan niat mengunyah ulat, lebah dan serangga lainnya.

Keesokan harinya, orak-orik telur, bacon serta roti panggang tersedia di hadapanku sebagai sarapan juga minuman favoritku teh susu. Kakakku mengajak kami ke area Sukhumvit, tempat perbelanjaan seperti Orchard Road, Singapura. Kami mengunjungi satu tempat terkenal dengan julukan Four Faces Buddha dimana ada patung Buddha yang mempunyai 4 wajah menghadap ke 4 penjuru mata angin. Banyak pengunjung yang datang untuk berdoa dan minta berkat. Pemain musik dan penari tradisional tidak berhenti memeriahkan suasana.

Image
Setelah menyantap makan siang, kami mengunjungi Discovery mall untuk masuk ke Madame Tussaud Museum. Berbagai patung lilin figur terkenal baik lokal (Bangkok) maupun luar negeri ada di sini. Ini menjadi museum favoritku, karna aku bisa melihat, meraba bahkan berfoto dengan mereka. Tokoh politik Mahatma Gandhi hingga Barack Obama ada di sana, Lady Diana dan Aung San Suu Kyi berbagi ruang bersama.

Pengunjung dapat ikut serta memainkan alat peraga yang ada di sana. Contoh bermain piano bersama Beethoven, bermain golf bersama Tiger Woods, berlatih kungfu bersama Bruce Lee, bernyanyi bersama Beyonce dan masih banyak lagi.

Setelah berfoto dengan semua artis Bollywood, Hollywood dan bahkan Doraemon, kami melihat bagaimana cara membuat patung. Sayang kami tidak dapat melihat wajah Madame Tussaud karna sedang dalam perawatan.

Kami melanjutkan perjalanan ke museum art dekat mall. Lalu mencicipi Tom Yam Goong, sup seafood kaya rempah, sebelum kami bertemu teman lainnya di Hotel JW Mariott. Hatiku berdegup memasuki hotel ini, ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu di saat hotel bernama sama dibom oleh teroris di Indonesia. Semoga tidak ada teroris di negara ini.

Tak lama menunggu, kami bertemu dengan teman kami dan teman ayahnya yang merupakan misionaris Amerika. Mereka telah tinggal di Thailand selama 20 tahun. Mereka tergerak akan pemberdayaan wanita di Bangkok. Kami dijamu makan malam ala Mediterania di sebrang jalan Sukhumvit. Chapati yang dihidangkan hampir sama rasanya dengan chapati yang kumakan di restoran India. Roti ini disajikan dengan daging domba panggang yang sedap serta salad sayur yang sangat menggoda selera. Ingin rasanya menambah terus, tapi perutku ada batasnya.

 

Image

Setelah kenyang, kami berjalan kaki menuju jalan Nana. Di sini tempat lokalisasi Bangkok, kami tidak menyangka kami akan mengunjungi tempat ini. Di mana kenyataan pahit harus diderita oleh kebanyakan perempuan di bawah umur untuk bekerja di bar dan melayani pengunjung demi baht. Tak terhitung banyaknya cafe, resto, bar juga hotel yang menyediakan jasa ini. Sesak dadaku saat kutahu, perempuan ini datang dari pelosok Thailand ke Bangkok, mencari rejeki untuk dibawa ke desanya. Mereka bertugas untuk menghidupi dan membiayai keluarga mereka.

Misionaris yang sedang menjadi tour guide kami menyewa sebuah rumah di ujung jalan. Sepi. Tidak seperti hiruk pikuk musik disko di ujung jalan lainnya. Di rumah ini, pasangan misionaris memberi pembekalan pendidikan untuk perempuan yang menginginkan kehidupan baru yang lebih baik. Mereka diberi ketrampilan menjahit, memasak, menggunakan komputer, menyulam, membuat tas dan kerajinan yang kemudian dijual. Beberapa dari mereka disekolahkan. Ada juga yang kabur dan kembali bekerja di cafe tersebut.

Mereka yang kembali ke kehidupan malam, mengaku tergiur akan banyaknya uang yang mereka dapat. Tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapat bila mereka harus bekerja di siang hari. Pasangan misionaris ini dibantu oleh penduduk lokal diberi pelajaran bahasa Thailand dan memberi konseling bagi para gadis. Menanamkan nilai-nilai Kristianitas dan menjalani hidup baru dalam sel grup.

Jam sepuluh malam, kami pamit pulang. Kami berjalan menuju stasiun sky train menuju stasiun bus. Tenggelam dalam kemacetan menuju Khao San road, pikiran kami penuh dengan perenungan masing-masing tentang kisah para gadis di red district. Supir bus menurunkan kami di halte terdekat menuju hotel. Hujan mengguyur kami, Bangkok terlihat sama dengan Jakarta, banyak orang yang tertidur pulas di pinggir toko yang sudah tutup. Mereka menggelar tikar beramai-ramai menghangatkan tubuh yang kedinginan karna hujan. Kami berjalan cukup jauh menuju hotel.

Barulah keesokan harinya kami mengetahui tempat pemberhentian bus yang lebih dekat menuju hotel. Ternyata kami berjalan Imagememutar kemarin malam. Kami naik bus, lalu menuju stasiun kereta dan mengambil arah Sukhumvit. Kereta lengang sepi penumpang, karna hari itu Minggu Paskah jam 8 pagi. Mungkin tidak banyak orang beraktivitas sepagi ini. Kami berjalan menyusuri Sukhumvit mencari gereja yang ditunjukkan oleh pasangan misionaris kemarin malam.

Akhirnya kami menemukan sebuah gereja yang sedang merayakan ibadah Paskah, mereka menjamu semua jemaat mencicipi makanan khas Thailand. Mereka juga menyediakan berbagai minuman segar yang langsung kureguk saat salah satu jemaatnya menawarkan padaku. Panasnya Bangkok terhapuskan saat jus jeruk mengaliri tenggorokkanku. Saat yang tepat mencoba sticky rice (ketan) khas Bangkok yang disajikan dengan daging panggang.

Gereja yang kami kunjungi memakai Bahasa Inggris sehingga kami tidak kesulitan menyanyi dan mendengarkan kotbah. Sebelum beranjak dari gereja, kami bertanya ke beberapa orang jalan menuju stasiun MRT. Hanya beberapa blok, kami pun berjalan kaki. Panas terik membuat keringat kami yang berjatuhan. Saat kaki kami berteriak pegal, sampailah kami di stasiun kereta bawah tanah.

Kami memilih stasiun Catucak. Pasar akbar yang hanya ada di akhir pekan menjadi tujuan kami hari ini. Jajanan seafood goreng menjadi menu kuliner kami. Setelah mengisi perut kami dengan berbagai masakan khas Thailand juga menyiram tenggorokan dengan Thai tea, kami bersemangat berbelanja. Kebanyakan kios telah mematok harga murah, sehingga kami tidak perlu menawar. Kalaupun kami harus menawar, sang penjual langsung menyodorkan kalkulatornya.
Surga belanja, tepat dikatakan demikian. Bukan hanya sandang dan pangan, mereka juga menyediakan banyak barang keperluan rumah tangga lainnya. Panasnya udara membuat kami menghampiri kedai es krim yang disajikan di atas kelapa mungil. Rasa es krim vanilla meleleh di lidah, daging kelapa muda sangat memanjakan gigi kami terbayar seharga 30 baht saja.

Kami pulang membawa banyak belanjaan. Bila ingin menawar dan tidak ingin membeli kemahalan, langsung dikalikan dengan kurs rupiah. Ada beberapa barang yang harganya sangat murah, tapi karna kusalah menghitung kurs, jadi tak kubeli. Sekarang menyesal.

Sekembalinya kami ke Khao San Road, kami bersiap-siap untuk makan malam. Kami mencoba jajanan pasar malam Khao San Road. Hujan besar melanda, kilat menyambar. Kami pun berteduh di sebuah Irish Bar, untuk teman kami yang berkebangsaan Irlandia. Aku memesan jus karna tidak minum minuman beralkohol. Saat pesanan udah di atas meja, kami mengangkat gelas dan toast dikumandangkan. Saat kucoba, jus apel kali ini berasa lain. Temanku yang memesan bir, merasa demikian. Ia heran kenapa birnya sangat manis. Akhirnya kami tahu, minuman kami tertukar karna warnanya serupa.

Sebenarnya kami ingin memilih bar itu karna melihat meja bilyar. Kami ingin bermain bola sodok, tapi setelah tahu mereka yang bermain di sana sedang mengadakan pertandingan siapa yang terhebat, kami menghapus nama kami dari papan waiting list. Setelah hujan reda, kami pulang ke hotel, sementara teman kami menjelajah Khao San Road.

ImageHari ketiga aku dan temanku berencana mengunjungi kuil dan istana serta museum; sedangkan temanku lainnya ingin melihat SeaWorld. Akhirnya kami berpencar. Aku dan temanku cukup sedih saat tahu istana dan kuil-kuil ternama sedang tutup karna ada perayaan peringatan berpulangnya sepupu raja. Pemerintah menutup jalan-jalan untuk kepentingan perhelatan besar ini. Mereka berbaju hitam-hitam berkumpul di lapangan besar depan Istana. Tembakan meriam berkali-kali kudengar, menggetarkan tanah yang kupijak. Berkali-kali kupikir ada gempa, ternyata meriam.

Museum yang akan kami kunjungi pun ternyata tutup di hari Senin. Jadi kami memutar arah menuju China Town menggunakan tuktuk (angkutan umum Bangkok seperti bajaj) setelah melihat upacara perarakan jenazah yang sangat meriah. Saya belajar menggunakan bahasa lokal dengan supir tuktuk. Juga mencoba mengendarai tuktuk. Sesampainya di China Town, saya mencoba durian! Sayang tak ada teman yang juga suka durian😦

Kami mengenyangkan diri di salah satu restoran yang mengingatkan kami akan kawasan King Garden Bandung. Kami berbelanja dan mengunjungi kuil terdekat. Kepanasan di sana, kami pun mulai menawar barang untuk oleh-oleh. Sang penjual memulai percakapan dengan bahasa Inggris memberi kami harga yang tinggi. Saat dia tahu kami dapat bercakap dengan bahasa Mandarin, dia langsung memberi diskon besar.

Kami terus menjelajah mengunjungi kuil demi kuil hingga bertemu satu wisatawan asing yang berbagi tuktuk dengan kami. Kami mengunjungi beberapa kuil dan menanjak ke Golden Mount, kuil yang berada di bukit menawarkan pemandangan kota Bangkok. Lalu, kami berhenti di salah satu taman umum karna tuktuk tertahan di sana, penutupan jalan untuk acara kenegaraan. Kami diperintahkan untuk berdiri saat mobil yang membawa putri raja melewat ke arah kami. Kami pun berjalan ke Khao San road mengantar teman perjalanan baru kami.

Malam itu, kakakku datang dan membawa sekantung penuh belanjaan yang akan dia berikan pada teman-temannya di Bandung. Aku dan temanku berkewarganegaraan Amerika memilih pijat ala Thailand sebelum kami tidur. Sejam pijat sangat menenangkan syaraf dan melemaskan otot kami. 200 baht yang kami bayar pun kami tukar dengan rasa nyaman.

Hari terakhir di Bangkok, kami habiskan berjalan-jalan dengan tuktuk seharga 20 baht menuju ke tempat-tempat wisata yakni kuil-kuil seperti What Pho (sleeping Buddha), Istana dan lainnya asalkan kami berkunjung ke salah satu tempat kerajinan perhiasan. Istana masih saja ditutup karna alasan perayaan kematian sepupu raja. Jadi kami diberi tahu penduduk setempat untuk mengunjungi kuil Standing Buddha, Black Buddha dan Lucky Buddha. Kami datang di hari yang salah, hari Selasa adalah hari libur jadi kuil-kuil tutup. Tempat perhiasan yang dimaksud pun kurang menarik hati.

Kami pulang, check out dan membawa seluruh bawaan kami ke dekat dermaga untuk naik perahu menyusuri sungai Chao Praya. Di dekat dermaga terdapat penjual nasi campur yang sangat enak. Tak lama menunggu setelah membeli tiket perahu, kami masuk ke perahu serta mempersilakan biksu masuk terlebih dahulu. Awalnya aku ingin mempersilakan biksu untuk duduk, ternyata mereka tidak diperkenankan berbicara dengan seorang gadis.

Perjalanan melewati Chao Praya sangat menyesakkan hati, karna aku dapat melihat berbagai kuil yang tidak sempat kukunjungi karena perayaan kerajaan itu. Tak mengherankan seluruh tempat wisata ditutup untuk kepentingan keluarga kerajaan, karna penduduknya sangat memuja raja. Foto-foto raja ada dimana-mana dan ia punya tempat luar biasa di hati rakyatnya.

Sesampainya kami di stasiun kereta, kami membeli tiket menuju airport. Perjalanan 1,5 jam menghantarkan kami ke Suvarnabhumi airport. Bandara megah nan luas dimana kami akan menunggu jam-jam kepulangan kami ke tanah air. Ternyata pesawat kami ditunda, artinya lebih banyak baht yang kami harus habiskan di bandara. Petugas bandara hampir salah mengenaliku sebagai wisatawan lokal yang menyuruhku berbaris di garis lokal bukan internasional.

Salah satu turis asing berbadan tinggi besar memelototiku saat aku berbicara dengan temanku. Dia membutuhkan kursi milikku untuk membetulkan tali sepatunya. Tanpa sepatah kata, mana kutahu apa yang dia mau. Saat dengan sopan kutawarkan bangkuku, dia marah dan berkata “it was too late.” Sangatlah berbeda dengan nenek tua yang kutawari kursi kosong sebelahku, dia tersenyum dan berterima kasih.

Bangkok, 1000 kuil, 1000 cerita suka dan duka. Kudatang lagi untuk melihat keindahan istanamu.

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s