Lombok Island as Another Paradise

Penyebrangan 4 jam di kapal feri dari Pelabuhan Padangbay, Bali mendaratkanku ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Feri yang kami pakai, merupakan feri terbaik yang pernah saya tumpangi. Fasilitas pendingin ruangan dan kamar mandi yang bersih serta bangku yang empuk cukup membuat saya nyaman selama menyebrangi selat Lombok. Setibanya di sana, aku menginap di rumah teman di Mataram. Ujan mengguyur Mataram membuat udara semakin segar. Rasa lapar sehabis perjalanan jauh, membuatku berjalan sekeliling jalan Kartini. Tanpa peta dan panduan yang jelas, aku dan kawanku berjalan menuju kantor gubernur dan bertanya pada polisi setempat.

Restoran 2 Em disarankan sebagai tempat makan ayam taliwang. Ayam kampung yang berasal dari Taliwang ini digemari seluruh masyarakat Lombok. Konon hampir 1500 ekor ayam dipotong setiap harinya. Hidangan ayam taliwang disajikan dengan beberuk (sambal terong) dan kangkung pelecing.

Keesokan harinya kami pergi ke Tanjung An, sebuah lokasi pantai yang sangat menawan. Airnya jernih, lautnya tenang, pemandangan yang menakjubkan memanjakan mata. Tak jauh dari sana, Pantai Kuta menanti kami. Pantai terlihat sepi oleh turis, walaupun air laut terlihat sangat cantik dari 3 warna degradasi biru. Sebaliknya banyak pedagang oleh-oleh dari kaos, gelang, kain tenun, makanan memadati pantai.

Image

Keadaan yang tidak terurus dengan banyaknya pedagang asongan yang memaksa kami membeli barang dagangannya membuat kami tidak nyaman. Selesai makan siang, kami pergi ke Narmada, tempat bersejarah bekas kerajaan Mataram yang sekarang dijadikan tempat wisata kolam renang. Narmada ini juga dijadikan nama merk dagang air mineral di kawasan Lombok, konon di sini juga terdapat mata air.

Dari Narmada, kami pergi ke Pura Suranadi, pura Hindu yang terletak di sebelah taman nasional yang dipenuhi monyet bergelantungan. Di sini terdapat penjual sate bulayak yang terkenal. Kuliner ini hampir sama dengan sate lainnya tapi disajikan dengan lontong yang dibungkus daun nira yang disebut bulayak. Harga yang dipatok Rp 15.000,00 membuat sore kami lebih bertenaga.

Kami melintasi Senggigi, kawasan pantai terkenal di Lombok. Pantainya tenang membuat pengunjung dapat bermain canoe. Peminjaman canoe diberi tarif Rp 10.000,00 (dengan catatan harus menawar) durasi waktu seharian. Mengemudikan canoe sangatlah mudah, Anda duduk di tempat yang disediakan dan meluruskan kaki, sebagai penyeimbang. Dayung ke kiri mengarahkan canoe ke kanan, demikian sebaliknya. Bila ingin lurus, dayunglah kiri kanan.

Kegiatan canoeing ini sangat cocok sambil menunggu sunset. Pedagang jagung bakar dan kelapa muda berjajar menunggu pengunjung membeli dagangannya. Di Senggigi terdapat banyak cafe dan fasilitas toilet, sehingga tidak perlu khawatir kelaparan.

Untuk mengetahui kehidupan perkotaan Mataram, kami menyempatkan diri ke Mataram Mall. Tempat perbelanjaan ini tidak begitu ramai dikunjungi. Teater mini tempat menonton film pun sudah tutup sebulan yang lalu. Sepertinya hiburan masyarakat ini hanyalah pantai.

Keesokan harinya, kami pergi ke Sekotong, daerah pelabuhan dekat Lembar. Dari sini kami menyewa kapal untuk pergi ke Gili (pulau kecil-bahasa Sasak) Nanggu. Penyewaan kapal dikelola oleh koperasi daerah setempat. Tentu saja penawaran dimulai dengan harga yang sangat tinggi yaitu Rp 400.000,00/ kapal yang berisi maksimal 6 orang.

Kami yang hanya berdua, mencoba mendapatkan harga yang paling masuk akal. Butuh sepuluh menit untuk menawar harga, kami Imagemembayar Rp 200.000,00 tanpa asuransi; karna kami pikir asuransi hanyalah ‘formalitas’ untuk mendapat uang lebih dari wisatawan.

Ada dua orang wisatawan yang datang setelah kami, mereka dilarang untuk sharing kapal bersama kami oleh ‘preman’ lokal. Wajarlah tanpa sistem administrasi yang jelas, mereka dapat memberlakukan harga dan aturan semau mereka.

Di kapal saya mendapat pelatihan mengemudikan kapal motor. Belokan ke arah kiri bila Anda ingin mengarahkan kapal ke arah kanan, juga sebaliknya. Bila ingin lurus, Anda harus memastikan kemudi ada dalam keadaan lurus juga.

Dibutuhkan hanya 30 menit untuk menyebrang dari Sekotong ke Gili Nanggu. Masuk ke gili yang luar biasa cantik ini, kami diharuskan untuk membayar uang retribusi sebesar Rp 5.000,00/orang. Pulau ini juga menyediakan fasilitas hotel seharga Rp 250.000,00/kamar. Kegiatan yang diminati di pulau ini adalah snorkeling dan memberi makan ikan dengan roti yang dimasukkan ke botol air mineral bekas, dijual seharga Rp 5.000,00. Belakangan aku tahu, bahwa ikan bisa mengidap kanker bila memakan makanan manusia, jadi aku memilih untuk melihat ikan berenang saja.

Fasilitas pulau ini sangat terbatas, restoran pun hanya ada satu. Mereka tidak memiliki banyak pilihan makanan karena alasan belum pergi ke pasar. Kami pun hanya memilih makanan yang disarankan oleh pramusaji karna hanya dia yang tahu persediaan bahan makanan di dapurnya.

Gili Nanggu yang berpasir empuk ini semakin ramai pengunjung setelah jam makan siang. Kami beranjak dari pulau yang indah ini ke Pulau Kedis. Pulau kosong yang namanya berarti burung dalam bahasa Sasak. Pulau ini dulu merupakan tempat burung-burung singgah, tapi sekarang tidak lagi. Snorkeling di tempat ini lebih memanjakan mata. Sayangnya beberapa wisatawan meninggalkan sampah mereka di pulau ini.

Gili Sudak merupakan destinasi hoping islands kami hari itu. Harga makanan yang ditawarkan lebih murah daripada di Gili Nanggu. Mereka juga menawarkan air tawar untuk dipakai bilas setelah mandi di laut. Air tawar dengan ember kecil diberi harga Rp 2.000,00 sedangkan yang besar diberi harga Rp 3.000,00. Lebih baik mandi dengan air tawar di sini, karna airnya sudah hangat disinari matahari sejak pagi hari.

Ada satu gili lagi yang berada di kawasan ini, bernama Gili Tangkong, karna saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, kami pun kembali ke Sekotong. Menurut warga sekitar, Gili Tangkong hanya ditinggali oleh 2 kepala keluarga saja.

Image
Sesampainya di darat, beberapa pemuda desa sedang bermain bola. Rupanya euforia Euro 2012 sampai ke Sekotong. Tentu saja aku tidak melewatkan bermain bola dengan mereka. Makan malam kali ini, kami mencicip masakan hasil laut yang ada di Pondok Selera. Walaupun tempatnya di pinggir jalan dan murah harganya, rasa sup Tom Yamnya hampir sama dengan sup asli Bangkok di negara asalnya.

Hari ketiga di Lombok, kami pergi melihat Museum Nusa Tenggara Barat yang ada di Mataram. Berbekal Rp 2.000,00 kami dapat menambah pengetahuan tentang sejarah dan hidup keseharian masyarakat yang didominasi oleh suku Sasak ini. Perjalanan lama kami tempuh menuju lembah kaki gunung Rinjani. Kali ini kami melewati Pusu, kawasan yang dipenuhi oleh hutan dan monyet yang dapat kami beri makan di pinggir jalan.

Hampir tengah hari barulah kami sampai di Senaru. Kami memarkirkan kendaraan di depan kantor tur wisata. Di tempat itu, mereka menawarkan paket menuju air terjun Sendang Gile sebesar Rp 100.000,00 per 2 orang. Kami harus menambah Rp 100.000,00 lagi untuk menuju air terjun kedua, Tiu Kelep.

ImageSelesai makan siang, kami check in di Pondok Senaru. Penginapan bertarif Rp 250.000-Rp 600.000,00/malam yang menawarkan pemandangan air terjun Sendang Gile dan Pelabuhan Carik. Loket pembelian tiket air terjun hanya berjarak 2 menit berjalan kaki dari lobby pondok ini. Harga tiket masuk air terjun Rp 5.000,00 tentu saja ada lokal guide yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke air terjun. Dia mematok harga Rp 60.000,00, harga pas, karna sesuai standard. Tapi bukan standardku, jadi kuputuskan untuk tetap berjalan menyusuri anak tangga semen yang telah dibuat oleh pemerintah daerah.

Perjalanan menuruni anak tangga selama 15 menit menyampaikan kami ke Sendang Gile, yang biasa disebut air terjun pertama. Banyak anak sekolah yang sedang berakhir pekan di sini, mandi di air terjun menggunakan seragam sekolah. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka karena hari itu hari kelulusan mereka.

Seorang anak SMA menghampiriku. Langsung kubertanya apakah dia tahu jalan ke air terjun kedua, yaitu Tiu Kelep. Air terjun ini berada tidak jauh dari lokasi air terjun yang pertama, tapi jalan menuju kesana tidaklah semudah yang pertama. Hutan dan sungai harus dilewati sehingga kumemerlukan bantuan guide.

Anak ini langsung mengangguk dan bergegas pamit pada teman-temannya. Bakrie namanya, anak kelas 3 SMA yang suka lintas alam ini mengenal hutan seperti halaman belakang rumahnya sendiri. Dengan cekatan dia berjalan melalui rintangan-rintangan di hutan. Lalu kita tiba di sungai penuh dengan batu, langsung terlintas pengalaman ‘river trekking’ pertamaku. Temanku mundur saat melihat air sungai.

Aku dan Bakrie melanjutkan perjalanan hingga 30 menit ke depan. Akhirnya air terjun yang kami tuju terlihat juga. Sebaiknya datang ke sini di musim kemarau, sehingga tanahnya tidak licin. Perjalanan pulang bisa ditempuh melalui gorong-gorong atau berjalan mengulang jalan pertama. Jumlah anak tangga yang cukup banyak membuatku memilih gorong-gorong sebagai jalan keluar. Gorong-gorong yang dulu dipakai sebagai persembunyian dari penjajah Jepang ini dialiri air deras setinggi pinggang.

Lorong yang gelap membuatku harus tetap memegang setiap senti dari tembok di kiri kanan lorong itu. Terkadang turunan mengagetkanku karna tiba-tiba sepatuku terperosok ke bawah. Setiap beberapa meter, ada lubang cahaya yang membuat semangat kembali muncul. Akhirnya perjalanan lorong gelap berakhir di sebuah tangga sebelum pintu air.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku berjalan melalui hutan yang dipenuhi monyet yang langsung kabur melihat manusia. Temanku yang kelelahan mampir di salah satu warung di ujung jalan. Bu Marwah, namanya. Dia mengenal setiap anak muda yang berhutang rokok padanya.

IMG-20120621-02952
Melihat penampilan kami yang bukan berasal dari Lombok, salah satu pemuda desa bernama Dika menawarkan kami tiket pertunjukkan. Dia adalah seorang petarung peserean (tarung tradisional menggunakan tameng dan senjata dari kayu) yang akan bertarung malam ini. Para peserean muda ini akan bertarung mencari siapa yang terkuat dari antara mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan tari tradisional. Tiket ini dijual ratusan ribu dan tempat yang kami tidak tahu alamatnya. Dia berjanji mengantar kami dengan motor juga kawannya yang berprofesi sebagai tukang ojek.

Menyangsikan kebenaran acara itu, kami pun memutuskan untuk tidak ikut bersamanya. Dika meninggalkan warung dan giliran Bu Marwah serta beberapa pemuda desa lain menceritakan kisah hidupnya. Lucu melihat salah satu pemuda desa yang berusaha mencari rupiah dengan menawarkan jasa transportasi kepada wisatawan asing dengan bahasa inggris seadanya. Dia hanya memberanikan diri berkata-kata walau dia sendiri tidak tahu apakah bahasa inggrisnya benar/tidak. Pemuda yang biasa dipanggil Injuk ini mengaku mempunyai pacar orang Sunda yang suka nongkrong di Pantai Senggigi. Dia juga tidak lupa memamerkan kemampuan bahasa Sundanya kepada kami. Kami tertawa lepas saat dia mengucapkan “Abdi mah goreng patut” (saya tidak tampan-Sunda).

Sementara temanku memilih untuk berdiam di kamar pondok yang dihias seperti kamar putri raja dengan ranjang tinggi dan kelambu, aku memilih berjalan-jalan sekitar Senaru. Ditemani seorang lokal, aku menemukan sebuah mesjid kuno yang tidak berbentuk seperti mesjid tapi lebih seperti rumah tradisional beratapkan alang-alang. Di lokasi ini juga terdapat dua makam penghulu pertama mesjid ini.

Anak kecil yang menjadi ‘tour guide’ kami menawarkan kunjungan ke desa sebelah tapi kami harus mengenakan busana tradisional yang disewakan di sebrang jalan. Toko sebrang jalan ternyata hanya menjual kain tradisional, pemilik toko pun sedang keluar melayat tetangga yang meninggal. Jadi kami mengurungkan niat kami dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Carik.

Dari pelabuhan ini, kami dapat melihat pemandangan Gunung Rinjani yang sangat cantik. Sayang kami tidak dapat menikmatinya dengan jagung bakar/kelapa muda karena tidak ada yang berjualan makanan di sekitar sana. Kami pun meneruskan misi mencari makan malam ke Tanjung. Di sini terkenal sate tanjung, sate ikan yang sudah diblender dengan rempah-rempah sehingga tidak menggunakan bumbu saat disajikan.

Matahari hampir meninggalkan singgasananya, saat kami bertemu dengan ibu penjual sate tanjung. Sate yang dijual seharga Rp 1.000,00 per tusuk ini, ternyata sangat lezat. Tak heran orang Mataram pun mencarinya sampai ke sini. Ibu yang berjualan dari siang hingga magrib ini juga menawarkan pepes ikan berisi sisa bahan sate yang juga membuat saya tidak dapat menolak tawarannya untuk mencicip pepes seharga Rp 1.250,00 ini. Pepes lebih gurih tapi lebih banyak tulang karna daging ikan sudah habis dipakai untuk membuat sate tanjung.

Bermalam di Senaru mengingatkanku akan Bandung, tempat dimana ku tinggal, karna udaranya yang dingin. Berasa di kampung halaman, aku pun tertidur pulas hingga jam 5 subuh. Aku bergegas ke taman berundak yang dipasang berugak (saung) untuk melihat sang surya.

Menyaksikan kedatangan matahari untuk menandai awal hari sangat menakjubkan bagiku. Langit yang gelap perlahan-lahan berubah menjadi sangat terang. Gradasi perubahan warna dari balik bukit sungguh mempesona tidak dapat ditulis dengan kata-kata. Seorang wisatawan asal Belanda, menemaniku sepanjang pagi hingga matahari menyilaukan mata kami dan petugas hotel menanyakan menu sarapan kami.

Berbagai topik keseharian kami bandingkan antara kehidupan Indonesia dengan Belanda. Dia takjub akan kesemerawutan administrasi dan hukum di negara republik ini, tapi di sisi lain dia sangat mengagumi keindahan alamnya. Dia bercerita di negaranya yang sangat tertib dan punya standard hidup yang tinggi serta jaminan kesehatan serta hari tua dari pemerintah membuat dia betah tinggal di sana. Dia mempromosikan gaya hidup sehat untuk dapat tetap travelling di hari tua. Percakapan yang menyenangkan itu ditutup dengan pancake dan secangkir teh dan kopi.

Aku dan temanku meninggalkan Senaru dan menuju Bangsal, pelabuhan menuju Gili Trawangan, Meno dan Air. Kami harus tiba di Bangsal pukul 10 sehingga kami dapat menggunakan kapal publik bertarif Rp 10.000,00, bila kehabisan kapal, kami harus mencarter kapal seharga Rp 400.000,00. Kami melewatkan desa Segenter, desa lokal yang menawakan arsitektur kuno demi mengejar kapal menuju Trawangan.

Sesampainya di parkiran Bangsal, calo cidomo (delman) menghampiri kami, mereka menawarkan harga Rp 20.000,00-Rp 30.000,00 untuk satu cidomo yang berkapasitas 5 orang ini. Kami menawar separuh harga dan naiklah kami di cidomo, ternyata perjalanan dari pelataran parkir ke pelabuhan hanyalah 3 menit dari cidomo. Setelah kubayar dengan harga yang pertama kami sepakati, kusir cidomo meminta uang tambahan lagi. Dengan kesal aku meninggalkan cidomo karna dia tidak menepati perjanjian awal.

Di Bangsal, lebih banyak calo lagi. Aku masuk ke tiket lokasi dengan waswas membeli tiket dan meyakinkan diriku bahwa aku berurusan dengan petugas yang benar dan bukan calo. Tiket menuju Trawangan seharga Rp 10.000,00 karna lokasinya yang paling ujung. Gili Meno yang berada di tengah diberi tarif Rp 9.000,00 sedangkan Gili Air hanya Rp 8.000,00. Untuk menuju tiga gili wisatawan harus mencarter kapal, kali ini kami hanya penasaran menuju Gili Trawangan, jadi kami melewatkan Gili Meno dan Air.

Penyebrangan selama 30 menit ini membuatku berkenalan dengan orang lokal yang memiliki homestay di Trawangan. Homestaynya Imagemenawarkan penginapan tanpa/dengan AC juga peralatan snorkel dan sepeda untuk berkeliling pulau. Setibanya di Trawangan, petugas berseragam memberhentikan kami dengan alasan pendataan. Mereka meminta kartu identitas, ku mulai curiga apakah mereka akan meminta uang. Tepat dugaanku setelah temanku menulis nama dan nomer ktp nya dia meminta uang retribusi, padahal petugas pelabuhan Bangsal berjanji tidak akan ada lagi pungutan di Gili Trawangan.

Rasa jengkel memenuhiku kuputuskan berjalan-jalan dan meninggalkan bapa berseragam yang sudah mencak-mencak dan mengancam kalo terjadi apa-apa tidaklah mungkin petugas pelabuhan datang untuk membantu. Temanku sebenarnya hanya dimintai uang Rp 1.000,00 (tentu saja aku tidak tahu, dan terlampau kesal dengan banyaknya calo yang ketemui yang meminta rupiah kepada wisatawan). Memerah mukaku karna malu setelah temanku menyampaikan kebingungannya bertanya kenapa aku marah untuk uang seribu rupiah.

Seandainya tidak ada banyak calo semakin menyenangkan perjalanan ini, karena tidak harus otot-ototan menawar dengan harga yang masuk akal. Lepas dari semua itu, Gili Trawangan merupakan surga! Airnya yang jernih, gradasi warna yang luar biasa, cafe-cafe nan cantik, udara yang segar membuyarkan kepenatan. Fasilitas jalan tanah yang belum beraspal tidak mempengaruhi hotel-hotel butik berdiri tegak. Hampir di setiap hotel sepanjang pantai mempunyai kolam renang untuk para wisatawan belajar menyelam. Pilihan yang sangat menggoda, tapi waktuku hanyalah sampai jam3 sore untuk pulang menggunakan kapal publik.

Sengatan matahari tengah hari membuat kami menghampiri penjual gelato. Pemandangan pantai yang memanjakan mata serta semilir angin pantai juga kenyamanan kursi kayu membuat kami tidak ingin beranjak. Cidomo berlalu-lalang mengantar wisatawan menuju hotel ataupun berjalan-jalan mengelilingi pulau. Awalnya kami ingin menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau, tapi jalan yang penuh lubang serta ancaman cidomo yang sudah memakan seluruh jalan yang ada membuat kami membuang ide bersepeda.

Seorang ibu beranak tiga menawarkan berbagi kapal untuk mengelilingi ketiga gili. Dengan antusias kami terima undangan itu, walau harus kami rela menolaknya saat mengetahui bahwa kapal itu baru akan menjemput kami jam 3 sore. Kami pun kembali bertemu dengan bule Prancis yang kami temui di hari pertama di Lombok. Mereka terlihat sangat senang menyelam di setiap gili, mereka mengambil paket menyelam setiap harinya.

ImageAku pun tertantang melakukannya di kemudian hari. Setelah menemukan restoran tepi pantai dekat penampungan kura-kura, kami menyantap pasta makan siang hari itu. Saung kecil depan restoran menghadap pantai membuat temanku senang berdiam diri di sana saat aku menjelajah dunia ikan dengan peralatan snorkel. Banyak ikan yang kutemui dan bahkan ular laut yang berjalan menyembunyikan dirinya diantara karang. Arus air yang cukup deras membuatku sedikit pusing dan menyudahi aktivitas air hari itu.

Restoran yang kami pilih, menyediakan shower itu ternyata menyewakan kamar. Sungguh lengkap fasilitasnya dengan harga makanan yang terjangkau. Tepat dengan nama restorannya ‘Genius’, satu tempat untuk segala kebutuhan. Kami pun berjalan menuju pelabuhan dan membeli tiket pulang. Kali ini kami memilih 5 menit berjalan kaki menuju pelataran parkir. Mobil sewaan menuju Mataram, sementara aku tertidur. Sebelum sampai di ibukota Nusa Tenggara Barat, kami mampir di Malimbu, spot nongkrong pinggir jalan yang menawarkan pemandangan Gili Trawangan, Meno dan Air juga Pantai Senggigi ditemani dengan jagung bakar, kelapa muda dan ikan bakar.

Sampai Mataram kami mengunjungi Pura Taman Meruya, ada kolam besar di tengah taman, pepohonan rindang menyambut kami masuk ke pelataran pura. Sekelompok umat Hindu sedang menjalankan ibadahnya di sore yang cerah. Harum bunga dan dupa menyapa kami saat kami berjalan berkeliling. Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Meru di seberang jalan, tidak ada orang selain kami berdua. Petugas pura tua memberikan kami sepotong kain tanda suci memasuki pura. Pura yang eksotis ini tidak banyak dikunjungi wisatawan, jadi petugas pura meminta sumbangan wajib saat kami datang.

Selesai melihat-lihat pura, kami berkeliling Mataram melihat tempat nongkrong anak lokal di Udayana dan taman kota. Kami menuju Ampenan, kota tua untuk makan malam. Temanku yang sudah bosan dengan makanan lokal pelecing serta ayam taliwang memilih mie jakarta sebagai hidangan penutup di Lombok. Aku sendiri berjalan-jalan sekitar Ampenan dan menemukan penjual kebab Libanon dan menghadiahi diriku kebab dan roti maryam serta teh tarik sebagai makan malam. Penjualnya bercerita dia baru saja pulang dari liburan Jawa Bali setelah menebak kota asalku.

Malam terakhir di Lombok membuat kami sadar betapa waktu sangat cepat berlalu. Kami memasukkan semua barang ke tas dan bergegas tidur walau akhirnya kami terjaga hingga tengah malam mendiskusikan perjalanan kami. Keesokan harinya, ibu dan kakak teman yang kami tumpangi rumahnya, mengantarkan aku ke Teluk Kodek tempat kapal cepat menjemput kami dan menyebrangkan kami ke Bali.

Sebelum ke Teluk Kodek, kakak temanku memberikan nasi campur untuk sarapan kami. Dia menunjukkan lokasi-lokasi wisata yang kami lewati dan berjanji mengantar kami ke sana, bila kami mengunjungi pulau ini lagi. Kami melewati Ampenan, pelabuhan tua yang sekarang sedang dibangun menjadi pelabuhan internasional bernama Ampenan Harbour yang direncanakan rampung dalam 2 tahun.Sesampainya di teluk, kami berpisah dan melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.

Menurutku, Lombok merupakan destinasi yang juga menarik untuk dikunjungi. Tempatnya yang masih sepi dan juga asri mengalahkan Bali yang sudah dipadati pengunjung. Lain kali aku akan mengunjungi Gili Lawang dan Sulat di Utara Lombok yang konon sangat cantik seperti keindahan Maldives… Juga menaiki Rinjani dan melihat Danau Segara Anak, setelah mengunjungi desa Segenter dan bersosialisasi dengan masyarakat Sembalun.

Duh lupa…. Cerita tentang desa sade, desa tradisional yang ada di arah kita mau pergi ke tanjung An. Diisi sama 80 kepala keluarga, mata pencahariannya nenun. Pas di sana hampir tiap 3 rumah ada yang jual kain tenun, juga gantungan kunci/kalung dari tanduk kerbau. Kerbau bekas persembahan atau pesta, tanduknya diambil dipotong-potong, direndem dan diukir/dibentuk jadi kalung. Bentuk yang paling sering ditemui bentuk tokek yang menyimbolkan keberuntungan.

Sepuh yang tinggal di desa ini masih mengunyah sirih supaya gigi mereka kuat. Bercak merah di tanah menandakan sepuh yang habis mengkonsumsi sirih.

Kami sempat masuk ke rumah tradisionalnya. Atapnya sangat rendah untuk menghangatkan udara di dalam ruangan. Rumah tersebut dibagi menjadi 3 bagian undakan. Pertama halaman, kedua tempat tidur ayah dan ibu, yang terakhir dapur sekaligus kamar gadis, juga tempat melahirkan. Kamar mandi ada di luar diperuntukkan beberapa keluarga yang telah membuat sumur. Ada juga beberapa rumah telah mempunyai ruang MCK sendiri.

Rumah ini menjadi menarik karena lantainya dibuat dari campuran kotoran sapi/kerbau dengan sekam padi, agar menghindari lalat. Lantai dipel menggunakan ramuan yang sama pula.

Nenun adalah pekerjaan dan syarat untuk para gadis dapat menikah. Bila mereka tidak dapat menenun, mereka tidak akan diberi ijin menikah. Ada satu nenek yang sedang memintal kapas menjadi benang menggunakan alat tradisional, seperti yang ada di dongeng putri tidur. Saya sempat mencoba memintal benang, tentu saja tidak bisa. Setelah kapas dipintal menjadi benang, benang dicelup ke cat warna lalu ditenun. Cara menenun hampir sama dengan yang saya pelajari di NTT, hanya coraknya berbeda. Kain tenun dipergunakan untuk upacara adat, mas kawin, keperluan sehari-hari dan oleh-oleh dari NTB.

Image

Bali, Never Ending Story

Pergi ke Bali, merupakan hal yang sangat menyenangkan. Walaupun ini bukan kali pertama, tapi sensasi pergi ke Pulau Dewata ini tetap mengesankan. Penerbangan siang dari Bandung ke Bali tidak terasa. Sejam di udara tidak begitu membosankan, awan-awan berkilauan memantulkan sinar matahari. Udara Bali menyapa kami di Ngurah Rai. Berbagai rombongan berseragam warna kaos tertentu bergerombol di sudut-sudut bandara.

Sebuah keluarga kecil kompak dengan kaus pelangi mereka. Berpuluh-puluh maskapai masuk keluar bandara internasional ini. Wisatawan dari mancanegara berdatangan ke pulau yang kadang tidak dianggap berada di Indonesia. Mereka tahu Bali, tapi tidak tahu Indonesia. Penduduknya yang ramah kepada turis serta tradisinya yang kental membuatku nyaman berkunjung kemari.

Kali ini, aku dan rombongan teman kerja pergi ke sini. Kami dijemput oleh bus travel yang akan mengantar kami selama di Bali. Bus berkapasitas 35 orang ini mengantar kami ke hotel Aroma’s Legian. Salah satu tempat favorit turis asing, yang juga tempat pemboman oleh teroris. Hotel yang juga merangkap apartemen ini dilengkapi oleh kolam renang yang panjang. Tak sabar rasanya berenang di sana.

Segelas air jeruk meredakan dahaga dan sebuah kunci dibagikan ke masing-masing peserta. Kami pun beranjak dari lobby menuju kamar masing-masing. Acara bebas dimulai, sebelum 2 hari ke depan kami harus tetap ada dalam kelompok. Ada yang langsung menyewa motor seharga 50.000, ada yang mencari makan, ada yang bersantai di hotel, sedangkan aku sibuk menghubungi teman.

Image

Senangnya punya teman yang bekerja di Bali, dia dengan antusias menjemputku di hotel dan mengantarku ke Denpasar. Di sana kami mencicip nasi campur babi panggang. Harga Rp 15.000,00 ditukar dengan nasi serta pelecing, sate lilit, daging babi serta jeroan. Kami pun beranjak ke Lembah Pujian. Di sini kami mengunjungi Gereja Bethel Indonesia Rocks. Gedungnya lebih seperti resort daripada gedung gereja kebanyakan. Di depan lobby mereka menyediakan kolam untuk baptisan.

Sesampainya di dalam, interior modern tertata rapi diiringi lagu Hillsongs. Kami pun ikut masuk ke dalam perjamuan kudus. Sebelum pulang, ku sempatkan diri masuk ke toilet yang ternyata bertuliskan prince dan princess sangat spesial. Saat ku masuk mobil temanku, baru kusadar aku telah menghilangkan satu dari sepasang sendalku saat menggantinya dengan sepatu. Sekarang aku seperti Cinderella hanya punya sebelah sendal.

Kami tiba di restoran ayam betutu Gilimanuk, temanku ingin sekali mencicipi ayam ini. Setelah kulihat logo restorannya, ternyata sama seperti yang ada di Bandung. Tidak perlu ke Bali untuk merasakan ayam betutu. Aku memesan es campur yang tidak seperti dalam bayanganku, karna mereka menaruh es batu bukan es serut.

Seusai makan, kami memisahkan diri ke hotel bertemu teman lama yang sedang bekerja di Ubud. Juga teman lainnya yang menginap di Kuta. Sementara temanku meluncur ke Hard Rock Cafe.

Saat jam 12 berdentang, kami masuk kamar dan mengisi tenaga untuk esok hari. Pagi-pagi aku mencoba berenang di kolam panjang nan biru. Kandungan kaporit yang terlalu banyak membuat mataku perih. Aku bergegas sarapan dan masuk bus. Bus kami meluncur ke Tanjung Benoa.

Tempat wisata air, dimana kami menyewa glass bottom boat menuju pulau penangkaran penyu. Tidak terlalu banyak terumbu karang yang dapat kami lihat. Ikan berbondong-bondong mendekati perahu saat temanku mulai melemparkan serpihan roti. Kami pun melihat beberapa paraisailing warna warni menghiasi udara.

Sesampainya kami di pulau ini, kami disambut dengan segerombolan anak SMA Jawa Timur yang berebut ingin berfoto dengan teman ekspariatku. Temanku merasa jengah dengan keadaan itu, memaksa diri untuk tersenyum agar terlihat bagus di kamera. Bukan satwa yang dilihat, ternyata temanku yang Kaukasian ini lebih menarik untuk difoto.

IMG_0172

Semakin banyak yang meminta foto, aku pun mengajaknya ke tempat yang lebih sepi. Salah satu pojok pulau yang tidak dipadati pengunjung. Temanku memilih berjemur dan membaca buku. Aku kembali ke dalam pulau, melihat-lihat burung elang, toucan, kelelawar, penyu dan berfoto bersama teman yang lain.

Kunjungan singkat ini membawa kami kembali ke Tanjung Benoa. Kami memiliki waktu bebas, untuk dipergunakan naik banana boat, parasailing, snorkeling atau kegiatan air lainnya. Awalnya aku dan temanku ingin snorkeling tapi setelah melihat air keruh dari kapal yang kami sewa, kami urungan niat ini.

Aku memilih minum air kelapa plus jeruk yang kemudian diikuti semua teman-teman setelah tahu harganya hanya Rp 3.000,00.  Teman yang lain membeli rujak untuk menambah kesegaran di hari yang panas. Kulihat beberapa penduduk lokal sedang membuat kerajinan dari daun pisang. Aku pun tertarik untuk bergabung. Mereka membuatnya untuk keperluan upacara dan persembahan sehari-hari. Aku menawarkan bantuan dan mereka dengan senang hati mengajarkanku. Tak terasa waktuku habis dan kami harus pergi ke tujuan berikutnya.

Garuda Wisnu Kencana, patung mahakarya Nyoman Nuarte menjadi salah satu objek wisata yang harus dikunjungi di Bali. Patung yang terdiri dari burung garuda yang sedang dinaiki dewa Wisnu ini rencananya akan rampung tahun 2017. Patung ini kelak menjadi patung tertinggi di Indonesia.

Setelah makan di salah satu restoran di sana, kami pun berjalan berkeliling taman luas ini. Kacamata hitam, topi dan tabir surya menjadi perlengkapan wajib memasuki kawasan yang langsung terkena sinar matahari ini. Perjalanan dilanjutkan ke museum dimana Pak Nyoman menampilkan beberapa hasil karyanya. Juga pemutaran video cara pembuatan patung. Museum Pak Nyoman juga ada di Bandung, tepatnya di perumahan Setra Duta.

Di museum, Pak Nyoman berbagi tempat dengan seniman lokal. Ada yang menawarkan jasa lukis wajah, tattoo temporary, kepang rambut dan nail art. Semuanya dibayar secara sukarela. Aku tentu saja ingin mencoba semuanya. Pertama aku mendatangi Mba Sri yang akan mengepang rambutku dan mencat kukuku. Aku memilih warna pink muda sebagai dasar dan dia mulai menggambar jepun (bunga kamboja khas Bali) di jari-jariku. Setelah kuku tanganku cantik, giliran rambutku yang dikepang. Aku dijadikan tontonan orang-orang yang keluar masuk museum yang ingin tahu harga kepangan rambutku. Ingin rasanya kupasang papan “BIAYA SUKARELA”.

IMG_0204Rambutku tampak cantik dikepang lima. Sayang seniman tattoo temporary sedang berlibur, bila tidak aku akan mencobanya juga. Waktu yang terbatas membuatku tidak dapat mencoba lukisan wajah yang selalu ramai dipadati pengunjung. Bus kami meluncur ke Pura Uluwatu.

Sebenarnya aku ingin berjalan kaki menuju pantai-pantai tersembunyi nan eksotis daerah Uluwatu. Tapi karna aku bersama rombongan, aku harus puas berjalan bersama mereka dengan menjaga anak temanku dari gangguan monyet-monyet nakal di pura ini. Temanku yang menggunakan kacamata merasa tidak nyaman dan sedikit takut saat monyet-monyet itu merebut kacamatanya.

Kami berkeliling pura, di tingkat teratas, kami melihat bentangan laut biru, ombak berderu-deru di bawah kaki kami. Sepintas IMG_0222kulihat jalan berpagar menuju ujung tebing Uluwatu yang terlihat sangat indah. Kuajak salah satu teman untuk berjalan bersamaku, sementara yang lain menolak untuk ikut. Kami berjalan dan bertemu beberapa wisatawan asing yang kemudian meninggalkan tempat setibanya kami disana.

Tempat lapang yang ditumbuhi pepohonan juga rumah bagi monyet ini terlihat lebih indah, dimana kami bisa melihat bibir pantai juga keindahan tebing menjulang menopang pura. Matahari menyinari punggung kami, laut biru berkilauan. Ombak yang terhempas menyisakan buih putih yang lembut. Tak ingin rasanya meninggalkan tempat ini, tapi apa daya daripada dicari-cari oleh anggota rombongan yang lain, kami mencari jalan keluar.

Jalan yang kami pilih menghantarkan kami ke gerbang masuk. Aku mengajak temanku melihat toko cenderamata sebelum kami menonton pertunjukkan kecak. Aku membeli sepasang sendal biru payet lengkap dengan bunga kamboja seharga Rp 15.000,00 pengganti sendalku yang hilang tadi malam. Kami juga membeli jepit jepun warna warni seharga Rp 5.000,00. Setelah puas menawar dan berbelanja kami membaurkan diri dengan rombongan kami.

Mereka telah lama menunggu sambil waswas barang mereka akan diambil oleh monyet-monyet. Kami pun bergegas menuju lokasi pertunjukkan. Ku tak sabar menonton tari kecak, tari tradisional tanpa menggunakan instrumen musik. Alunan musik keluar dari nyanyian penari kecak yang berbunyi cak,cak,cak.

IMG_0245

Sekelompok laki-laki bercelana kotak hitam putih memamerkan punggung mereka yang terbakar matahari. Mereka duduk melingkar dan mulai bernyanyi cak,cak,cak. Sesekali mereka mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menggelengkan kepala juga menggerakkan tangan. Lalu datanglah penari lain yang bertindak sebagai Rama, Sinta.

Diceritakan Rama dan Sinta sedang memadu kasih, lalu diganggu oleh Rahwana. Sinta diculik Rahwana, singkat cerita Hanoman, sang monyet putih membantu Rama untuk menolong Sinta. Hanoman yang sempat tertangkap oleh Rahwana dan kawan-kawan dan hampir dibakar hidup-hidup, tapi karna kesaktiannya, dia dapat meloloskan diri. Sinta dan Rama kembali bersama.

Pertunjukkan yang diadakan di luar ruangan ini dipenuhi ratusan wisatawan asing dan lokal yang mengitari ‘pagung’. Para penari menyuguhkan tarian yang cantik diiringi dengan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan.

Kami menutup malam kami di salah satu restoran Jimbaran. Kami disambut oleh penari Bali yang memberikan jepun pada setiap pengunjung. Mereka menjamu kami dengan hasil laut segar seperti ikan, udang dan kerang. Setelah kenyang, kami pun bermain ke pantai yang hanya 4 meter jaraknya dari meja makan kami. Kami berlarian mengejar ombak, sungguh menyenangkan.

Keesokan harinya, matahari menyapa dengan sinar hangatnya. Aku pun menceburkan diri ke kolam untuk meregangkan otot-otot sebelum mandi dan sarapan. Perjalanan yang akan kami tempuh cukup jauh, maka kupastikan kuisi perutku dengan cukup karbohidrat dan protein.

Bus kami meluncur ke kawasan Kintamani, dataran tinggi yang menawarkan pemandangan Gunung dan Danau Batur. Rasa lelah di perjalanan pun terbayar lunas saat kami duduk di beranda restoran menghadap keindahan alam itu. Konon kami dapat menyebrangi danau dan mengunjungi desa Trunyan. Desa itu mempunyai cerita yang sangat memikatku, mereka biasanya mempunyai tradisi membakar jenazah yang diselenggarakan dalam upacara keagamaan, ngaben. Aku penasaran ingin melihat acara itu dan berkunjung ke Trunyan.

IMG_0312

Bli Wayan, tour leader kami membelalakan matanya saat tahu aku ingin pergi ke sana. Dia tidak dapat menjamin keselamatanku bila aku memisahkan diri dari kelompok. Sayang sekali, padahal aku kira aku dapat berkunjung ke sana karna dia punya kenalan di Trunyan. Beliau menjelaskan betapa berbahayanya tempat itu, apalagi aku adalah seorang gadis. Mungkin mereka akan memberhentikan kapal di tengah danau. Atau aku tersesat di hutan dan lainnya.

Perjalanan dilanjutkan ke Pura Besakih, di jalan kami melihat patung bayi besar. Itu dibangun sebagai tanda agar setiap pasangan muda bertanggungjawab akan apa yang mereka lakukan dan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Di kawasan tersebut (konon) angka kehamilan di luar pernikahan sangatlah tinggi.

Hujan rintik-rintik menyambut kami saat kami berada di pelataran parkir pura. Pura terbesar di Bali itu mempunyai daya tarik sendiri karena kami harus mendaki ratusan anak tangga untuk sampai ke puncak. Bila wisatawan tidak mau lelah, tentu jasa ojek dapat dipilih untuk sampai ke pelataran pura. Seperti aturan di pura lainnya, pengunjung wanita yang datang bulan tidak diperkenankan masuk, karna dianggap tidak suci. Selain itu mereka yang bercelana pendek harus mengenakan kain lilit.

Tidak perlu khawatir bosan menunggu kawan yang sedang melihat keindahan Pura Besakih, karena wisata belanja di sekitarnya pun sangat menggoda. Penjual kain, baju, asesoris asal Bali ini sangat ramah. Mereka juga fasih berbicara dengan bahasa asing. Inggris sudah pasti, Mandarin bahkan Perancis pun dikuasai. Dengan iseng aku menawar dengan bahasa Perancis, penjual tersenyum dan semakin terlihat bersahabat. Aku pun berhasil membawa pulang sarung Bali bermotifkan Spongebob kesukaan adikku.

Sepulangnya dari pura, hari sudah sore, beberapa kawan memilih pergi ke pantai. Aku mencari makan malam dan pergi ke mall Discovery, di sana pengunjung mall dapat melihat bentangan pantai dan laut yang luas. Aku berjalan di pertokoan Kuta dan keluar menenteng tas belanja yang besar. Diskon besar-besaran selalu digelar. Kali ini potongan harga bertajuk “mid year sale”, di penghujung tahun mereka akan menggantung spanduk “end year sale”.

Banyak pertokoan di daerah Kuta dan Legian karena merekalah pusat turis berada. Ada beberapa toko yang menulis “garage sale” dan menulis seakan-akan hari itu adalah hari terakhir mereka berjualan. Nyatanya keesokan harinya bahkan seminggu setelahnya mereka tetap berdagang. Bar dan restoran segala macam negara juga ada di sini. Salon dan spa juga memadati wilayah ini.

Hari terakhirku di Bali aku menyusuri kawasan Seminyak. Kutapaki pantai Seminyak, Legian sampai Kuta. Aku yang ingin dikepang dan merasakan pijat Bali berjalan dari jam 7. Banyak wisatawan asing yang memanfaatkan pantai kosong untuk jogging dan berlari. Ada yang hanya ingin menikmati keindahan alam. Aku sendiri, menanti ibu pengepang rambut.

Ibu pengepang rambut ternyata datang jam 9, ujar seorang balawista. Bli Ngurah menguraikan kisahnya menjadi seorang penjaga pantai. Dia yang jatuh cinta akan pantai ini, rela meninggalkan kampung halamannya menuju Kuta untuk menjadi balawista. Tujuh tahun sudah dia mengabiskan hari-hari mengawasi pengunjung pantai dan memastikan tidak ada kecelakaan. Di kala air laut pasang dan ombak tinggi, dia harus berkali-kali memperingatkan peselancar agar lebih berhati-hati. Kesiapan fisik dan pengetahuan tentang pertolongan pertama yang menjadi syarat utama menjadi seorang balawista.

Obrolan dengan Bli Ngurah membuatku ingin mengunjungi kampung halamannya. Pantai Nusa Lembongan yang bersih dan air yang jernih itu ada di sebrang Nusa Penida.
Selesai obrolan pagi, aku merasa lapar
karena belum sarapan. Sang penjaga pantai pun menyarankan aku membeli nasi bungkus Ibu Jawa di sebelah kantornya. Nasi bungkus seharga Rp 5.000,00 ini terdiri dari nasi hangat, mie goreng, lauk (pilihan daging ayam/sapi/ikan) juga sayur tempe lodeh.

Setelah kenyang, aku berjalan lagi dan berpamitan dengan Bli Ngurah. Tak lama kemudian aku ditawari kursi berjemur seharga Rp 50.000,00 per dua jam. Ada juga yang menawarkan jasa pelajaran surfing yang tentu saja kutolak karna dalam 3 jam aku harus berada di airport.

Akhirnya aku bertemu tiga ibu tengah baya yang sedang mengobrol saat kutanya apakah mereka mau mengepang rambutku, mereka bersorak kegirangan. Salah satu ibu langsung membuka harga untuk jasa mengepang rambut. Setelah terjadi kesepakatan, dia pun mulai menjajah kepalaku. Ibu yang lain mulai menyodorkan semua asesoris yang dia punya dan menyuruhku membelinya. Ibu lainnya pergi ke tamu lain saat tahu aku tidak mau dipijat saat dikepang.

Setengah kepangan, hujan rintik-rintik datang. Ibu yang sedang mengepangku panik dia langsung menutupi lapak jualannya dengan terpal. Saat heboh mengemasi kaos dan celana Bali, ada pengunjung lain yang berniat berbelanja. Dia pun kesenangan dan meninggalkanku dengan rambut setengah berkepang setengah lurus. Aku pun protes, “Bu, bagaimana dengan rambutku?”IMG_0188

Ibu penjual gelang yang senang telah dibeli barangnya olehku, mulai mengepang rambutku. Hasilnya agak kacau :( Rambutku akhirnya rampung dikepang, aku pun ingin mencoba pijatan ala Bali. Aku dipijat oleh ibu lainnya yang baru datang. Memang hasilnya tidak sebagus dari salon, tapi melihat kebersamaan dan keikhlasan membagi rejeki, priceless.

Membuatku ingin berkampanye.Bila berkunjung ke Bali, belilah suvenir dari pedagang lokal di tempat wisata. Bila Anda dapat menawar, mereka akan memberi harga yang sangat terjangkau. Dahulu Pasar Sukowati adalah tempat favorit wisatawan untuk memborong oleh-oleh. Sekarang ini tidak lagi, dikarenakan jarak yang jauh dari pusat keramaian Kuta dan Legian. Di sisi lain, banyak pusat perbelanjaan oleh-oleh di sepanjang jalan menuju bandara yang mematikan perekonomian rakyat kecil. Sama halnya toko waralaba yang buka 24 jam bersaing dengan warung kecil.

Kota Toea, Semangat Muda

Bosan dengan hiruk pikuk kota? Mari mundur dari keramaian kota dan menikmati keindahan masa lalu.

Perjalanan kali ini ditempuh menggunakan kereta Argo Parahyangan dari Bandung pukul 6.35. Kereta eksekutif ini menyediakan fasilitas pendingin ruangan dan colokan listrik di setiap kursi empuk penumpangnya. Sepertinya pantas hal ini didapatkan dengan membayar harga Rp 80.000,00.
Image
Salah satu alternatif transportasi umum menuju Jakarta yang hampir ditinggalkan masyarakat karena munculnya shuttle bus yang menawarkan paket perjalanan setiap jam sekali. Jadwal kereta memang kurang bersahabat, jam 5.30, 6.30, 12.00 lalu sore, kami yang ingin melancong ke daerah Kota Tua Jakarta terpaksa mengambil kereta pagi.

Transportasi yang disukai rekan saya karena mempunyai ruang gerak yang lebih lebar ini,memakan waktu 3 jam, sedikit lebih lama daripada shuttle bus. Tapi dia tetap lebih memilih kereta karena dia tidak perlu terjebak macet dan merasakan hentakan rem pengemudi shuttle bus (travel).

Lagu “Naik Kereta Api” tergiang-giang di kepalaku, sambil tersenyum dengan bangga kuperlihatkan keasrian alam Indonesia kepada kawanku. Kami melihat hamparan sawah hijau berundak-undak rapi. Bentangan perkebunan teh, sungai yang melebar di bawah jembatan besi dihiasi dengan batu-batu abu yang kekar. Sekumpulan pohon menjulang tinggi menghijau memberikan oksigen pada masyarakat pedesaan yang tinggal di rumah-rumah sederhana. Air terjun yang bersembunyi di dinding batu yang tinggi.

Tentu saja sesekali kami berhenti di beberapa stasiun kereta kecil, yang dihiasi oleh rumah non permanen dan hiruk pikuk anak-anak kecil berhamburan dari rumah-rumah itu. Indonesia, keindahan alam yang luar biasa dibarengi dengan ketidakmerataan ekonomi.

Pukul 9.35 sampailah kami di Stasiun Gambir, disambut dengan bangunan-bangunan tinggi aneka warna dan bentuk. Sesekali pepohonan hijau menghiasi kota super padat di Indonesia ini. Saya baru menyadari rel kereta berada di lantai dua, seperti sky train di negara tetangga. Kami berjalan menuruni tangga bergegas mencari teman kami yang sudah menunggu.

Sesampainya di pelataran parkir, kami melihat tugu Monas yang menjulang dipadati oleh wisatawan lokal. Kami menuju kawasan Kota Tua Jakarta. Rasa panas menyengat tubuh, keringat bercucuran menyapa kami saat memasuki Museum Fatahilah. Harga tiket masuk Rp 2.000,00 ditukar dengan segudang informasi dari zaman Indonesia purba, zaman kerajaan. Replika prasasti ada di tempat ini, perlengkapan kehidupan sehari-hari terutama alat makan, lampu, perabotan rumah berusia ratusan tahun terbuat dari bambu, rotan dan kayu terlihat usang dan rusak. Seharusnya dapat diperbaiki lalu dipajang lagi.

Sebuah lukisan tentang Raja Salomo memukau mata kami tergantung memanjang di lantai tiga museum ini. Di sini kami melihat banyak perabotan yang diimpor langsung dari luar negeri, sepertinya pernah dipakai oleh penjajah Belanda. Di salah satu pojok, lantai yang terbuat dari kayu ini terdapat lubang yang cukup besar. Teman kami yang iseng memasukkan sepatunya di lubang itu, cukup menyeramkan bila ada yang terluka karena hal ini.

Selesai bermandi keringat di dalam gedung yang dilengkapi dengan kipas angin, kami berjalan ke arah taman. Di sana terdapat patung Hermes, salah satu dewa Yunani konon pelindung pejalan kaki. Di belakang patung Hermes kami menemukan beberapa ruang kosong nan gelap yang berukuran kecil. Jendela satu-satunya ditutup teralis besi. Pintunya dibiarkan terbuka, bau apek dan suasana mencekam menyergap kami. Puluhan bola-bola meriam disimpan di tempat ini.

Kami heran mengapa mereka membuat ruangan ini sangat rendah, biasanya bangunan Belanda dibuat sangat tinggi (mencapai 3 meter) untuk alasan sirkulasi udara yang masuk. Muncul di pikiran kami, mungkin ruangan-ruangan ini adalah penjara, bola-bola batu besar ini mungkin saja borgol yang diikatkan pada kaki narapidana.

Sebelum kami berfantasi lebih jauh, kami memutuskan untuk meninggalkan museum itu. Kami berjalan ke Museum Wayang yang berjarak hanya beberapa meter dari Museum Fatahilah. Beberapa teguk minuman segar dan setelah iseng mencoba kacamata yang lucu, masuklah kami ke Museum Wayang.

Dengan harga tiket masuk yang sama, kami menemukan banyak perbedaan di sini. Pendingin udara yang terus dinyalakan membuat kami nyaman berada di sini. Kami disambut oleh Semar, wayang bertubuh gendut pendek, dengan senyumnya yang lebar. Konon, dia adalah dewa yang berparas tampan yang memilih untuk menggunakan wajah yang dapat dibilang kurang tampan untuk melihat kesungguhan hati orang-orang di sekitarnya. Apakah orang hanya berbuat baik terhadap orang tampan tanpa melihat kebaikan hatinya atau kebalikannya.

Kisah di balik perutnya yang buncit adalah ia menyanggupi permintaan raja yang bertaruh pada siapa saja yang berani memakan gunung boleh menggantikan posisi Raja. Semar menyanggupi permintaan itu dan dia memakan gunung, gunung yang dia makan tidak dapat dikeluarkan lagi, sehingga perutnya menjadi buncit. Raja yang kalah, kemudian menyerahkan kedudukannya kepada Semar.
Image
Puluhan wayang golek yang berasal dari Jawa Barat tersusun rapi di etalase kaca. Di setiap sekat dinding terdapat wayang seukuran manusia. Wayang ini dipengaruhi oleh cerita Hindu. Cerita romansa Rama Sinta dan cerita perang Baratayuda. Keluarga Pandawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa berjejer berbaris rapi di sebelah kanan berhadapan dengan keluarga Kurawa yang berwajah menyeramkan.

Di salah satu ruangan terdengar video pemutaran wayang yang hanya dapat dinikmati untuk rombongan. Selesai menelusuri lorong penuh wayang golek, kami beristirahat di bangku panjang berdindingkan batu bata merah. Di depan kami terdapat tulisan Belanda mengenai Jendral terkenal bernama Coen. Sambil mengistirahatkan kaki, kami dihampiri oleh seorang Bapa yang membawa gunungan dan wayang kulit.

Dia mengenalkan dirinya sebagai wayang Master yang menghafal ratusan karakter wayang serta keturunan ketiga yang pembuat wayang kulit. Dia menyesalkan anaknya yang berumur 16 tahun lebih tertarik dengan PlayStation daripada kehidupan dalang.

Dia yang menceritakan taman ada di hadapan kami itu ternyata kuburan orang Belanda. Kuburan Coen dan jendral Belanda lainnya. Oops… Mungkin saya sudah menginjak kuburannya saat saya berfoto-foto. Bapa beranak tiga ini menjelaskan cara membuat wayang kulit. Mulai dari memilih kulit sapi dikeringkan selama sebulan, lalu disetrika. Kemudian dibuat pola dan ditusuk satu per satu selama 2 minggu dengan hati-hati. Bila ada satu pola yang salah, maka proses pengerjaan wayang kulit harus dimulai dari awal lagi.

Proses terakhir adalah dicat, semua bagian harus dicat satu per satu dan menunggu kering lalu ditambah lagi catnya. Tak heran harga wayang kulit selangit karena proses pembuatan hand made yang memakan waktu sebulan.

Pemilik nama lengkap Aldy Sanjaya ini menjelaskan Gunungan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Tree of Life. Dalam gunungan ternyata terdapat banyak simbol yang mewakili arti tertentu, seperti berikut. Burung simbol dari harmoni, Monyet melambangkan kepintaran. Naga berarti keberuntungan, Macan berartikan ambisi. Kerbau merepresentasikan kekuatan dan terakhir kupu-kupu yang berarti pergerakan.

Di belakang gunungan yang terlihat indah dengan penjaga kehidupan dan semua binatang ini, terdapat monster seram yang berarti neraka. Gunungan dapat disimpan di rumah konon dapat mengusir hal-hal yang jahat serta mengundang kebaikan bagi pemilik rumah.

Wayang kulit semula adalah pertunjukkan yang dikhususkan untuk Raja dan para bangsawan. Tempat duduk untuk pria dan wanita dipisah. Pria dapat menonton wayang secara langsung, sedangkan wanita menonton bayangannya saja. Durasi pementasan wayang semula hampir semalam suntuk. Bila penonton sudah duduk di sana, mereka tidak boleh pulang, tapi harus menonton hingga acara selesai. Dengan alasan modernisasi, aturan-aturan ini sudah tidak lagi diberlakukan, durasi pementasan wayang pun dikurangi menjadi 6 jam saja.

Kami pun berjalan menyusuri lorong yang mengantarkan kami ke lantai dua, banyak wayang yang menarik hati. Dari wayang golek Belanda, pejuang 45, wayang Kristen tentang Adam dan Hawa, wayang Potehi (wayang dari Tiongkok). Ada juga pameran wayang dari negara lain, dari India, China, Perancis, Amerika. Bahkan keluarga Unyil dan Pa Raden ada di salah satu pojok ruangan ini.

Jadi teringat nasib Pa Raden yang sedang mencari keadilan untuk mendapatkan royalti untuk ide cerita si Unyil. Dipamerkan pula satu set degung gamelan yang merupakan instrumen dari permainan wayang.

Selesai tour di museum ini, kami bertemu Pak Aldy di pojok souvenir. Dia menawarkan produk wayang Rama Sinta juga Dewa Dewi Cinta. Perbedaan mereka hanyalah pada alas kakinya saja. Dewa/i memakai alas kaki sedangkan rakyat biasa bertelanjang kaki. Wayang golek pun tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta warna. Ada yang berguna sebagai dekorasi, kipas, pembatas buku, pensil, dll.

Kami berjalan menjauhi lapangan Fatahilah menuju tempat makan. Di tempat ini mereka menawarkan es potong seharga Rp 5.000,00 sangat menggiurkan di hari yang panas. Tapi sayang setelah menyantap nasi dan ikan bakar, perut kami terlalu kenyang untuk mencicip sepotong es krim.

Setelah mendapat energi, kami menawar sepeda ontel untuk mengelilingi Kota Tua Jakarta. Dengan Rp 25.000,00/orang kami mendapat sepeda sewaan, topi sewaan serta tour guide. Sang tour guide mengajak kami ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini dipakai untuk perdagangan hingga pada saat ini. Sayangnya, pelabuhan terlihat kotor dipenuhi sampah plastik.

Kami diperbolehkan menaiki satu perahu besar untuk berfoto kemudian mengayuh sepeda lagi menuju Museum Bahari. Selembar dua ribuan perlu disiapkan sebelum memasuki Museum ini. Gedung yang dipenuhi oleh semua gambar, diorama jenis perahu dari masa ke masa menggugah diriku untuk bermain ke laut. Lagu Aku Seorang Kapiten langsung terbersit di kepala saat aku melihat nakhoda yang kosong.

Kapal Phinisi merupakan kapal tersederhana yang pernah dibuat untuk mengarungi samudra, berbeda jauh dengan kapal-kapal buatan negara lain yang lebih canggih serta lebih kompleks. Nenek moyangku memang seorang pelaut, di gedung 2 lantai ini banyak koleksi kelautan bahkan lagu dan sajak tentang pelaut. Aku tertegun di salah satu gambar tentang bendera simbol-simbol pelaut, bagaimana pelaut membaca langit dan perbintangan untuk berlayar, merupakan keahlian yang membanggakan untuk menjadi salah satu dari Pelaut.

Beberapa maket kompleks bangunan Belanda ada di sini, sayangnya bangunan-bangunan tersebut sudah tidak ada lagi. Bangunan tempo dulu yang masih sampai sekarang terpakai salah satunya adalah gedung ini.  Rasa tidak nyaman menjalar melihat sisi samping dari gedung ini, juga sekaligus merupakan latar yang bagus untuk foto. Tour guide yang bersama kami mengatakan bahwa tempat ini pernah dijadikan tempat syuting film horor. Juga dipakai sebagai tempat foto prewedding.

Selesai mengagumi Museum Bahari, kami bersepeda ke sebuah Menara jaga yang berlantai delapan. Tidak terlalu banyak pengunjung di sana,yang terlihat hanyalah beberapa siswa SMA bersendau gurau. Kami menaiki tangga yang sudah reyot, sampai ke puncak. Di puncak menara, kami menikmati Batavia sambil memberanikan diri tidak menengok ke bawah, karena menara ini tidak mempunyai balkon serta pagar pengaman. Hembusan angin sore yang segar sebenarnya akan membuai kami untuk tetap berada di sini, bila kami punya cukup tempat untuk duduk bersamaan.

Kami melanjutkan olahraga sore ke Jembatan tertua yang sering dipakai Belanda sebelum mereka memberangkatkan perahu-perahu dagang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Menyenangkan berada di jembatan kokoh berusia ratusan tahun itu, hanya bau tak sedap dari sungai membuat kami beranjak dari tempat itu dan beralih ke tempat lain.

Objek wisata terakhir adalah Toko Merah yang dibiarkan kosong. Kami tidak diperbolehkan masuk dan hanya berdiri di depan tembok gedung ini saja. Kayuhan terakhir  menyampaikan kami ke depan Museum Fatahilah. Berbagai orang sedang menonton pertunjukkan di pelataran Museum. Tertarik dengan bunyi-bunyian gendang yang saya mainkan, ternyata mereka sedang melakukan debus.

Mereka membungkus seorang anak kecil dengan kain kafan lalu menyediakan api bakaran. Seorang lagi sibuk melecutkan tali pecutnya ke lantai, pemandangan yang mengerikan buat saya ini, membuat saya berkunjung ke salah satu toko oleh-oleh Kota Tua.

Kepanasan di kota tua, kami meluncur dari kemacetan menuju Ragusa, toko es krim yang terkenal. Berbagai rasa es krim, vanila, coklat, strawberry, rhum raisin, durian dan lemon masuk ke tenggorokan kami menyegarkan membangkitkan semangat kami untuk melanjutkan malam di kota Jakarta. Berada di kota Tua dan segala aktivitasnya membuat kami melupakan kesibukan dan hiruk pikuk kota besar ini.

Image

Pesona Bromo

ImagePergantian tahun 2011-2012 ingin saya habiskan di tempat yang istimewa. Pilihan perjalanan kali ini  jatuh pada kawasan Jawa Timur. Saya dan keempat teman yang lain berkumpul di stasiun kereta Bandung. Kami duduk manis di kereta api Malabar jurusan Bandung-Malang, selama hampir 16 jam. Kelas eksekutif yang dipesan membuat nyaman saya beristirahat. Dinginnya AC terbungkam oleh hangatnya selimut hijau milik PT.KA sebanding dengan harga Rp 300.000,00 yang kami bayar per kursi di hari libur ini.

 Hujan menyambut kami pukul 8 pagi ketika kami menginjakkan kaki di kota Apel. Kami menyantap nasi rawon yang hangat sambil menunggu supir angkot carteran menuju Sendang Biru. Pak Teguh menyapa kami dengan ramah setelah terlambat satu jam. Angkot meluncur ke arah selatan Malang selama hampir dua jam. Setibanya di Sendang Biru, kami mendaftarkan diri kami untuk berkemah di Pulau Sempu. Pulau Sempu hanya berjarak 15 menit menggunakan kapal nelayan.

Image

Tiba di Pulau Sempu, remaja lokal memperingatkan saya agar tidak hiking di sana karna medan yang licin dan berkarang sedangkan saya tidak menggunakan alas kaki. Sepatu kanvas yang terlalu licin juga sendal karet yang saya bawa tidak cocok dengan medan Pulau Sempu yang becek karna hujan. Tiga jam hiking menguras tenaga serta menyayat telapak kaki di bawah air hujan di hutan tropis itu terbayar saat kami sampai di Segara Anak. Lokasi perkemahan yang sudah kami nantikan untuk beristirahat.

Dengan cekatan karena berlomba dengan sisa cahaya sore itu, kami mendirikan tenda dan membersihkan diri di pantai. Hujan turun dengan lebat, membuat pemilik tenda kawatir akan kekuatan tendanya. Malam itu, kami makan perbekalan mie instan dan roti serta  baso. Sekitar jam 2 subuh, hujan reda dan bintang-bintang berjejer menghiasi langit yang mendung. Remaja lokal yang juga menginap mempergunakan waktu-waktu itu dengan bermain bola di pantai. Sekitar jam tiga subuh, suara guruh terdengar, ombak bergulung-gulung, hujan semakin deras, angin sangat kencang hampir menerbangkan tenda kami. Tak ada pilihan lain kecuali berdiam di dalam tenda hingga pagi menjelang. Pulau tak berpenghuni ini merupakan konservasi alam didiami oleh ular sanca,macan,monyet serta hewan liar lainnya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Image

Saat matahari terbit,  kami menikmati alam di sana  dan membereskan tenda sebelum bersiap hiking pulang. Di perjalanan pulang membuat kami jatuh bangun, beberapa barang yang tidak perlu harus ditinggal untuk memudahkan hiking. Sesampainya di Sendang Biru kami membersihkan diri dan minum dawet dilanjutkan ke penginapan di kota Malang.

Selepas membersihkan diri, kami pun berangkat mengunjungi toko Oen yang melegenda. Harga yang relatif mahal tidak sebanding dengan rasa dan porsi yang kami dapat. Kami menyusuri jalan itu dan masuk ke salah satu pusat perbelanjaan dan mencari sepatu untuk dipakai ke Bromo. Dengan menenteng sepatu baru dan kaki yang berbalut plester, kami memutari kota Malang dengan menggunakan len (angkot) seharga Rp 2.500,00.

Mobil trooper pinjaman menjemput kami pukul 1 subuh, untuk menuju Bromo. Demi mencari sunrise dan sudut foto terbaik, kami rela tidur di mobil. Setibanya di sana, ami dihentikan oleh warga lokal yang memaksa kami memakai jeepnya. Rasa dingin menyambut kedatangan kami, tiada sesal walau tidak melihat sunrise. Pemandangan yang selama ini hanya dapat dinikmati di layar televisi atau selembar kalender sekarang ada di depan mata.

ImagePara pedagang berlomba mencari untung dari turis yang sedang menyeruput  segelas teh manis panas cap Naga rasa vanilla. Kami pun  bergegas ke area padang pasir, setelah membeli oleh-oleh bunga edelweiss. joki-joki kuda menghampiri kami dan menawarkan jasanya. Saya dan kawan yang hobi naik gunung memutuskan untuk berjalan kaki sampai kawah Bromo. Joki kuda yang semula menawarkan jasanya seharga Rp100.000,00 getir melihat semangat kami berjalan. Potongan setengah harga diberikan saat kami sudah setengah berjalan. Lalu dia memelas dengan menawarkan harga Rp 25.000,00 pulang pergi… Dengan berat hati kami tolak, karna kami ingin menapakkan jejak kaki kami di sana.

Teringat cerita masyarakat Tengger yang memberi korban pada gunung Bromo, sepenggal cerita nusantara yang diberitahu oleh guru di sekolah dasar. Kawah yang masih aktif ini terlihat indah juga menyeramkan dari dekat karena sangat landai dan ketiadaan pagar pengaman. Di samping hamparan padang pasir,Bromo pun punya savana padang rumput yang sangat indah dan memanjakan mata. Matahari yang terik tidak menghalangi kami menikmati keindahan alam yang ada, sampai akhirnya saya menyadari bagian dahi saya panas terbakar matahari. Puas dengan Bromo, kami melancong ke coban (air terjun) Pelangi  setinggi 50 meter juga mengunjungi Candi Jago yang merupakan pemakaman Raja Singosari ke 4. Untuk mengisi tenaga, kami pun memulai pencarian kuliner. Nasi soto, kupang lontong (lontong dengan kerang kecil berkuah gurih) serta seafood favorit. Perut penuh, hati senang, kaki pegal membuat malam ini kami tertidur pulas. Image

Keesokan harinya, dimulai dari mencicipi durian depan penginapan, kami menyambangi Candi Singosari dan arca Dwaparala serta pemandian Ken Dedes. Di jam makan siang kami meluncur ke Warung Inggil, warung jadul ini menyuguhkan masakan  Indonesia tempo dulu bukan hanya interior ruangannya tapi juga menyediakan mini museum di sana. Musik gamelan mengiringi makan siang kami kali ini. Rasa yang enak, harga yang pas membuat kami puas.

Tak lupa kami menengok toko suvenir di depan warung inggil, kami membeli topi blacu yang cocok saat kami gunakan di Museum Brawijaya yang akan kami datangi. Museum bertarif Rp 2.500,00 ini menyimpan koleksi sejarah militer. Panglima Besara Soedirman berdiri tegak dan berkata “lanjutkan perjuanganmu” membuat kami bersyukur hidup di era kemerdekaan ini. Image

Hari terakhir di tahun 2011 ini,  kami habiskan di rumah sanak saudara teman memasak barbeque dan menonton kembang api. Hari pertama di tahun 2012, bermodalkan sarapan pecel, kami menaiki motor dan menyusuri Malang sampai ke Batu. Banyak tempat menarik yang ditawarkan di kota wisata ini. Secret Zoo, Batu Night, Jatim Park dipadati pengunjung. Kami melewati Senggoriti dan berhenti di Payung. Banyak kafe pinggir jalan di sana seperti di kawasan Puncak, Jakarta atau Lembang,Bandung. Kami disuguhi pemandangan kota Malang dari atas bukit ditemani roti bakar dan jus apel.

Hujan kembali membasahi bumi, kami berteduh di Batu Town Square mall yang baru diresmikan. Di sana kami mencicipi keripik buah seperti apel, buah naga dan nangka. Petualangan yang penuh tantangan ini ditutup dengan kedinginan di motor dan tersesat sebelum sampai ke stasiun Malang.  Perjalanan akhir tahun yang menyenangkan dan tak terlupakan akan selalu terkenang dalam memori.

Image

0 BAHT

Mencari baht di Jakarta di hari libur tidaklah gampang. Aku dan temanku mencari baht ke money changer dekat apartemen, lalu Sarinah terakhir kawasan Jalan Sabang. Dari sekian banyak money changer akhirnya aku menemukan kedai penukar uang mungil yang memenuhi permintaanku. Setelah makan siang di restoran pizza, aku diantar temanku ke bandara Soekarno Hatta terminal 3. Bandara yang baru dibangun itu, sangat mewah dilengkapi pertokoan dan ruang tunggu yang nyaman. Semoga semakin banyak wisatawan yang datang ke tanah air.

Perjalanan kali ini aku dan teman-teman akan mengunjungi negeri Gajah, Thailand. Penerbangan 3,5 jam membuatku lapar dan mencicipi kebab serta teh hangat di atas awan. Setibanya di Suvanarbhumi airport Thailand, aku dijemput kakakku yang sedang berlatih kick boxing di sana. Kakakku yang tinggal di Rangsit, menjemputku di bandara untuk mengantar ke penginapan. Kami memilih Khao San road, tempat backpacker menginap dari seluruh penjuru dunia.

Image

Khao San road hampir mirip dengan Malioboro Yogyakarta, selalu ramai dengan wisatawan dan pedagang baju, makanan, souvenir, cafe dan lainnya. Walau kami tiba di sana jam 9 malam, kakakku dengan antusias mengajak kami berkeliling dan mengenalkan kami dengan kawan-kawannya. Dia lumayan mengenal kawasan ini karna pernah berlatih di sasana kick boxing di daerah ini.

Dia juga mengenal baik pedagang baju yang dia jadikan langganan untuk barangnya dijual lagi di tanah air. Thai boxing sedang menjamur di Jakarta, kakakku salah satu orang yang meraup rupiah dari trend ini. Kios yang menarik adalah kios kepang rambut. Tidak hanya kepang, rasta, juga ada dreadlocks (gimbal). Bila tak punya rambut yang panjang, mereka menyediakan jasa extention menggunakan rambut palsu. Kupilin rambutku dengan benang ungu, seharga 35 baht.

Temanku yang lain mencoba panganan pad thai (mie Thailand) seharga 40 baht. Kios 24 jam berdiri di sela-sela kafe yang juga buka sampai subuh. Wisatawan mancanegara memenuhi jalanan ini, dengan rambut berkepang warna warni berkaoskan gajah, mereka menenteng botol-botol minuman keras. “Negara ini bebas,” ujar kakakku. “Di sini harga minuman keras sangat murah, bahkan obat terlarang pun mudah didapatkan.”

Tattoo artist sangat banyak di tempat ini, mereka menjual keeksotisan huruf Thailand juga mantra-mantra untuk kehidupan. Kerap kali tattoo dijadikan kenangan seumur hidup oleh para wisatawan asing. Menurut kakakku, harga pemasangan tattoo di Bangkok jauh lebih murah daripada di Jakarta.

Saat teman-temanku sudah lelah dan kembali ke hotel. Aku dan kakakku sibuk memilih baju-baju seharga 200 baht. Di tengah kelelahanku menaham kantuk jam 1 subuh, aku mengemil buah segar seharga 20 baht. Melon berwarna kuning keoranyean menyegarkan tenggorokanku. Kakakku menawar barang dan sesekali mengemil gorengan yang dijajakan seharga 10 baht. Dia memperlihatkan serangga yang telah digoreng. Awalnya kuingin mencoba, tapi di saat pedagangnya menyuruhku membeli dalam jumlah yang banyak, aku mengurungkan niat mengunyah ulat, lebah dan serangga lainnya.

Keesokan harinya, orak-orik telur, bacon serta roti panggang tersedia di hadapanku sebagai sarapan juga minuman favoritku teh susu. Kakakku mengajak kami ke area Sukhumvit, tempat perbelanjaan seperti Orchard Road, Singapura. Kami mengunjungi satu tempat terkenal dengan julukan Four Faces Buddha dimana ada patung Buddha yang mempunyai 4 wajah menghadap ke 4 penjuru mata angin. Banyak pengunjung yang datang untuk berdoa dan minta berkat. Pemain musik dan penari tradisional tidak berhenti memeriahkan suasana.

Image
Setelah menyantap makan siang, kami mengunjungi Discovery mall untuk masuk ke Madame Tussaud Museum. Berbagai patung lilin figur terkenal baik lokal (Bangkok) maupun luar negeri ada di sini. Ini menjadi museum favoritku, karna aku bisa melihat, meraba bahkan berfoto dengan mereka. Tokoh politik Mahatma Gandhi hingga Barack Obama ada di sana, Lady Diana dan Aung San Suu Kyi berbagi ruang bersama.

Pengunjung dapat ikut serta memainkan alat peraga yang ada di sana. Contoh bermain piano bersama Beethoven, bermain golf bersama Tiger Woods, berlatih kungfu bersama Bruce Lee, bernyanyi bersama Beyonce dan masih banyak lagi.

Setelah berfoto dengan semua artis Bollywood, Hollywood dan bahkan Doraemon, kami melihat bagaimana cara membuat patung. Sayang kami tidak dapat melihat wajah Madame Tussaud karna sedang dalam perawatan.

Kami melanjutkan perjalanan ke museum art dekat mall. Lalu mencicipi Tom Yam Goong, sup seafood kaya rempah, sebelum kami bertemu teman lainnya di Hotel JW Mariott. Hatiku berdegup memasuki hotel ini, ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu di saat hotel bernama sama dibom oleh teroris di Indonesia. Semoga tidak ada teroris di negara ini.

Tak lama menunggu, kami bertemu dengan teman kami dan teman ayahnya yang merupakan misionaris Amerika. Mereka telah tinggal di Thailand selama 20 tahun. Mereka tergerak akan pemberdayaan wanita di Bangkok. Kami dijamu makan malam ala Mediterania di sebrang jalan Sukhumvit. Chapati yang dihidangkan hampir sama rasanya dengan chapati yang kumakan di restoran India. Roti ini disajikan dengan daging domba panggang yang sedap serta salad sayur yang sangat menggoda selera. Ingin rasanya menambah terus, tapi perutku ada batasnya.

 

Image

Setelah kenyang, kami berjalan kaki menuju jalan Nana. Di sini tempat lokalisasi Bangkok, kami tidak menyangka kami akan mengunjungi tempat ini. Di mana kenyataan pahit harus diderita oleh kebanyakan perempuan di bawah umur untuk bekerja di bar dan melayani pengunjung demi baht. Tak terhitung banyaknya cafe, resto, bar juga hotel yang menyediakan jasa ini. Sesak dadaku saat kutahu, perempuan ini datang dari pelosok Thailand ke Bangkok, mencari rejeki untuk dibawa ke desanya. Mereka bertugas untuk menghidupi dan membiayai keluarga mereka.

Misionaris yang sedang menjadi tour guide kami menyewa sebuah rumah di ujung jalan. Sepi. Tidak seperti hiruk pikuk musik disko di ujung jalan lainnya. Di rumah ini, pasangan misionaris memberi pembekalan pendidikan untuk perempuan yang menginginkan kehidupan baru yang lebih baik. Mereka diberi ketrampilan menjahit, memasak, menggunakan komputer, menyulam, membuat tas dan kerajinan yang kemudian dijual. Beberapa dari mereka disekolahkan. Ada juga yang kabur dan kembali bekerja di cafe tersebut.

Mereka yang kembali ke kehidupan malam, mengaku tergiur akan banyaknya uang yang mereka dapat. Tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapat bila mereka harus bekerja di siang hari. Pasangan misionaris ini dibantu oleh penduduk lokal diberi pelajaran bahasa Thailand dan memberi konseling bagi para gadis. Menanamkan nilai-nilai Kristianitas dan menjalani hidup baru dalam sel grup.

Jam sepuluh malam, kami pamit pulang. Kami berjalan menuju stasiun sky train menuju stasiun bus. Tenggelam dalam kemacetan menuju Khao San road, pikiran kami penuh dengan perenungan masing-masing tentang kisah para gadis di red district. Supir bus menurunkan kami di halte terdekat menuju hotel. Hujan mengguyur kami, Bangkok terlihat sama dengan Jakarta, banyak orang yang tertidur pulas di pinggir toko yang sudah tutup. Mereka menggelar tikar beramai-ramai menghangatkan tubuh yang kedinginan karna hujan. Kami berjalan cukup jauh menuju hotel.

Barulah keesokan harinya kami mengetahui tempat pemberhentian bus yang lebih dekat menuju hotel. Ternyata kami berjalan Imagememutar kemarin malam. Kami naik bus, lalu menuju stasiun kereta dan mengambil arah Sukhumvit. Kereta lengang sepi penumpang, karna hari itu Minggu Paskah jam 8 pagi. Mungkin tidak banyak orang beraktivitas sepagi ini. Kami berjalan menyusuri Sukhumvit mencari gereja yang ditunjukkan oleh pasangan misionaris kemarin malam.

Akhirnya kami menemukan sebuah gereja yang sedang merayakan ibadah Paskah, mereka menjamu semua jemaat mencicipi makanan khas Thailand. Mereka juga menyediakan berbagai minuman segar yang langsung kureguk saat salah satu jemaatnya menawarkan padaku. Panasnya Bangkok terhapuskan saat jus jeruk mengaliri tenggorokkanku. Saat yang tepat mencoba sticky rice (ketan) khas Bangkok yang disajikan dengan daging panggang.

Gereja yang kami kunjungi memakai Bahasa Inggris sehingga kami tidak kesulitan menyanyi dan mendengarkan kotbah. Sebelum beranjak dari gereja, kami bertanya ke beberapa orang jalan menuju stasiun MRT. Hanya beberapa blok, kami pun berjalan kaki. Panas terik membuat keringat kami yang berjatuhan. Saat kaki kami berteriak pegal, sampailah kami di stasiun kereta bawah tanah.

Kami memilih stasiun Catucak. Pasar akbar yang hanya ada di akhir pekan menjadi tujuan kami hari ini. Jajanan seafood goreng menjadi menu kuliner kami. Setelah mengisi perut kami dengan berbagai masakan khas Thailand juga menyiram tenggorokan dengan Thai tea, kami bersemangat berbelanja. Kebanyakan kios telah mematok harga murah, sehingga kami tidak perlu menawar. Kalaupun kami harus menawar, sang penjual langsung menyodorkan kalkulatornya.
Surga belanja, tepat dikatakan demikian. Bukan hanya sandang dan pangan, mereka juga menyediakan banyak barang keperluan rumah tangga lainnya. Panasnya udara membuat kami menghampiri kedai es krim yang disajikan di atas kelapa mungil. Rasa es krim vanilla meleleh di lidah, daging kelapa muda sangat memanjakan gigi kami terbayar seharga 30 baht saja.

Kami pulang membawa banyak belanjaan. Bila ingin menawar dan tidak ingin membeli kemahalan, langsung dikalikan dengan kurs rupiah. Ada beberapa barang yang harganya sangat murah, tapi karna kusalah menghitung kurs, jadi tak kubeli. Sekarang menyesal.

Sekembalinya kami ke Khao San Road, kami bersiap-siap untuk makan malam. Kami mencoba jajanan pasar malam Khao San Road. Hujan besar melanda, kilat menyambar. Kami pun berteduh di sebuah Irish Bar, untuk teman kami yang berkebangsaan Irlandia. Aku memesan jus karna tidak minum minuman beralkohol. Saat pesanan udah di atas meja, kami mengangkat gelas dan toast dikumandangkan. Saat kucoba, jus apel kali ini berasa lain. Temanku yang memesan bir, merasa demikian. Ia heran kenapa birnya sangat manis. Akhirnya kami tahu, minuman kami tertukar karna warnanya serupa.

Sebenarnya kami ingin memilih bar itu karna melihat meja bilyar. Kami ingin bermain bola sodok, tapi setelah tahu mereka yang bermain di sana sedang mengadakan pertandingan siapa yang terhebat, kami menghapus nama kami dari papan waiting list. Setelah hujan reda, kami pulang ke hotel, sementara teman kami menjelajah Khao San Road.

ImageHari ketiga aku dan temanku berencana mengunjungi kuil dan istana serta museum; sedangkan temanku lainnya ingin melihat SeaWorld. Akhirnya kami berpencar. Aku dan temanku cukup sedih saat tahu istana dan kuil-kuil ternama sedang tutup karna ada perayaan peringatan berpulangnya sepupu raja. Pemerintah menutup jalan-jalan untuk kepentingan perhelatan besar ini. Mereka berbaju hitam-hitam berkumpul di lapangan besar depan Istana. Tembakan meriam berkali-kali kudengar, menggetarkan tanah yang kupijak. Berkali-kali kupikir ada gempa, ternyata meriam.

Museum yang akan kami kunjungi pun ternyata tutup di hari Senin. Jadi kami memutar arah menuju China Town menggunakan tuktuk (angkutan umum Bangkok seperti bajaj) setelah melihat upacara perarakan jenazah yang sangat meriah. Saya belajar menggunakan bahasa lokal dengan supir tuktuk. Juga mencoba mengendarai tuktuk. Sesampainya di China Town, saya mencoba durian! Sayang tak ada teman yang juga suka durian :(

Kami mengenyangkan diri di salah satu restoran yang mengingatkan kami akan kawasan King Garden Bandung. Kami berbelanja dan mengunjungi kuil terdekat. Kepanasan di sana, kami pun mulai menawar barang untuk oleh-oleh. Sang penjual memulai percakapan dengan bahasa Inggris memberi kami harga yang tinggi. Saat dia tahu kami dapat bercakap dengan bahasa Mandarin, dia langsung memberi diskon besar.

Kami terus menjelajah mengunjungi kuil demi kuil hingga bertemu satu wisatawan asing yang berbagi tuktuk dengan kami. Kami mengunjungi beberapa kuil dan menanjak ke Golden Mount, kuil yang berada di bukit menawarkan pemandangan kota Bangkok. Lalu, kami berhenti di salah satu taman umum karna tuktuk tertahan di sana, penutupan jalan untuk acara kenegaraan. Kami diperintahkan untuk berdiri saat mobil yang membawa putri raja melewat ke arah kami. Kami pun berjalan ke Khao San road mengantar teman perjalanan baru kami.

Malam itu, kakakku datang dan membawa sekantung penuh belanjaan yang akan dia berikan pada teman-temannya di Bandung. Aku dan temanku berkewarganegaraan Amerika memilih pijat ala Thailand sebelum kami tidur. Sejam pijat sangat menenangkan syaraf dan melemaskan otot kami. 200 baht yang kami bayar pun kami tukar dengan rasa nyaman.

Hari terakhir di Bangkok, kami habiskan berjalan-jalan dengan tuktuk seharga 20 baht menuju ke tempat-tempat wisata yakni kuil-kuil seperti What Pho (sleeping Buddha), Istana dan lainnya asalkan kami berkunjung ke salah satu tempat kerajinan perhiasan. Istana masih saja ditutup karna alasan perayaan kematian sepupu raja. Jadi kami diberi tahu penduduk setempat untuk mengunjungi kuil Standing Buddha, Black Buddha dan Lucky Buddha. Kami datang di hari yang salah, hari Selasa adalah hari libur jadi kuil-kuil tutup. Tempat perhiasan yang dimaksud pun kurang menarik hati.

Kami pulang, check out dan membawa seluruh bawaan kami ke dekat dermaga untuk naik perahu menyusuri sungai Chao Praya. Di dekat dermaga terdapat penjual nasi campur yang sangat enak. Tak lama menunggu setelah membeli tiket perahu, kami masuk ke perahu serta mempersilakan biksu masuk terlebih dahulu. Awalnya aku ingin mempersilakan biksu untuk duduk, ternyata mereka tidak diperkenankan berbicara dengan seorang gadis.

Perjalanan melewati Chao Praya sangat menyesakkan hati, karna aku dapat melihat berbagai kuil yang tidak sempat kukunjungi karena perayaan kerajaan itu. Tak mengherankan seluruh tempat wisata ditutup untuk kepentingan keluarga kerajaan, karna penduduknya sangat memuja raja. Foto-foto raja ada dimana-mana dan ia punya tempat luar biasa di hati rakyatnya.

Sesampainya kami di stasiun kereta, kami membeli tiket menuju airport. Perjalanan 1,5 jam menghantarkan kami ke Suvarnabhumi airport. Bandara megah nan luas dimana kami akan menunggu jam-jam kepulangan kami ke tanah air. Ternyata pesawat kami ditunda, artinya lebih banyak baht yang kami harus habiskan di bandara. Petugas bandara hampir salah mengenaliku sebagai wisatawan lokal yang menyuruhku berbaris di garis lokal bukan internasional.

Salah satu turis asing berbadan tinggi besar memelototiku saat aku berbicara dengan temanku. Dia membutuhkan kursi milikku untuk membetulkan tali sepatunya. Tanpa sepatah kata, mana kutahu apa yang dia mau. Saat dengan sopan kutawarkan bangkuku, dia marah dan berkata “it was too late.” Sangatlah berbeda dengan nenek tua yang kutawari kursi kosong sebelahku, dia tersenyum dan berterima kasih.

Bangkok, 1000 kuil, 1000 cerita suka dan duka. Kudatang lagi untuk melihat keindahan istanamu.

Image

Quiet Escape

IMG_3277Travelling is an enjoyable pleasure, especially if you get a free ticket. A friend of mine gave me a round-trip ticket from Bandung to Bali during the Ramadan break in 2013. I took an evening flight from Bandung, and arrived at the Ngurah Rai airport where my friend picked me up.

The next morning, we took a morning walk and had breakfast. I love the Ubud atmosphere. It is just perfect. We went to the monkey forest and an art museum. We saw giant paintings and relaxed in the Balinese bale-bale.  We looked at rice fields while we sipped a cup of tea. We walked down to Ibu Oka’s restaurant where the cute sidewalks are full of love messages. I love the neighborhood there, and of course the meal was delicious.

We drove around Ubud and rested in a gelato ice cream shop. 2 scoops of gelato in the middle of hot day was perfect. It was my cousin Paulus’ birthday. We went to Sunset Road in Kuta and gave him hugs and homemade lasagna as his present. He seemed so surprised yet happy. We met another friend and went to Jimbaran. We had an awesome seafood dinner on the beach and enjoyed the live music, the stars, and the waves.

IMG_3317

Early in the morning, I took a Perama bus to Sanur. It cost me Rp 140.000,00. I arrived in Sanur  and waited for half an hour for the boat. I walked to resorts and sat near a French guy. He was waiting for his wife, and we started to speak French. We quickly became friends and decided to stay in the same hostel. It took us less than 30 minutes to see another paradise called Nusa Lembongan. Unfortunately, we took the wrong speedboat and they dropped us in Mushroom beach. I tried to call the person in charge of Perama to take us to another side of the island. We were waiting for the taxi boat to take us, along with 2 British tourists.

IMG_3300I hurt my knees when I hopped on the boat. I went to a local home-stay belonging to a lifeguard in Kuta beach. I met him last year and he offered for me to stay in his family’s home-stay. I arrived there and asked for another room for my friends, the French couple. They got the room. Yeay! We had lunch together in a restaurant full of Japanese tourists. The waiter was going to turn us away because their restaurant was reserved, but the owner was kind enough to let us have lunch there.

I went to a traditional funeral ceremony while the French couple rented bikes to ride around the island. I met a local guy named Mr. Nyoman who drove me around the island on his motorbike. I was so glad to meet him.  We saw the most beautiful sites in Nusa Lembongan and I swam for a while. I brought no extra clothes which made riding the motorbike in wet clothes unenjoyable.

We missed the sun set in Nusa Lembongan, but met the French couple and asked them to have dinner. We had Balinese fried chicken and shared about our day. We were so tired and went to bed early.

The morning I was waiting for: a boat picked me up to snorkel for the day.I paid Rp 150.000,00/person/day. I met another French guy named Christian and another tourist couple. We had 5 different spots to explore. The first one had manta rays.  When they swam nearby, they made my heart beat faster. I went to the boat and started to vomit. I guess I was sea sick. The current was so strong, and I had not had enough breakfast that morning. I slept in the boat while my new friends snorkeled. At the second spot, my head was still dizzy, but I tried to snorkel. I rested again until we went to the third spot. I chose to lie down on the beach while the others were looking at the sea life. I felt better and put on my mask to see the fourth spot. This time was the most amazing. I could feel the coldest water in 5 meters, then warm water in the next 5 meters, and then cold and warm. The fish were so colorful and everything looked great until I felt headache coming on. Before we hit the last destination I asked Christian to massage my neck but he couldn’t do it right. We arrived at the last spot and saw a mangrove forest on the other side of the island. We went back to the home stay and said goodbye.

IMG_3505It was a wonderful day but my head was so heavy, I decided to take a nap. After my nap, I had noodle soup for late lunch. In the evening, the life guard, Mr. Ngurah, gave me a coconut and I drank it. I hung out in the receptionist’s area, and helped out travelers who passed by and asked questions. He invited me to see another funeral ceremony (it is the biggest event in Bali called Ngaben), and we had dinner afterwards. We went back and I visited with the French couple before going to bed.

I woke up in the morning to say goodbye to Giles and Patricia, my French parents. We had a farewell breakfast and they invited me to stay in their house if I go to Paris. I’d love to do it. Patricia gave me euro tissue paper which I used to wipe my fake tears when I saw their boat was leaving. I saw locals loading food supplies, and talked with a guy who works for Perama. I went back to my home-stay, said goodbye to Mr.Ngurah and his family, and headed to Sanur. I sat with a surfer and had a good time talking with him.IMG_3529

My friend was waiting for me in Sanur, and we had lunch with another friend. I bought some local food for my mom and brother in Krisna. I shared how happy I was on the island and felt so thankful to have that trip on my own. I went to the airport and said another goodbye to my friend who hosted me in Bali. A short trip in Bali with French speakers, made me feel that I was not in Indonesia.

Backpacker Indochina

20-12-2012 was the day I went to Vietnam for 16 days. It would be th IMG_6623e longest trip that I had with my friend. We were looking for the most adventurous journey this time. We had not prepared anything. We believed that we would survive with a Lonely Planet book J My favorite travel shuttle, Xtrans, took us to airport that morning. It was too early to check in actually, and sadly the officer told us that our flight was delayed. We were a little bit upset, why they didn’t inform us earlier? Then we could have rested in Bandung longer before going to Jakarta. Anyway, we accepted the bad news and walked to an executive lounge that they had prepared for us. It was too crowded and we couldn’t find a couch. There was a man lying down on a couch and there was an empty couch in front of him. We were sitting there and waited until he woke up.

He was a Chinese guy who worked in Ho Chi Minh. It was perfect; we tried to ask as many questions as we could to him. Unfortunately, he had no idea about that country because he had just moved there. At least, we had a new friend to talk with for the next 6 hours. It felt like ages waiting for our flight. Finally, we could get on the plane. I sat with a Canadian guy who works as a teacher in Jakarta. He was so nice, he offered for us to check whether any rooms were available in his hostel when he hear that we hadn’t booked a room yet. It was 1 a.m. when we arrived there, and it was a difficult to find metered taxi. So we walked out from the airport and found taxis. He led us to the Ben Tanh market area and booked a room.

In the morning, we went together to Notre Dame, a Roman Catholic church, and an old post office. We headed to Ho Chi Minch museum and learnt Vietnamese history. The most exciting part was looking through their underground tunnel from when America attacked them in 1970. It was hot outside and it was great to have lunch and a cold drink. We had salad and tried the same food that local people ate. We walked around the city, which was full of Christmas ornaments. We had to be careful when we crossed the street since thousands of motorbikes would pass without stopping.

We had a long day walking and then exploring night markets. I was giggling when I saw so many similarities between my hometown and here. We tried to find a karaoke room, but they were all full.  The day after, we said goodbye to our sweet Canadian friend, he was going in a different direction. We found a travel agent who helped us to go to Chu Chi Tunnel. It took us almost 2 hours in the car to see 3 levels (3, 6 and 9 meter depths) of tunnels made by the farmers. They made kitchens and wells to support their daily lives. I couldn’t imagine how to live there. There was almost no oxygen down there!

They made the cruelest, yet creative, trap for their enemies, which helped them win the war. We ate cassava and drank green tea like the civilians used to eat in that time.

We met a Malaysian guy who gave us a Cambodian map. We gave him all the information we knew about Ho Chi Minh as a trade. We packed our things and waited in the wrong place. It was an ineffective thing that we did. Thankfully the travel agent was there and found us. We left Vietnam and arrived in Phnom Penh a day after. It was our first sleeping bus, and we enjoyed it. At lunch time, I traded my Dollars to Riels and learnt some Khmer words from a food seller. We needed another 6 hours to get to Siem Reap. It was extremely hot and boring sitting down in the bus. On other hand, I made friends with Jane, a yoga teacher from England, and a local man who helped me to order food.

We saw the prettiest sunset and agreed to find a hostel together, but that plan was canceled when our tuktuk (traditional transportation) driver took a different way. Our tuktuk was special; there was a Batman sticker on it. The driver was so friendly as well. He took us around before we checked in to a cheap hostel with a swimming pool. We stayed in the 5th floor and they didn’t have an elevator which was very good exercise. They charged us $15/night for 2 double beds, a bathroom, and a balcony, plus a computer with internet.

IMG_6950

            After swimming, we went to Angkor Wat. Our new tuktuk driver charged us $20 to explore this amazing temple area. We bought a one day pass for $20. They offered 3 days and 7 days with different prices. You can rent a bike, tuktuk, motorcycle or car to get around, or walk. The first time I got there, I felt so peaceful. There were thousands of trees which contributed fresh oxygen for us, and a lovely garden with a fish pond, as well as magnificent aged temple. As a touristic place, of course they had many food and souvenirs vendors. The price was reasonable for some clothes and I got one piece. You have to bargain to get a cheaper price or you should buy things at a less visited temple. There are so many temples under construction that needed foreign aid.

IMG_7071 My favorite temple was Ta Prohm, where an aged tree could grow through the temple. It was so amazing. We met an American guy who was on the same bus with us. I wondered whether I could meet Jane again. We had pork ribs for lunch and found a travel agent to go back to Vietnam. Unluckily, they had no idea how to get to Laos. They said it is impossible to take a train or bus from Cambodia to Laos. We felt sad and went back to our hostel. We went out to the night market and had dinner. We saw busses arriving and dropping tourists in Pub Street, the most crowded place in Cambodia. It was Christmas Eve, and everyone was dressed up like Santa Claus. The beer price was so cheap, 1 bottle for $1.  No wonder all the cafes were full of foreigners.

We watched a free Apsara dancing show at 9 p.m.  While waiting, we bought fork rings to support street children in Cambodia. The next morning, we rented bikes for $1 each to get to some places shown on the map. We went to a museum and some temples, then had a relaxing picnic near the river. We loved Siem Reap since it was so easy to get around if you had a map. We took a night bus to Ho Chi Minh.  I met a Thai guy who wore the same brand of sneakers as me. We traded information, since he had been to Hanoi. We arrived and met a German guy, and we agreed to spend the day together. We went to an art museum, and he led the way to the riverside based on his travel guide book.IMG_7183

We had street food for lunch, followed by kem (ice cream). We went to the park and enjoyed some attractions. We saw traditional musicians, a mini circus, and others. We would go to Hanoi together, but he was going by train and we took the night bus. We arrived in Nha Trang in the morning. Sleeping in the bus for 10 hours was not bad at all after our longer experience before. A man who rode a motorcycle offered us a ride to find a hostel. We found one with an elevator and balcony at the top so we could see the sea. We stayed in the 2nd floor, so basically we didn’t use the elevator.

My friend was so tired since she couldn’t sleep on the bus. So I walked to the beach and found a man selling fresh seafood. He sold cheap packages. I bought one and ate them happily. I wished my friend could join me here. We went out in the evening to go sightseeing.   We started from the nearest mall, to the church, and then the night market. I went back to the hostel by pedicab under the moonlight. The sea was roaring at all times, and I was hoping no tsunami would hit this place.

IMG_7601    I joined Funky Monkey travel to do snorkeling in Nha Trang islands. I paid $8 for a day trip. My friend chose to sleep at the hostel, so I should make some new friends that day. Luckily there was a family in my van.  Their daughter was so friendly, and suddenly we were best friends. We went to the large aquarium which was decorated with a pirate theme. I taught my new 7 year old friend. We went to another island and did snorkeling there. It was not bad, I was glad I could swim in the sea. There were a lot of foreigners from different countries so the tour guide set up a stage for us to introduce ourselves, and we sang and danced.  We had a big lunch, shared with 20 passengers on top of the boat.  We had a really good time and they gave us a free cocktail drink if we jumped in to the water. They had a mini bar in the water which was so cool. We went to the last island but I chose to stay in the boat to read my book. It was raining when we arrived back at our hostel and said “see you soon” to a German couple who would go to Hanoi like me.

My friend was lying down and watching TV. I took a shower and we got ready to go catch the night bus to Hanoi. I met an Irish guy who was waiting for the bus; we had met in the Chu Chi Tunnel. We talked for a moment and I gave him my book. The road was awful; I bumped my head several times. It was worse for him, he stayed awake for hours. He stayed in Hoi An while I took another bus to get to Hanoi. We had lunch at Hue and met a French guy who shared a taxi with us while he was waiting for his friend in Hanoi. A big local guy offered us a room and breakfast in the hostel where he worked. We put our things down and went to bed. I woke up and walked around to get some refreshment and ear covers. I went back to the hostel when I got enough information to go to Ha (deep) Long (dragon) Bay.

We took an evening walk to a temple near the lake. They say there is a turtle inside, hiding a sword under the lake. We went to the theatre to watch the most famous water puppet show. Too bad, the tickets were sold out. We walked sadly to the church and joined the mass. It was warmer inside; we enjoyed our quiet time in there since we couldn’t understand a single word from the ceremony. We ate some fried food which was so yummy, and sat down on a bench to enjoy the evening. We watched the veteran performances in the park. They wore Vietnamese traditional clothes and sang and danced happily. It was a cold day, so we went back to hotel and prepared our backpacks to go to Ha Long Bay in the morning.

IMG_7882  A travel guide in a van picked us up and then some other tourists. We were in the bus for 3 hours and stopped at a rest area selling ceramics and Vietnamese souvenirs. Finally we arrived in the harbor and got on the boat. We got lunch and met a dozen new friends from all over the world. They were from China, Europe, India and South America. We went to the cave and saw stalactites which looked like animals or humans. The view of the sea was wonderful. Ha Long Bay was the most peaceful place for me. The boat was sailing slowly so we could see all the stones and I enjoyed every second of it. We stopped to see the floating village and rent another small boat to see the James Bond cave. The other passengers were enjoying their time kayaking. I chose to lay down and read in the warmth of the sunlight.

It was very beautiful to see the sunset and everything was so dark and calm. We went to the boat for a New Year’s Eve dinner and gave thanks together. Some of the passengers chose to sleep, but the rest of us were sharing about the places where we live. We stayed awake until midnight and had a small New Year’s party, including a dance led by the Indian guy. We had a great time, but the boat members looked so annoyed with that. We slept in nice and comfortable beds on the deck and woke up in the morning to see the sunrise. No one could wake up; I was alone enjoying my morning time. Then a Spanish guy came and took some sunrise pictures. His dad came along and we had a conversation in Spanish.

I really wanted to jump in to the water but no one would help me get back in the boat. So I thought I would do it next time. We had breakfast, headed to the port, and had a farewell lunch with the Chinese group. We went back to Hanoi and took a night bus to Hoi An, another relaxing city with nice weather which was a World Heritage town support by UNESCO. We took off from the bus and had no idea where we should go. Luckily, there was a German guy who had brought his map.  We just followed him and waved goodbye because we stayed in different hostels. Gratefully, we met a local guy who offered us a great deal for a room and they had a swimming pool. Yeahhh… I could swim after the night’s long trip.

IMG_8056

            We took a walk around the old city and wondered about the buildings. I bought some dragon fruit in a traditional market and tried some local foods. We entered a riverside café and had dinner in the magical sunset light. We rented a bike for one dollar the next day. I cycled to the beach and had a delicious breakfast nearby. I bought a baguette for my friend before we cycled around the city. We visited some temples and rested on the corner of the block. We had cold dessert and asked a random local guy to eat with us. It was an honor for us to bless others. We couldn’t understand what he said, but we could see his smiles which meant he was happy.  My favorite thing to do was sit down and look at the old buildings by the river. It was just so pretty. There was an American teacher who was painting that background. I couldn’t wait to see what it would be. We headed to the bus station and caught the last night bus to Ho Chi Minh. It took us to Nha Trang, the beach that I loved the most. We had Pho (Vietnamese beef noodle) and spring rolls as our breakfast. We went to the beach and hopped on the bus. It was the longest and most boring bus trip. I couldn’t sleep since it was day time and I couldn’t read, so I tried to get the attention of a girl in front of me. She was 3 years old, and from France. We ended up playing together and combed each other’s hair. I felt like I was playing with my Barbie.

IMG_8211  We had lunch at Hue and she left. We stayed on the bus until night and went to the first hostel near Ben Tanh market. The receptionist still remembered us. I bought dinner and slept. The next morning, I walked around to find the food stall that the Canadian guy had told me about. I found it and I asked my friend to have breakfast there. We went to Ben Tanh market and bought some souvenirs. My friend chose to go back to hostel and I went to the park nearby. I sat down and listened to someone playing the flute. I ate my lunch and watched some photographers take pictures.  I felt so relaxed until I realized I didn’t know how to get to the hostel. Fortunately, I met another random guy who looked it up on his map. I asked him the direction and we talked for hours before he walked with me to my hostel.

My friend was watching TV and we packed our things for the last time and said goodbye to the receptionist. We took a taxi to the airport. We were overwhelmed from eating Vietnamese food and chose Burger King as our dinner. It was so tasty! We flew back to Jakarta and waited for the last bus to Bandung. I arrived at home when the sun rose and was ready to do laundry.

IMG_6994

Mother’s Day Trip

My mom and I had received a round trip plane ticket from a friend. We were so blessed to have 6 days break in the middle of May. We went to the airport by Xtrans travel from Cihampelas. It cost us Rp 105.000/each. We arrived to terminal 3 and there was problems with the mobile check ins, so I had to stay awake until 4am to manually check in.  We spent a night there and caught the first flight to go to Kuala Lumpur. It took almost 2 hours flying, then we arrived at the Kuala Lumpur International Airport. We took a bus to Kuala Lumpur Sentral, which cost 9 RM. The bus was full and we arrived to Little India around lunch time. We stopped at one food stall and had our first lunch there.

IMG_0600

A nice policeman lent me his cell phone to call my friend that I would visit. We went to a crowded train station and got tickets to Petronas Tower. It was so hot outside.  Luckily, they had planted a lot of trees, so we could sit down and relax while watching the fountains in front of us. We were in a rush to find the Puduraya bus station to go to Penang. There were so many men who offered us bus tickets with different prices.  Fortunately, I had researched the price and got a reasonable price of 70RM for my mom and me. Our bus was ready and we headed to Penang. In the middle of nowhere we stopped at a gas station. It was weird that we waited there for more than one hour. One of the passengers asked the driver and finally he said that the bus engine was broken. We had to wait for another bus to come and pick us up.

Thankfully there was a minimarket, so we could buy some food to eat before we hopped on to the other bus.  After 5 hours sitting on the bus, we reached Butterworth. A friend of mine was waiting for us and took us for dinner. We were not so hungry, but my friend kept buying me Chinese foods which were so delicious. What a treat J The next day, he took us to have Chinese breakfast called dimsum. We loved that place where we had so much good food. He drove us to Penang by ferry. It took us only 45 minutes and we got to Penang island. When we arrived, my mom was so joyful that she could attend Sunday mass in Cathedral. It was Mother’s Day, and this was what she wanted. The sermon was delivered in English and it closed with Celine Dion’s song “Because of Me.”   Tears came down on my cheek when I heard this song.  The priest spoke blessings for all the moms and moms-to-be in that church. It was a touching moment for me to celebrate this day with my mom.

You were strength when I was weak. You were my voice when I couldn’t speak. You were my eyes when I couldn’t see. You saw the best there was in me. Lifted me up when I couldn’t reach. I’m everything I am because you love me.

IMG_0658We had lunch after the service was over. We went to a food market nearby. We were strong enough and ready for a hike. We headed to Bukit Bendera to see Penang from the top. We had to buy a train ticket to go there. It cost us 30 RM for the return ticket. The train was so full of passengers. There were so many international tourist.  There were Caucasians, Chinese, Arabs, and local people. We were lining up to take pictures with Penang Island in the background. We could see the strait that separates Butterworth and Penang Island. There was a row of rainbow coin-operated binoculars which cost 1 RM.  I went to the secret garden and saw a Venus Fly Trap and some other rare plants. We went hiking to see around the park before we took the train back.

We had a traditional meal called laksa penang. It is a noodle and curry soup. It was so good and we had coconut water to keep ourselves hydrated. We ate some Indian snacks before we visited a Buddhist temple and explored a museum which cost 3 RM.  I loved that museum where we could see the cultural influences in Malaysia. They had acculturation from Indian, Chinese, and Malaysian cultures. Almost all the tools, foods, games that they had in the museum had similarities with Indonesia. We enjoyed driving around Penang Island which had a lot of old buildings and warm weather. We drove across a bridge before we watched a beautiful sunset in Butterworth. Local people were gathered and flew kites, played in the sand, and had picnics near the shore, where we could see the buildings on Penang Island.

We took showers and had dinner at Pizza Hut before we went to the bus station.  As usual, we didn’t know the real price, and each bus office had different pricing. I hoped they didn’t cheat me. The bus was late; an old grandpa was interested in the guitar I had with me. My friend had given it to me.  It was a nice of him, but he covered it with white cloths, so that everyone who saw it wondered what it was. This grandpa was so happy talking to me in Mandarin. I was speaking in my broken Mandarin. He was so funny and gave me his address so I could send him the picture I took of him at the bus station.

IMG_0674

Finally our bus came and we hopped in. The driver was arguing with the passengers and the bus owner looked so angry at them. I think it was best that I closed my eyes and slept. Five hours later we arrived in Malaka. It was 5 a.m., it was dark and we saw McDonalds in front of us. We went there and had breakfast. It was so yummy. I looked for bus information to get to the town. It was raining when we got on the bus at 8. The city looked so empty; there was no one on the street. I looked for a room in the hostel area. Almost all of the receptionists that I met seemed unkind. I felt so uncomfortable to be there. Finally I met the owner of one hostel, named Lavender. He was so nice, he showed me the room, talked about politics and gave me a good price. It costs 50RM per night for bed and breakfast.

IMG_0718

We had a brunch of nasi lemak and fresh juice. We walked around to the old city. We went to a museum. We saw how they lived in Malaka, the kites and all the traditional games that they have. We went to St.Paul’s church and some historical buildings, and saw Malaka from the top. We could see the tallest tower and the sea. We were resting in front of an old church where there was a fountain and a miniature Dutch windmill. There were a lot of tourists in that area. The most attractive thing there were the decorated pedicabs. It was fun walking around the old city with my mom and sometimes stopping in a little café to have a drink or cake.

IMG_0757

It was so hot, but the river looked relaxing.  There were so many museums there but we went on the wrong day, as some of them were closed. We tried cendol durian, which tasted so good in our dry mouths and throats. We finished our trip that day with an early dinner of rice balls and pork ribs. I loved them I wanted to eat it over and over again. The rice balls were so tasty ;0 yummy….  We rested in our room and I went out to get some snacks for the next day. I took a 30 minute night bus ride through Malaka at night for 5 RM. It was so pretty at night, the government put thousands of lights there and the weather was so perfect that night.

I shopped before I went back to hostel and packed up my things. The next morning, we had breakfast and checked out and caught a bus to Singapore. It was a surprise for my mom. She knew that we would explore Johor Bahru but she didn’t have any idea that we were going to Singapore. She was so confused why the immigration officer asked for our passports. She wondered whether Johor Bahru is not part of Malaysia anymore. In the end, I told her that we would go straight to Singapore. The bus ticket was so cheap. It cost 21RM/person from Malaka to Singapore.

IMG_0939When we arrived in Singapore, I couldn’t find the hostel address and there was no wifi area nearby. The local people were not able to help me out. In the middle of distress, I hoped someone would help me to discover the address. Thankfully there were 3 guys hanging out holding their smart phones and allowed me to use one. We took the MRT to get to The Hive Hostel. The interior of the room was okay. We took the MRT again to Orchard Road and had lunch in a mall food court. We took a bus to China town, but were distracted by a 2 year old girl who kept playing with us. We missed China Town and ended up in Jurong. We were lost! But we were fine, we walked into the Jurong Mall and ate some really good food in the terminal. We took another MRT to go to Clarke Quay.

IMG_1023

The weather was so nice; the riverside was so wonderful at night. One Singapore dollar popsicle was perfect for that night. We went to the hostel and fell asleep. In the morning, we had breakfast and bought an MRT ticket to Sentosa Island. It was a sunny day. We prepared water bottles and sunglasses. We explored the tourist island and found the bird park which was so wonderful. We took a lot of pictures before we went to Bugis. We ate the most delicious fish cake and cold noodle before we shopped. We bought a lot of things, then we needed another backpack to carry all the shopping bags. We headed to the Merlion statue from the Esplanade building. The security guards were so confused when they saw us in tanktops and shorts, while the other people were formally dressed to watched a concert I guess.

We were waiting for sunset in front of Marina Bay and unfortunately we heard thunder rolling. We were running to the MRT station and missed exploring Garden by the Bay. We were trapped in heavy rain. Instead of going to the hostel, we went to the food market behind the train station. We ate fish balls, which is a perfect meal in bad rain. We walked in the rain and took hot showers before we slept.  On our last day, we woke up late. It was raining, so it was a good excuse to have cups of tea and a very long breakfast. I finished reading my book and donated it to the book shelf there. I made conversation with some tourists from Australia and Korea before I left.IMG_0950

We took the MRT and brought all the things we had packed to the airport. We were waiting in silence, keeping all the good memories from this trip in our hearts while waiting for the flight back home. All the backpacks that we brought, including the guitar, passed the security check. We had a long laundry time when we got home.  I can’t wait for another trip with my mom ;)

IMG_0980

A Hidden Beach, Sawarna

Image

Saat temanmu dari ke Bandung, pantai mana yang mau kamu tunjukkan padanya? Perjalanan saya kali ini untuk menjamu teman yang sedang berkunjung. Dia menyukai pantai dan menjelajah gua, Sawarna adalah tempat yang cocok untuk dinikmati di akhir minggu. Jumat malam kami bertemu dengan 6 teman kami di salah satu food court mall. Kami memasukkan semua perlengkapan kami di mobil dan bersiap berangkat. Perjalanan jauh harus kami tempuh dari Bandung menuju Sukabumi. Sesampainya di Sukabumi kami beristirahat di pom bensin terdekat. Tepat tengah malam, teman-teman mencicip makanan pedagang pinggir jalan, sedangkan saya memilih untuk tidur.  Tiga jam kemudian kami sedikit terguncang-guncang karena jalan yang kami lalui sangatlah berbatu-batu. Ada kalanya kami harus turun dari mobil, berjalan di gelapnya malam di tengah hutan.

Setalah cukup lama kami meniti hutan akhirnya kami melihat pemukiman warga. Lega rasanya melihat rumah-rumah berjejeran karena salah satu dari rumah itu pastilah homestay yang sudah kami pesan. Sampailah kami di sebuah rumah sederhana yang memiliki dua kamar. Kamar yang kami sewa terdiri dari 4 kasur, 1 kamar mandi dan 1 kipas angin. Kamarnya cukup besar dan bersih, dan saya pun meluruskan badan membaringkan diri. Ayam pun berkokok membangunkan saya, saya sadar telah kehilangan momen sunrise. Ah, badan yang masih lelah ini lebih memilih untuk menyantap sarapan daripada melihat matahari terbit.

Di luar kamar ada teras yang diisi dengan televisi dan beberapa kursi bambu. Barulah saya Imagesadari kalau kami menyewa bungalow 2 kamar, di seberang dan sebelah kami pun ada bungalow lainnya. Tadi subuh malam begitu pekat sehingga saya tidak dapat melihat dengan jelas. Seorang ibu menyapa saya sambil memberikan termos air panas. Segelas air jeruk nipis menyegarkan tenggokkan saya. Saat dia menawarkan sarapan saya pun menganggukkan kepala dengan segera. Nasi goreng dan telor dadar menjadi menu kami pagi itu. Setelah kenyang, kami pun bersiap menuju pantai di belakang homestay. Kami harus melalui jembatan kayu dan berjalan sekitar 15 menit menuju pantai.

Di kiri kanan kami banyaklah rumah penduduk yang dijadikan penginapan dan sawah Imageterbentang hijau di mata kami. Pantai  Ciantir  yang memiliki ombak yang cukup besar ini, dapat dipakai untuk berlatih surfing. Boogie board disediakan di dekat warung makanan dan kami dapat meminjamnya gratis. Kami pun tidak menunggu lama untuk bermain air laut, berenang dan berfoto tentu saja. Matahari bersinar terik, air laut yang asin membuat mata saya perih. Saya pun berjalan menjauhi pantai menuju warung untuk menegak air kelapa muda. Duduk di saung bambu sambil melihat langit biru dihiasi awan-awan putih merupakan hal yang menenangkan jiwa.

Setelah lama bertukar cerita dengan teman baru tentang perjalanan-perjalanan kami sebelumnya, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lagoon Pari. Kami berjalan menyusuri pinggir pantai yang dipenuhi karang. Kakiku terasa berdenyut-denyut setiap kali menginjak karang yang tajam dan merasa sangat nyaman menginjak pasir yang hangat. Hujan mulai membasahi kepala kami, kami bergegas berteduh di rumah pohon sedang yang lain menyantap mie instan di sebuah warung. Ombak datang bergulung-gulung di tengah derasnya hujan. Tak lama kemudian hujan berhenti dan perjalanan ke tempat yang paling indah di Sawarna. Lagoon Pari adalah tempat dimana ada dua batu besar terletak di tengah pantai yang dapat dicapai dengan berenang. Dua batu besar ini sayang sekali tidak dapat dipanjat. Saat air sedang surut, kami dapat berjalan di atas batu yang berwarna indah. Tak terelakkan lagi, tiada hal yang dapat dilakukan selain berfoto dan berenang.

Tak terasa waktu makan siang sudah kami lewati, kami berjalan menuju penginapan dan menikmati ayam goreng dan sayur asem. Kami membersihkan diri dan berjalan menuju Goa Lalay. Lalay berarti kelelawar dalam bahasa Sunda. Hujan deras kembali menguyur kami, sempat kami urungkan niat untuk masuk ke gua tersebut. Seorang warga lokal menyarankan kami untuk melepas sepatu karna hanya menyusahkan jalan kami di gua tersebut. Saya berpikir agak lama untuk meninggalkan sepatu saya di sana.

ImageDaun pisang yang kami pakai sebagai payung tidak berarti apa-apa di tengah hujan yang lebat ini. Perlahan-lahan kami memasuki mulut gua yang telah tergenang air selutut saya. Kami masuk lebih dalam dan menyalakan senter yang kami bawa. Bau pengap dan lembab langsung masuk ke hidung. Mata kami membiasakan diri di gua yang dihiasi oleh stalakmit. Sesekali tur guide kami menjelaskan bentuk stalakmit yang menyerupai binatang atau bentuk tertentu. Semakin dalam semakin lembek tanah yang kami pijak, tingkat kesulitan berjalan pun dirasa oleh teman-teman saya. Tak jarang kami harus merangkak dan terjatuh di tanah yang kami pijak. Akhirnya kami tiba di ujung gua yang buntu. Petualangan di dalam gua kelelawar ini harus berakhir dan kami menyusuri gelapnya gua menuju persawahan yang hijau. Hujan masih menguyur, kali ini kami membiarkan diri kami disiram air hujan karena kotornya badan kami dari lumpur yang ada di gua.

Kami berjalan di pematang sawah menuju sungai terdekat untuk membersihkan diri dari ujung rambut ke ujung kaki. Sepatu saya sudah tidak dapat dikenali lagi warna asalnya, sepertinya dia harus ditinggal di sini. L saya tukar dengan sandal jepit bercap Converse yang berharga Rp 15.000 saja. Kami pulang ke penginapan untuk santap malam. Ikan bakar kecap dan sayur serta nasi hangat memenuhi perut saya. Setelah bermain permainan sederhana, saya memutuskan untuk kembali ke Pantai Ciantir untuk menghitung bintang dan menikmati suara gulungan ombak. Langit cerah dan beberapa bintang menghiasi langit malam itu. Di laut, saya memandang lampu-lampu perahu nelayan yang sedang mencari tangkapannya.

Malam semakin larut dan saya memutuskan untuk beristirahat di kasur busa kamar bungalow. Sekitar jam setengah enam, saya bersiap untuk hiking menuju pantai lainnya untuk melihat sunrise. Kali ini kaki saya harus lebih bekerja keras karena sandal jepit yang saya beli tidak membantu saya mengalahkan lumpur dan tajamnya karang. setapak demi setapak saya jalani dengan seorang teman, di tengah jalan kami melihat sinar matahari muncul dari balik bukit, kami bergegas menuju pantai. Sesampainya di pantai, keringat membasahi rambut dan kaos kami. Matahari bersembunyi di balik awan saat kami tiba di pantai. Kami pun memilih untuk beristirahat di sebuah bangku di bawah pohon sebelum bermain di pantai. Satu demi satu teman kami berdatangan.

ImageSelesai beristirahat, kami mencari sebuah warung untuk sarapan. Tentu saja menu yang dihidangkan hanyalah mie instan. Saya tidak mau makan mie instan di tempat penghasil ikan. Jadi saya memutuskan untuk mendekati perahu nelayan dan melihat hasil tangkapan mereka, sambil menawar harga sewa perahu untuk kembali ke Ciantir. Sayang sekali, tidak ada seorang nelayan pun yang mau mengantar kami ke Ciantir karena ombak yang tinggi. Ada satu nelayan yang ramah mengizinkan saya melihat hasil tangkapannya tadi malam. Ada ikan pari hitam, tenggiri yang besar dan ikan-ikan kecil lainnya. Saya pun menawar salah satu ikan dan menunggu ikan tersebut dibakar.

Sarapan ikan bakar di pinggir pantai membuat saya senang dan melupakan sakit di telapak kaki akibat hiking tadi pagi. Kami menyusuri pantai lagi menuju homestay. Saya plester luka di kaki dan mulai membereskan barang, sebelum kami pergi kami menyantap nasi kuning buatan ibu pemilik penginapan. Dia selalu memasak sayur dan lauk pauk yang enak ditambah sambel terasi yang menggoda selera. Akomodasi perjalanan kali ini sangatlah memadai dan setara dengan uang yang dikeluarkan sekitar Rp 400.000,00 all in. Khususnya dua jempol bagi ibu yang memasak buat kami. Perjalanan panjang kami mulai dari jam 12 siang menuju Sukabumi. Pemandangan hutan nan hijau dan laut yang menyegarkan mata menggoreskan kenangan indah di jiwa. Berbagai permainan kata dimainkan di perjalanan yang kami tempuh selama 7 jam ini. Kami pun beristirahat di sebuah restoran di Sukabumi sebelum ke kota tercinta, Bandung namanya.

 

 
Image

Baduy, Back to Nature

Image

Lebaran 2012, saya memutuskan untuk kembali ke kampung, bersatu dengan alam. Saya yang terlahir di Bandung, tidak pernah merasakan tradisi mudik atau pulang kampung seperti yang dilakukan banyak orang di hari raya. Ada satu teman bernama Didi, dia pernah bercerita tentang pengalamannya di Baduy. Teringatlah saya padanya dan mengajak 2 teman lain untuk bergabung menguak misteri suku ini. Didi menjemput kami di hari Lebaran pertama, dalam prinsipnya hari pertama Idul Fitri adalah saat dimana semua keluarga berkumpul, jadi saatnya kita menggunakan jalan. Bila kami pergi di hari lain, semua kendaraan tumpah ruah di jalanan. Macet berkepanjangan akan membuat kami bosan.

Didi menjemput kami di Ciumbuluit Bandung sekitar jam 5 pagi, dia langsung tancap gas menuju Jakarta untuk menjemput nona Jerman bernama Caro. Tulisan ini didedikasikan untuknya karena saat ini dia sudah kembali ke tanah kelahirannya. Jam 8 kami sampai di Jakarta , Caro bergabung dengan kami dan perjalanan dilanjutkan ke daerah Banten. Didi terus mengemudi sementara kami bergiliran tidur di perjalanan. Jam menunjukkan pukul 11 saat kami sampai di tugu Banten. Kami langsung bergegas menuju warung terdekat untuk membungkus makan siang.

Sebut saja Pak Nana, dia yang akan menjamu kami di rumahnya dan mengantar kami berkeliling. Tujuan pertama kami adalah jembatan gantung. Perjalanan menuju jembatan gantung menggunakan mobil tidaklah mudah, Didi harus mengerahkan semua kemampuan mengemudinya agar mobilnya tidak tergelincir ke jurang. Akses jalan yang dapat dilalui mobil akhirnya terputus, di depan kami hanya jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki atau motor. Kami pun membawa bekal makan siang dan air minum. Di kiri kanan kami terbentang hutan yang lebat. Banyak pepohonan yang ditanam di sini, dipakai untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat Baduy dari sandang sampai papan.

Lingkungannya yang asri membuat saya betah melihatnya. Hijau daun dan udara yang bersih menggantikan penat khas ibukota. Perjalanan masih terus dilanjutkan, sesekali kami berpapasan dengan warga lokal yang tidak menggunakan alas kaki. Saya yang menggunakan sepatu canvas saja kadang terantuk batu, bagaimana dengan nasib kakinya? Barang yang dia bawa pun melebihi apa yang bisa dia tanggung, kadang kumelihat seorang nenek membawa setumpuk rumput, seorang bapa tua dengan beberapa ikat kayu bakar, bahkan anak kecil membawakan hasil bumi lainnya. Tak terlihat raut lelah di wajah mereka, sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh tanpa alas kaki dan membawa banyak barang. Tidak seperti kelompok kami yang bisa dibilang tidak membawa apa-apa tapi tetap mengeluh perjalanan ini berat dan jauh sekali.

Image

Setelah peluh sudah terserap di setiap benang yang menempel di tubuh kami dan kaki sudah tidak kuat lagi berjalan, sampailah kami di depan jembatan gantung itu. Sebuah aliran sungai jernih mengalir di bawahnya. Saat itu musim kemarau, sehingga debit air tidak tinggi. Jembatan gantung ini merupakan jembatan alam yang terjadi karena lilitan kedua akar pohon yang saling menyatu dari kedua belah arah yang berlainan. Menakjubkan! Ada rasa takut saat melewati jembatan ini, bisa-bisa saya jatuh ke sungai bila tidak memperhaikan langkah kaki saya. Ini bukan jembatan beton yang tidak memiliki celah dan berdiri kokoh menghubungkan dua tempat yang seperti saya lihat di perkotaan.

Logika saya mulai berjalan dan menimbang, apakah saya akan jatuh? Sebelum saya berpikir terlalu lama, kaki saya mulai melangkah. Tak hentinya mata saya memandang aliran sungai di bawah kaki saya yang ada sekitar 4 meter dari permukaan air.  Pak Nana yang berbaju hitam sudah langsung mengambil tempat di salah satu akar dan bersandar di sana. Dia mengulum senyum sambil mengamati kami yang berjalan sangat hati-hati menuju ujung jembatan.

Sesampainya di ujung jembatan, langsung kucari tempat teduh di pinggir sungai dan kubuka bekal makan siangku, ketupat dan opor ayam buatan tetanggaku. Inilah rasanya pulang kampung di hari Lebaran, pikirku. Saat menikmati makan siang, kulihat seorang bapa tengah memancing di sungai untuk makan siangnya. Menyenangkan sekali, datang ke sungai, tangkap ikan lalu dimakan. Kulihat Pak Nana hampir tertidur di ayunan besarnya, kami pun beranjak untuk kembali.

Pak Nana mengajak kami untuk bertamu di rumahnya. Kami pun sudah tak sabar melihat kehidupan asli suku Baduy. Suku yang banyak diberitakan menolak ‘peradaban’ dan memilih untuk hidup apa adanya dan bersatu dengan alam. Berjuta pertanyaan melintas di kepalaku. Mengapa mereka tidak mau menggunakan peralatan listrik atau elektronik? Mengapa anak-anak tidak diperkenankan pergi ke sekolah? Mengapa mereka tidak mengenal alas kaki? Akan kutanyakan semua pertanyaanku di kediaman Pak Nana. Kami membawa tas punggung kami dan mulai berjalan menuju gerbang desa Baduy. Ada satu tanda besar di depan kantor desa yang merangkap pintu gerbang wisata kampung ini, papan yang memuat banyak larangan. Ini beberapa larangan yang kuingat, tidak boleh membawa gitar, tidak diperkenankan membawa barang elektonik, tidak membuat kegaduhan di malam hari dan satu lagi orang asing tidak boleh masuk ke Baduy dalam.

Perjalanan kali itu, ada 2 turis asing bersama kami sehingga pupus harapan saya untuk menjelajah Baduy Dalam. Kami hanya akan bermalam di Gajeboh, kampung terdepan Baduy dan mengelilingi desa sekitar. Walau disebutkan kampung terdepan, kami perlu hiking selama lebih dari 1 jam dengan medan yang curam, landai, berbatu-batu, licin hingga ratusan tangga yang harus kami taklukan untuk sampai desa terdekat. Semakin dekat dengan perumahan warga, kami melihat banyak ‘leuit’ saung tempat penyimpanan beras serta alu-alu untuk menumbuk beras. Semua rumah di Baduy tampak serupa tapi tak sama. Mereka membangun rumah panggung mereka dari bambu dan menutupnya dengan anyaman daun sebagai dinding dan atapnya adalah atap sirap yang juga diambil dari tanaman. Ukuran rumah mereka pun hampir tidak ada perbedaan yang berarti seperti yang bisa kita lihat di kota.

Jarang sekali warung saya temukan di tempat ini. Ibu-ibu tampak sibuk menenun di depan rumah mereka. Baju yang mereka kenakan sangatlah sederhana atasan biru tua atau hitam dengan kain batik yang dililit sebagai rok. Dari kejauhan kudengar suara air sungai gemericik menandakan kami sudah dengan lokasi. Sebuah papan berjudul “Selamat Datang di Gajeboh” menyambut kami beberapa meter lagi kami tiba di rumah Pak Nana. Dia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Di Baduy, pasangan yang baru menikah akan membuat rumah yang dibangun secara gotong-royong oleh warga. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat rumah dapat diambil dari hutan.

Udara di Gajeboh sangat sejuk, kami melepas tas punggung dan merebahkan diri di bale-bale depan rumah Baduy yang akan kami tinggali hingga 2 hari ke depan. Salah seorang dari kami ingin ke kamar kecil, ternyata hanya ada sungai tempat kami bersih diri. Ibu-ibu mencuci baju, peralatan makan, mandi serta buang air di sungai yang sama. Kami pun langsung menceburkan diri ke sungai dan membersihkan diri di aliran sungai yang dingin. Awalnya kami merasa segan untuk menggunakan sabun dan shampoo karena akan mencemari lingkungan, tapi kami melakukannya juga demi kebersihan diri sesuai yang kami lihat di iklan televisi.

Sang istri telah menyiapkan makanan untuk kami. Hidangan selera nusantara, nasi, telur goreng, mie instan yang sangat akrab dengan lidah orang Indonesia serta kerupuk. Beginilah kami makan, kata Pak Nana mempersilakan kami menyantap makan malam. Hari semakin gelap, cahaya yang ada hanyalah lilin dari ruang tengah yang juga dipergunakan sebagai kamar tidur dan dapur. Saat kami menginap di sana, Pak Nana dan keluarganya akan tidur di dapur. Rumah yang sederhana, makanan yang seadanya, membuat saya merasa sangat bersyukur dengan apa yang saya punya di rumah.

Di sini orang Baduy merayakan Lebaran yang berbeda dengan orang Islam pada umumnya. Mereka menganut Sunda wiwitan yang menganggap diri mereka adalah turunan dari Nabi Adam yang diberi tugas untuk memelihara tanah yang diberikan. Dalam rangka menjaga alam, mereka menggunakan segala sumber daya dari alam dan kembali menanam sehingga sumber dayanya tidak habis. Mata pencaharian para pria adalah petani sedangkan para ibu adalah penenun. Anak mereka akan diajar sesuai gender mereka, anak laki-laki akan ikut berladang dan anak perempuan belajar menenun. Mereka tidak mempunyai sekolah secara formal, tapi mempunyai sekolah hidup.

Ada beberapa larangan yang harus ditaati di lingkungan ini, mereka tidak boleh memelihara ternak, yang konon hanya akan menimbulkan pertengkaran antar warga. Mereka hanya makan daging ayam bila ada upacara adat yang dipimpin oleh Ketua Adat (Pu’un). Warga yang memiliki warung pun diatur oleh Pu’un sehingga tidak ada persaingan antar warga. Mereka sangat menjadi perasaan antar tetangga maka mereka menyamakan bentuk rumah, pakaian dan melarang warganya untuk berinteraksi dengan masyarakat asing. Masuknya informasi dan teknologi membuat masyarakat menjadi konsumtif dan diyakini akan merubah keseimbangan di daerah ini. Mereka pun diharuskan untuk menikahi warga yang ada di desanya. Bila salah satu peraturan dilanggar, mereka boleh keluar dari komunitas.

Betapa ketat peraturan untuk tinggal di sini, malam semakin larut, gelap pekat menyelimuti Gajeboh, sudah saatnya saya tidur. Panas menjalar di badan saya yang tertutup kantung tidur, saya pun berjalan mencari senter untuk pergi ke kamar kecil. Setengah tidur saya baru ingat, saya harus pergi ke sungai. Tengah malam yang bertabur bintang saya berjalan mengendap-ngendap menuju sungai dan melakukan tugas saya. Berbagai bunyi binatang membuat ramai sungai yang terlihat gelap dan kosong. Semoga tidak ada binatang buas di sini.

Image

Keesokan harinya, Ibu telah membuatkan sarapan yang sama persis dengan menu makan malam kami. Pagi itu, beberapa teman memilih untuk membaca buku yang mereka bawa dan saya menjelajah ke rumah-rumah lain di daerah sana. Saya menemukan sebuah rumah besar yang memiliki banyak kain Baduy dan souvenir lainnya. Siang hari tiba dan saatnya kami menjelajah menuju kampung lain yang berada di sebrang sungai dan hutan. Kami menyebrangi jembatan bambu yang baru saja selesai dikerjakan oleh pemuda desa. Setiap dua tahun sekali pemuda desa bergotong royong mengganti jembatan dan para ibu akan menyiapkan makanan untuk mereka. Semua dilakukan untuk kepentingan komunitas. Alangkah indahnya.

Pepohonan nan rimbun menyapa kami saat kami memasuki hutan. Di sinilah terdapat banyak sumber bahan makanan, Pak Nana menyebutkan beberapa tanaman yang biasa dia konsumsi. Tentu saja mereka punya pisang, nangka, mangga dan kopi serta tumbuhan lainnya yang dapat dimakan juga dijadikan sebagai obat. Kami melihat banyak kayu gelondongan yang tertata rapi di sebelah sungai, kayu tersebut akan dijual ke kota untuk dibuat furniture. Sebagian bapa di kampung sebelah juga menjadi nelayan, mereka terlihat sedang membereskan jaringnya. Beberapa ibu sedang mengerus kopi dan membuat kopi panas untuk warga sekitar. Betapa damainya hidup di sini. Mereka yang tidak mengenal inflasi atau resesi.

Sore itu banyak sekali pelajaran yang kudapat sebelum akhirnya menceburkan diriku ke aliran sungai yang dingin sambil menonton ibu-ibu melakukan tugas rumah tangganya. Malam terakhir di Baduy kami habiskan dengan mengajari Pak Nana bermain kartu UNO dan Phase 10. Kami merasa perlu member tahu sebagian kebudayaan luar kepadanya. Malam kian larut, tawa kami pun harus ditahan sehingga tidak menimbulkan kegaduhan untuk tetangga lain.

Pagi harinya aku mengunjungi rumah ibu yang menjual souvenir, beberapa teman membeli kain dan dia memberiku gantungan kunci kluwak sebagai oleh-oleh. Aku membeli baju yang bertuliskan peribahasa Baduy yang terkenal,

Lojor teu meuang dipotong

Pondok teu meunang disambung

Kurang teu meunang ditambah

Leuwih teu meunang dikurang

 

Yang artinya panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh dsambung, kurang tidak boleh ditambah dan lebih tidak boleh dikurang. Peribahasa ini mengajarkan saya untuk bersyukur pada kehidupan apa yang telah diciptakan Tuhan adalah baik adanya. Perjalanan pulang kampung ini sungguh berarti untuk saya, dimana saya bisa merasakan kedekatan dengan alam serta Yang Maha Kuasa juga merasakan arti kehidupan manusia yang sederhana tapi juga penuh makna. Terima kasih Pak Nana dan keluarga.

 

Image