A Hidden Beach, Sawarna

Image

Saat temanmu dari ke Bandung, pantai mana yang mau kamu tunjukkan padanya? Perjalanan saya kali ini untuk menjamu teman yang sedang berkunjung. Dia menyukai pantai dan menjelajah gua, Sawarna adalah tempat yang cocok untuk dinikmati di akhir minggu. Jumat malam kami bertemu dengan 6 teman kami di salah satu food court mall. Kami memasukkan semua perlengkapan kami di mobil dan bersiap berangkat. Perjalanan jauh harus kami tempuh dari Bandung menuju Sukabumi. Sesampainya di Sukabumi kami beristirahat di pom bensin terdekat. Tepat tengah malam, teman-teman mencicip makanan pedagang pinggir jalan, sedangkan saya memilih untuk tidur.  Tiga jam kemudian kami sedikit terguncang-guncang karena jalan yang kami lalui sangatlah berbatu-batu. Ada kalanya kami harus turun dari mobil, berjalan di gelapnya malam di tengah hutan.

Setalah cukup lama kami meniti hutan akhirnya kami melihat pemukiman warga. Lega rasanya melihat rumah-rumah berjejeran karena salah satu dari rumah itu pastilah homestay yang sudah kami pesan. Sampailah kami di sebuah rumah sederhana yang memiliki dua kamar. Kamar yang kami sewa terdiri dari 4 kasur, 1 kamar mandi dan 1 kipas angin. Kamarnya cukup besar dan bersih, dan saya pun meluruskan badan membaringkan diri. Ayam pun berkokok membangunkan saya, saya sadar telah kehilangan momen sunrise. Ah, badan yang masih lelah ini lebih memilih untuk menyantap sarapan daripada melihat matahari terbit.

Di luar kamar ada teras yang diisi dengan televisi dan beberapa kursi bambu. Barulah saya Imagesadari kalau kami menyewa bungalow 2 kamar, di seberang dan sebelah kami pun ada bungalow lainnya. Tadi subuh malam begitu pekat sehingga saya tidak dapat melihat dengan jelas. Seorang ibu menyapa saya sambil memberikan termos air panas. Segelas air jeruk nipis menyegarkan tenggokkan saya. Saat dia menawarkan sarapan saya pun menganggukkan kepala dengan segera. Nasi goreng dan telor dadar menjadi menu kami pagi itu. Setelah kenyang, kami pun bersiap menuju pantai di belakang homestay. Kami harus melalui jembatan kayu dan berjalan sekitar 15 menit menuju pantai.

Di kiri kanan kami banyaklah rumah penduduk yang dijadikan penginapan dan sawah Imageterbentang hijau di mata kami. Pantai  Ciantir  yang memiliki ombak yang cukup besar ini, dapat dipakai untuk berlatih surfing. Boogie board disediakan di dekat warung makanan dan kami dapat meminjamnya gratis. Kami pun tidak menunggu lama untuk bermain air laut, berenang dan berfoto tentu saja. Matahari bersinar terik, air laut yang asin membuat mata saya perih. Saya pun berjalan menjauhi pantai menuju warung untuk menegak air kelapa muda. Duduk di saung bambu sambil melihat langit biru dihiasi awan-awan putih merupakan hal yang menenangkan jiwa.

Setelah lama bertukar cerita dengan teman baru tentang perjalanan-perjalanan kami sebelumnya, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lagoon Pari. Kami berjalan menyusuri pinggir pantai yang dipenuhi karang. Kakiku terasa berdenyut-denyut setiap kali menginjak karang yang tajam dan merasa sangat nyaman menginjak pasir yang hangat. Hujan mulai membasahi kepala kami, kami bergegas berteduh di rumah pohon sedang yang lain menyantap mie instan di sebuah warung. Ombak datang bergulung-gulung di tengah derasnya hujan. Tak lama kemudian hujan berhenti dan perjalanan ke tempat yang paling indah di Sawarna. Lagoon Pari adalah tempat dimana ada dua batu besar terletak di tengah pantai yang dapat dicapai dengan berenang. Dua batu besar ini sayang sekali tidak dapat dipanjat. Saat air sedang surut, kami dapat berjalan di atas batu yang berwarna indah. Tak terelakkan lagi, tiada hal yang dapat dilakukan selain berfoto dan berenang.

Tak terasa waktu makan siang sudah kami lewati, kami berjalan menuju penginapan dan menikmati ayam goreng dan sayur asem. Kami membersihkan diri dan berjalan menuju Goa Lalay. Lalay berarti kelelawar dalam bahasa Sunda. Hujan deras kembali menguyur kami, sempat kami urungkan niat untuk masuk ke gua tersebut. Seorang warga lokal menyarankan kami untuk melepas sepatu karna hanya menyusahkan jalan kami di gua tersebut. Saya berpikir agak lama untuk meninggalkan sepatu saya di sana.

ImageDaun pisang yang kami pakai sebagai payung tidak berarti apa-apa di tengah hujan yang lebat ini. Perlahan-lahan kami memasuki mulut gua yang telah tergenang air selutut saya. Kami masuk lebih dalam dan menyalakan senter yang kami bawa. Bau pengap dan lembab langsung masuk ke hidung. Mata kami membiasakan diri di gua yang dihiasi oleh stalakmit. Sesekali tur guide kami menjelaskan bentuk stalakmit yang menyerupai binatang atau bentuk tertentu. Semakin dalam semakin lembek tanah yang kami pijak, tingkat kesulitan berjalan pun dirasa oleh teman-teman saya. Tak jarang kami harus merangkak dan terjatuh di tanah yang kami pijak. Akhirnya kami tiba di ujung gua yang buntu. Petualangan di dalam gua kelelawar ini harus berakhir dan kami menyusuri gelapnya gua menuju persawahan yang hijau. Hujan masih menguyur, kali ini kami membiarkan diri kami disiram air hujan karena kotornya badan kami dari lumpur yang ada di gua.

Kami berjalan di pematang sawah menuju sungai terdekat untuk membersihkan diri dari ujung rambut ke ujung kaki. Sepatu saya sudah tidak dapat dikenali lagi warna asalnya, sepertinya dia harus ditinggal di sini. L saya tukar dengan sandal jepit bercap Converse yang berharga Rp 15.000 saja. Kami pulang ke penginapan untuk santap malam. Ikan bakar kecap dan sayur serta nasi hangat memenuhi perut saya. Setelah bermain permainan sederhana, saya memutuskan untuk kembali ke Pantai Ciantir untuk menghitung bintang dan menikmati suara gulungan ombak. Langit cerah dan beberapa bintang menghiasi langit malam itu. Di laut, saya memandang lampu-lampu perahu nelayan yang sedang mencari tangkapannya.

Malam semakin larut dan saya memutuskan untuk beristirahat di kasur busa kamar bungalow. Sekitar jam setengah enam, saya bersiap untuk hiking menuju pantai lainnya untuk melihat sunrise. Kali ini kaki saya harus lebih bekerja keras karena sandal jepit yang saya beli tidak membantu saya mengalahkan lumpur dan tajamnya karang. setapak demi setapak saya jalani dengan seorang teman, di tengah jalan kami melihat sinar matahari muncul dari balik bukit, kami bergegas menuju pantai. Sesampainya di pantai, keringat membasahi rambut dan kaos kami. Matahari bersembunyi di balik awan saat kami tiba di pantai. Kami pun memilih untuk beristirahat di sebuah bangku di bawah pohon sebelum bermain di pantai. Satu demi satu teman kami berdatangan.

ImageSelesai beristirahat, kami mencari sebuah warung untuk sarapan. Tentu saja menu yang dihidangkan hanyalah mie instan. Saya tidak mau makan mie instan di tempat penghasil ikan. Jadi saya memutuskan untuk mendekati perahu nelayan dan melihat hasil tangkapan mereka, sambil menawar harga sewa perahu untuk kembali ke Ciantir. Sayang sekali, tidak ada seorang nelayan pun yang mau mengantar kami ke Ciantir karena ombak yang tinggi. Ada satu nelayan yang ramah mengizinkan saya melihat hasil tangkapannya tadi malam. Ada ikan pari hitam, tenggiri yang besar dan ikan-ikan kecil lainnya. Saya pun menawar salah satu ikan dan menunggu ikan tersebut dibakar.

Sarapan ikan bakar di pinggir pantai membuat saya senang dan melupakan sakit di telapak kaki akibat hiking tadi pagi. Kami menyusuri pantai lagi menuju homestay. Saya plester luka di kaki dan mulai membereskan barang, sebelum kami pergi kami menyantap nasi kuning buatan ibu pemilik penginapan. Dia selalu memasak sayur dan lauk pauk yang enak ditambah sambel terasi yang menggoda selera. Akomodasi perjalanan kali ini sangatlah memadai dan setara dengan uang yang dikeluarkan sekitar Rp 400.000,00 all in. Khususnya dua jempol bagi ibu yang memasak buat kami. Perjalanan panjang kami mulai dari jam 12 siang menuju Sukabumi. Pemandangan hutan nan hijau dan laut yang menyegarkan mata menggoreskan kenangan indah di jiwa. Berbagai permainan kata dimainkan di perjalanan yang kami tempuh selama 7 jam ini. Kami pun beristirahat di sebuah restoran di Sukabumi sebelum ke kota tercinta, Bandung namanya.

 

 
Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s