Flying Fox di Atas Laut

love


Bahagianya saya tinggal di Indonesia, walau tidak merayakan sebagian besar hari raya, tapi tetap bisa menikmati hari libur nasional. Idul Adha 2012, hanya satu hari libur di akhir weekend. Saya dan teman-teman langsung duduk di depan google dan mencari ide tempat berlibur yang dekat serta menarik untuk dikunjungi. Lebih dari 5 kepala yang mengatur perjalanan membuat kami angkat tangan. Hampir semua destinasi perjalanan yang dilontarkan tidak menghasilkan kata sepakat. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu pantai terpencil di Jawa Barat. Sayangnya kurang persiapan dan informasi tentang wilayah tersebut membuat kami kesulitan untuk pergi ke sana.

Semalam sebelum Idul Adha, saat umat beragama Muslim sedang khusyuk berdoa, kami kasak kusuk merubah jadwal perjalanan. Kami sepakat sepulang kerja kami bertemu di Terminal Cicaheum. Lalu lintas hari itu, sangat padat. Taksi yang kami naiki seperti tidak mau maju secepat argo yang melaju depan mata kami. Salah seorang teman sudah mulai gelisah karena bus yang akan kami tumpangi sudah datang.

Sejam kami bersama supir taksi yang akhirnya mengaku bahwa dia tahu jalan pintas menuju tujuan kami. Terlambat sudah, pa. Bus Budiman jurusan Pangandaran yang akan kami naiki ternyata mogok. Luapan penumpang di stasiun membuat kami panik apakah kami akan mendapatkan armada untuk ke pantai. Tak kehabisan ide, kami pun menumpang bus lain yang menuju arah yang sama. Dengan uang 70.000 sang kondektur berjanji mengantar kami sampai terminal Pangandaran.

Seperti layaknya kendaraan umum lain di Indonesia, mereka memasukkan penumpang sebanyak-banyaknya. Mereka seakan tidak peduli bila penumpang tidak mendapat tempat duduk atau berdiri selama 8 jam. Hujan mengguyur dan jumlah kendaraan yang mengantar pemudik untuk merayakan idul kurban semakin bertambah. Kututup mataku berharap saat kubuka mata nanti, aku sampai di terminal Pangandaran.

Sekitar jam 3 subuh, aku dibangunkan kondektur bus di terminal Pangandaran.

Seorang pengendara becak mengantarkan saya ke Wisma Melati. Sebuah kamar berukuran 4×6 meter dengan satu kamar mandi dihargai 150.000 per malam. Kami tidur beberapa jam dan segera menyapa pagi di pantai yang hanya 5 menit berjalan kaki dari wisma tersebut.
tepi pantai

Pantai yang kosong membuat perasaan kami lega karna kami pikir akan banyak wisatawan yang berlibur di sini. Tak habisnya mata kami memandangi lautan, decak kagum tak pernah habis terucap karena kedamaian yang bisa laut berikan. Menghapus semua lelah yang kami bawa dari Bandung. Air kelapa muda, ikan bakar menjadi santap siang kami. Udara panas bukan masalah bila ada kawan yang siap sedia mengepang rambut dan kami dapat menyerbu warung 24 jam untuk sepotong es stik.

Sore santai kami diisi dengan bersepeda keliling pantai barat hingga timur menyapa turis lain dengan bel sepeda kami. Pangandaran tempat favoritku untuk bersepeda tandem dan makan es podeng yang berharga Rp 5.000,00 saja. Campuran es puter, ketan hitam, potongan roti, pacar cina dan susu kental manis hitam sangat menyegarkan di mulut. Hari itu kami tutup dengan makan malam di restoran dekat wisma dan kembali tidur untuk hiking besok pagi.

Sepagi mungkin aku bangun dan menuju ke pantai. Aku dan kedua temanku bergegas mencari matahari terbit, karena kami harus berada di pantai timur, maka kami memutuskan untuk menyewa sepeda. Belum 5 meter kami memboseh sepeda, rantai ssnorkeling anyone?epeda putus di tengah jalan, seorang bapa tengah baya menghampiri kami yang kebingungan, sementara orang-orang lain hanya menonton kami dari kejauhan. Dia memperbaiki rantai yang lepas dan bergumam menyalahkan pemilik sepeda yang mencoba menipu wisatawan dengan memberi sepeda dengan kondisi yang kurang baik.

Dengan bersedih kami pulang ke wisma dan bersiap untuk pergi ke Pasir Putih. Kami menyewa sebuah perahu nelayan seharga Rp 100.000,00 satu paket dengan tiket masuk cagar alam untuk berlima. Pasir Putih dipenuhi banyak pengunjung. Kami berjalan menjauhi keramaian masuk ke hutan cagar alam. Seorang pemuda menawari kami flying fox di atas laut seharga Rp 20.000,00. Walau peralatan yang dipakai terlihat sangat tua dan sudah karatan, petugas pemasang alat pengaman yang berusia 30an tetap menawarkan apakah kami ingin flying fox tandem (berdua). Melihat temanku yang sedikit tegang karna ini pengalaman pertamanya, aku menganggukan kepala.

Pengalaman flying fox di atas laut ini berbeda sensasinya apalagi bila dinaiki berdua,semakin cepat tanpa terasa sudah sampai di ujung pantai dekat cagar alam.

Teman yang lain menyusul dan bergaya layaknya Spiderman. Kedua teman lain terlihat takut tapi juga gembira. Di cagar alam yang dihuni monyet-monyet liar, ka

flying foxmi melihat satu situs purbakala, pemujaan terhadap salah satu kepercayaan dengan simbol anak lembu. Perjalanan dilanjutkan ke gua-gua alam yang dipenuhi stalaktit yang indah.

Seorang petugas pariwisata, menuturkan peristiwa tsunami yang menyapu Pangandaran tahun 2006 lalu. Dengan suara lirih dia bercerita tentang kerusakan yang terjadi saat tsunami. Ia masih bersyukur, sekalipun banyak yang harta yang hilang, tapi tidak memakan banyak korban jiwa. Dia berandai-andai bila tsunami terjadi di pagi/siang hari semua peserta festival layang-layang dan lomba gambar anak akan menjadi korban tsunami.

Seorang pemuda yang menjemput kami dengan perahunya bercerita di masa perahu dayung, perjalanan menyebrangi laut ini ditempuh dalam waktu setengah hari. Setelah berbelanja di kios lokal yang menjual tas unik bertulisan cumi-cumi Pangandaran, kami menikmati suasana maghrib yang dihiasi dengan kepul

let's go!angan nelayan. Perut lapar menuntun kami berjalan ke rumah makan seafood di pantai timur. Di tengah perjalanan kami, Mas Bambang petugas flying fox menyapa dan menawarkan bantuannya mengantar kami samapai rumah makan. Kebaikan hatinya membuat kami mengundangnya ke makan malam terakhir kami di sana.

Pria beranak satu ini, ternyata penduduk Jakarta yang pindah ke Pangandaran karna kerusuhan Mei 1998. Sebelum berkecimpung di flying fox, kadang dia menawarkan jasa perahu menuju Pasir Putih atau objek wisata yang lain. Dia juga menyewakan rumahnya di masa liburan dan ‘mengungsikan’ keluarganya ke tempat lain. Tak lupa dia memberikan nomernya 08535109809.

niceRestoran yang menyajikan seafood segar ini menyajikan berbagai olahan daging cumi, tumis kangkung dan ikan bakar untuk kami. Nasi hangat, ikan bakar dengan sambal kecap dan cumi goreng tepung membuat kami lupa bahwa kami telah menunggu hidangan ini selama 1 jam. Sebelumkami pulang, saya bertemu dengan rombongan bikers vespa yang berasal dari Bandung. Awalnya kami ingin ikut mereka pulang. Tentu saja ketua rombongan mereka tidak mengizinkan 5 gadis tidak dikenal mengisi bangku penumpang mereka tanpa helm.

Kami tidak kecewa, walau kami harus mencari cara untuk pulang keesokan hari. Keesokan paginya, kami pamit pada pemilik penginapan yang ternyata warga lokal yang dinikahi pria asing yang meninggal saat tsunami menyapu pantai ini. Aku dan temanku berpamitan denganlaut sebelummemanggil becak untuk mengantarkan kami ke terminal.

Langit biru, awan putih dan pohon kelapa mengiringiperjalanan kami. Sepanjang jalan kami mendengarkan kisah hidup bapa penarik becak. Dia yang bersyukur masih punya kesempatan hidup setelah tsunami, memberikan beberapa petuah hidup. Sampailah kami di stasiun yang kosong nan bersih. Aku pun segera membeli air minum dan sarapan batagor serta lontong. Batagor hangat, lontong serta kerupuk membuat perutku kenyang.

Bus Budiman tak lama datang menjemput kami, busnya lebih bersih,besar dan berAC, lebih baik kea

friendship

daannya daripada bus yang kami tumpangi dari Bandung, padahal bus ini harganya hanya Rp 40.000,00. Semoga perjalanannya lancar. Bus berjalan dengan kecepatan sedang, sesekali menepi untuk mengambil penumpang sampai di suatu tempat bus berhenti. Sepertinya supir bus memeriksa kondisi mesin kendaraan sementara aku ‘berpetualang’ mencari rumah penduduk yang baik hati meminjamkan toiletnya.

Dua jam kemudian kami sampai di rest area, setelah menganjal perut kami dengan baso dan jus segar seharga Rp 15.000,00. Kami melanjutkan perjalanan panjang yang tidak kami perkirakan. Kemacetan parah sehingga dibutuhkan sehari penuh untuk menuju Bandung. Semua perbekalan air dan snack kami habis, demikian pula buku yang kubawa habis kubaca. Pukul setengah enam sore kami tiba di Terminal Cicaheum, sebelas jam kami berada di jalan. Badan pegal dan capai membuat kami ingin cepat pulang. Syukurlah kami pulang dengan selamat.pangandaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s