Spiderman Training Day!

Image

Siapa sangka bila di Bandung ada tempat pelatihan untuk menjadi  Spiderman? Seorang teman mengajak kami memanjat tebing. Kami terima tantangannya untuk menemaninya ‘ngabuburit’ dalam bahasa Sunda berarti mengisi waktu luang sambil berbuka puasa. Sabtu pagi yang cerah di suatu hari di bulan puasa 2012, kami berkumpul di depan Rumah Sakit Advent, Cihampelas Bandung.  Delapan orang gadis menanti kedatangan guide perempuan yang Land Rover putih. Guide kami biasa dipanggil Ambu, panggilan Ibu dalam bahasa Sunda. Ia memimpin kami masuk mobil koleksinya dan melaju menuju kawasan Citatah.

Ambu mengambil jalur tol Pasteur dan keluar di Padalarang, dari sana kami mencari jalan menuju Citatah. Tempat ini merupakan tebing bau kapur yang dibeli Setiawan Jodi dan disumbangkan pada Negara. Bila tidak dibeli olehnya, tebing ini pasti habis terkikis sang penambang kapur. Tempat ini dikhususkan untuk para pemanjat tebing. Setibanya di sana kami disambut oleh Kang Nana dan kawannya yang juga pemanjat tebing. Mereka segera menyiapkan perlengkapan memanjat saat Ambu mengeluarkan tas besar isi tali dan pengaman panjat tebing.

Cuaca hari itu sangat terik. Kami pun berkumpul di bawah pohon rindang sambil membuka perbekalan. Ambu memimpin kami peregangan otot-otot sebelum kami memanjat. Beberapa syaraf dan uratku mulai menegang saat lintasan memanjat sudah siap. Temanku sudah siap dan aku di urutan ketiga.

Memanjat tebing tidaklaImageh mudah, ada empat poin yaitu kedua kaki serta kedua tangan yang harus menempel dengan area yang akan dipanjat. Bila salah satu poin mau dirubah posisinya, ketiga titik yang lain harus sanggup menahan berat badan pemanjat. Medan panjatan tidaklah selalu mudah, pemanjat harus pintar mencari celah agar dapat keempat poin dan melanjutkan perjalanan sampai puncak. Tenaga yang dipakai sangatlah banyak terlebih konsentrasi untuk mencari posisi yang tepat untuk pindah ke posisi yang lebih atas. Bila sudah terasa lelah, ujung jari kaki dan tangan mulai gemetar dan tidak sanggup menahan berat badan. Maka pemanjat bisa jatuh, diperlukan catcher yang menangkap pemanjat dengan tali pengaman yang tersambung satu sama lain.

Satu per satu dari temanku mengangkat badan, mencari sela di antara batu-batuan untuk meraih tempat yang lebih atas. Peluh terus turun dari sekujur tubuh kami. Koordinasi tangan kanan, kiri, kaki kanan dan kiri membantu kami terus naik ke atas. Tidak semua berjalan mulus sampai tujuan, banyak yang kelelahan lalu turun lewat tali pengaman. Ada juga yang membentur tebing tajam merobek kulit jari-jari dan menciutkan hati yang lain.

Setelah istirahat makan siang, sebagian dari kami memilih untuk beristirahat dari pengalaman yang melelahkan ini. Ada yang masih mau mencoba menaklukan tebing, tapi tetap gagal. Ambu membuatkan kami es yoghurt bermacam rasa yang sangat segar dinikmati setelah memanjat tebing. Sesekali kami menyoraki temanku yang sedang memanjat dan  berharap mereka bisa sampai di puncak. Petualangan kami yang ditebus dengan uang Rp 60.000,00 tidak selesai di sini, Kang Nana mengajak kami untuk datang ke tempatnya bekerja untuk mencoba panjat dinding.

Kami pun mengiyakan ajakannya.  Jumat sore kami berkumpul kembali di Jalan Sumatera dan menemui Kang Nana. Banyak sekali peminat panjat dinding ini, kami pun mendaftarkan diri untuk mendapat nomor giliran memanjat. Sekelompok anak muda telah memadati lapangan. Mereka begitu antusias memanjat dengan harapan mendapat hadiah utama yaitu uang tunai,handphone dan banyak merchandise dari toko tersebut.Image
Satu demi satu pemanjat mulai beraksi, aku dan teman-teman mencoba memanjat di dinding bagian belakang toko. Banyak pemanjat yang sudah berpengalaman sedang bergelantungan di bidang miring 45 derajat. Melihat mereka, mataku membesar, hatiku ciut untuk mencoba memanjat.

Keminderan itu juga menyergap teman-temanku, mereka hampir mengundurkan diri dari panjat dinding ini. Semakin lama kami menunggu, semakin enggan kami memanjat. Semakin dekat dengan buka puasa, semakin banyak yang melihat pertunjukkan gratis. Duk…duk…duk… Saat berbuka puasa pun tiba, pemuda Bandung menyerbu meja makan yang berisi tajil dan makanan berbuka puasa berupa gorengan.
Setelah buka puasa, sedikit demi sedikit penonton meninggalkan tempat menuju rumah masing-masing.

 

Nama kami pun dipanggil untuk memasang alat pengaman dan memanjat. Giliranku pertama, kuambil ancang-ancang dan segera mengangkat badanku di titian batu-batu palsu. Lebih sulit rasanya memanjat di dinding dimana letak pijakan sudah ditentukan. Kakiku yang pendek, kadang tidak dapat meraihnya. Saat tanganku sudah bergetar, kakiku tidak menginjak tepat di salah satu titik dan swinggg… Aku terjatuh, tali pengamanku berayun jauh dari dinding dan mendaratkanku. Aku memanjat lagi sampai tenagaku habis dan kuputuskan untuk memberikan giliran pada temanku.

Beberapa temanku yang lebih mahir dariku mengambil kertas doorprize yang disediakan di papan panjat. Sang guide yang menjadi pembawa acara malam itu, memberiku sebuah kertas doorprize. Malam itu, kami mencoba olahraga baru dan mendapat sebuah pin merah untuk ikut serta dalam panjat dinding serta merchandise tenjadi toko sesuai kertas doorprize yang kami dapatkan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Pengalaman menjadi spiderman ini membuat kaki dan tangan kami luka dan lebam tapi kami bangga pernah mencobanya. Terima kasih Ambu, Kang Nana dan Eiger😉

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s